BERLIN, JERMAN – Bagaimana sebuah bangsa berdamai dengan trauma sejarahnya dan mengubah simbol penindasan menjadi ruang edukasi publik menjadi fokus kajian para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan ketika menyambangi East Side Gallery di Berlin, Jerman. Kawasan ini merupakan segmen asli dari Tembok Berlin yang berdiri di sektor timur wilayah yang dulunya dikuasai oleh rezim Jerman Timur di bawah pengaruh hegemoni Uni Soviet.
Dalam penjelajahan menyusuri jalan Mühlenstraße tersebut, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan yang terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya mengamati dari dekat ratusan mural ikonik yang dilukis langsung di atas sisi timur tembok. Sisi tembok yang menghadap ke wilayah eks-Jerman Timur ini dulunya merupakan zona terlarang yang putih kaku dan mematikan, sebelum akhirnya dilukis oleh 118 seniman dari 21 negara pada tahun 1990 sesaat setelah Tembok Berlin runtuh.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menjelaskan bahwa transformasi Tembok Berlin menjadi East Side Gallery adalah bukti kemenangan nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan atas kekuasaan militeristik. Ketika rezim otoriter di bawah bayang-bayang Soviet memaksakan keseragaman lewat beton dan kawat berduri, masyarakat justru menjawabnya dengan ledakan kreativitas seni begitu kebebasan itu berhasil direbut kembali.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, mengaitkan fenomena sejarah di Berlin Timur ini dengan fondasi kurikulum Sekolah Negarawan yang berakar pada pemikiran kenegaraan serta kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Menurut Prayogi, Cak Nun sejak puluhan tahun silam selalu mengingatkan bahwa pendekatan kebudayaan dan kesenian memiliki daya tahan yang jauh lebih abadi dibandingkan rekayasa kekuasaan politik yang kaku dan represif.
Di hadapan mural-mural bersejarah yang menyuarakan pesan perdamaian dunia tersebut, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan mendiskusikan bahaya pembelahan sosial yang kerap sengaja diciptakan oleh elit politik demi melanggengkan kekuasaan. Sejarah Tembok Berlin di sektor Soviet ini mengajarkan bahwa kekuasaan yang memelihara ketakutan dan membatasi ruang gerak warga negaranya sesungguhnya sedang menggali lubang keruntuhannya sendiri.
Menjawab tantangan tata kelola di era kontemporer, CEO Enygma, Erick Karya, memaparkan bahwa transparansi adalah kunci utama agar negara tidak kembali terjebak pada praktik-praktik otoritarianisme tertutup ala Perang Dingin. Melalui arsitektur Artificial Intelligence (AI) Enygma yang diintrodusir oleh Sekolah Negarawan, tata kelola pemerintahan didorong untuk bersifat terbuka, partisipatif, dan berbasis data objektif, sehingga tidak ada lagi “tembok rahasia” yang memisahkan pengambil kebijakan dari realitas penderitaan rakyat.
Catatan reflektif dari tepi Sungai Spree di Berlin Timur ini semakin memperkaya khazanah perjalanan dua tahun Sekolah Negarawan yang telah menyambangi 12 negara mulai dari negara dengan sistem pendidikan dan indeks kebahagiaan terbaik di dunia seperti Finlandia, negara eks-Uni Soviet paling maju dalam tata kelola IT yakni Estonia, hingga kawasan Eropa Barat, Turkiye, Persia (Iran), Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Berbagai temuan strategis tersebut terus disebarluaskan kepada masyarakat Indonesia melalui agenda diseminasi rutin dari Medan hingga Ternate dan Tidore.



