TALLINN, ESTONIA – Pelayanan publik yang prima tidak hanya memberikan kemudahan fisik, tetapi juga membangun kewarasan psikologis dan rasa bangga warga terhadap sistem negerinya. Filosofi pelayanan inilah yang diresapi oleh para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan saat menempuh jalur pelayaran dua setengah jam dari Kota Helsinki (Finlandia) ke Tallinn (Estonia) di atas armada feri Eckerö Line.

Perjalanan laut yang membelah kawasan Eropa Utara ini diikuti oleh jajaran pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan: Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Rombongan secara sengaja mengeksplorasi seluruh dek lambung kapal untuk melihat bagaimana perusahaan pelayaran di kawasan Nordik-Baltik menjamin keselamatan dan kenyamanan ribuan penggunanya.
Pengalaman menaiki kapal feri Eckerö ibarat memasuki lobi sebuah hotel bintang empat. Para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan disambut oleh kebersihan yang tanpa kompromi serta deretan fasilitas premium. Mulai dari kafe yang menyajikan kopi hangat dengan iringan live music, restoran prasmanan, mini market yang terang benderang, butik pakaian, ruang permainan (game room), hingga lorong-lorong yang menghubungkan ratusan kamar tidur berfasilitas lengkap layaknya kamar hotel.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menguraikan bahwa tata ruang yang sangat manusiawi ini menghilangkan rasa lelah dan stres akibat perjalanan antarkota. Di Indonesia, perjalanan penyeberangan laut sering kali menjadi momok yang menguras fisik dan emosi penumpang akibat fasilitas yang buruk. Eckerö Line membuktikan bahwa angkutan massal dapat dirancang sedemikian rupa agar perjalanan menjadi bagian dari proses healing atau relaksasi itu sendiri.

Menyelaraskan temuan ini dengan kurikulum Sekolah Negarawan, Direktur Prayogi R. Saputra kembali menegaskan pilar pemikiran kenegaraan budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun): bahwa setiap kebijakan negara, termasuk penyediaan transportasi, harus bertujuan mengangkat derajat manusia (memuliakan manusia). Keselamatan jiwa bukanlah sesuatu yang bisa dikompromikan dengan alasan biaya murah, dan kenyamanan bukanlah hak eksklusif yang hanya boleh dinikmati oleh kaum berduit.
Untuk merealisasikan standar kelas dunia tersebut di perairan kepulauan Nusantara, CEO Enygma, Erick Karya, menawarkan pendekatan reformasi berbasis kecerdasan buatan. Ekosistem AI yang dibangun Enygma bersama Sekolah Negarawan dirancang untuk memantau kelayakan transportasi publik secara real-time. Jika teknologi ini diadopsi oleh negara, setiap kapal feri di Indonesia yang terindikasi tidak layak jalan atau kekurangan jaket pelampung tidak akan bisa mencetak tiket pelayaran, sehingga nyawa rakyat kecil tidak lagi menjadi tumbal keteledoran birokrasi.
Kajian transportasi publik dari perairan Baltik ini merupakan salah satu mozaik penting dari ekspedisi intelektual Sekolah Negarawan di 12 negara selama dua tahun terakhir. Kekayaan komparatif dari kawasan Skandinavia, negara IT Estonia, jantung Eropa Barat, peradaban Persia (Iran), Timur Tengah, hingga Asia Tenggara ini, terus menjadi energi literasi yang didiseminasikan tanpa kenal lelah, mulai dari wilayah barat Medan hingga poros timur di Ternate dan Tidore.



