HELSINKI, FINLANDIA – Kekuasaan dan peradaban sering kali diukur dari seberapa tinggi monumen yang mampu dibangun oleh sebuah bangsa. Namun, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan menemukan antitesis yang sangat memukau saat menelusuri Gereja Temppeliaukio di Helsinki, Finlandia; sebuah monumen keimanan yang justru merunduk dan menyembunyikan kemegahannya di balik tumpukan batu karang
Rombongan delegasi yang terjun langsung meresapi keunikan arsitektur tersebut adalah Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Bersama Wiwik H, diaspora Indonesia yang memandu observasi kultural di kawasan Nordik tersebut, ketiganya mengkaji pesan-pesan sosiologis dan kepemimpinan yang tersirat dari bangunan buatan Timo dan Tuomo Suomalainen pada tahun 1969 ini.

Jika dilihat dari luar, Gereja Temppeliaukio nyaris tidak terlihat seperti sebuah rumah ibadah raksasa; ia hanya tampak seperti gundukan batu dengan kubah tembaga yang rata dengan permukaan tanah sekitarnya. Namun, begitu melangkahkan kaki ke dalam, pengunjung akan disuguhi ruang melingkar yang sangat megah, tenang, dan bermandikan cahaya alami yang menembus celah-celah atap kaca. Kemegahan yang tidak dipamerkan ke luar ini merupakan sebuah anomali dalam sejarah arsitektur Eropa.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menilai bahwa desain “menyembunyikan diri” ini adalah metafora sempurna bagi karakter kerendahan hati (tawadhu). Selaras dengan ajaran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang dihidupkan di Sekolah Negarawan, seorang pemimpin sejati bukanlah mereka yang membangun menara kekuasaan yang tinggi untuk pamer kehebatan, melainkan mereka yang menunduk, merakyat, dan menyembunyikan amal kebaikannya demi melayani umat.
Dalam obrolan di bangku gereja tersebut, Rinto Setiyawan dan Wiwik H membahas bagaimana arsitektur yang tidak elitis ini memengaruhi psikologi masyarakat Finlandia. Ketidakhadiran hierarki visual yang mencolok pada bangunan tersebut mencerminkan masyarakat yang egaliter dan setara. Di tempat ini, setiap individu dari berbagai strata sosial, ras, dan kebangsaan duduk sejajar di bawah atap tembaga, meresapi kedamaian yang sama tanpa merasa ada yang lebih superior.
Bagi CEO Enygma, Erick Karya, filosofi “berkarya dari dalam” ini sangat relevan dengan pengembangan arsitektur backbone tata kelola pemerintahan berbasis kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Sistem AI yang dibangun oleh Sekolah Negarawan dan Enygma tidak perlu tampil mencolok atau menakutkan bagi rakyat. Ia harus bekerja secara senyap layaknya fondasi batu karang di Temppeliaukio kokoh, efisien, dan memberikan rasa aman tanpa perlu menunjukkan arogansi teknologis kepada masyarakat awam.
Galian makna kepemimpinan dari batu karang Helsinki ini melengkapi puzel panjang ekspedisi riset Sekolah Negarawan yang telah menyeberangi 12 negara selama dua tahun terakhir. Kekayaan empiris dari kawasan Nordik, negara digital Estonia, peradaban Eropa Barat, Turkiye, Timur Tengah, Persia (Iran), hingga Asia Tenggara ini senantiasa dikonversi menjadi energi literasi bangsa, yang tak lelah didiseminasikan dari Medan di ujung Sumatera hingga Ternate dan Tidore di Maluku Utara.



