Malang — Tiga siswa SD Unggulan Permata Jingga Pakis, Kabupaten Malang, meraih Juara I Ajang Juara Kelas Indonesia 2026 tingkat Regional 6. Prestasi tersebut mengantarkan Asma Khairunnisa, Yahya Al-Fatih, dan Moosa Askari Supriadi melaju ke babak nasional di Jakarta pada 22–31 Oktober 2026. Babak regional berlangsung di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (3/10/2026). Regional 6 dalam kompetisi tersebut mencakup Jawa Timur, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Kepulauan Riau.
Ketiganya meraih posisi teratas setelah melewati rangkaian seleksi yang dimulai secara daring hingga tahap tatap muka. Proses tersebut tidak hanya menuntut penguasaan materi, tetapi juga kesiapan siswa menghadapi situasi kompetisi secara langsung.

Di balik capaian tersebut terdapat proses pembinaan yang dilakukan secara bertahap. Tim pendamping SD Unggulan Permata Jingga yang terdiri dari Sakina Tunnisa, S.Pd., Nikmatul Jannah, S.Pd.Gr., Dr. Jamal Abdul Nasir, M.M., dan Dra. Tutik Maharini, S.Psi., mendampingi siswa dengan memperhatikan kemampuan akademik sekaligus kesiapan mental.
Pendampingan diarahkan pada penguatan kemampuan berpikir, kedisiplinan, penguasaan teknologi, serta keberanian menghadapi tekanan kompetisi. Pola tersebut juga tidak dilepaskan dari peran keluarga yang memberikan ruang bagi anak untuk belajar melalui pengalaman di luar sekolah.
Pendidikan Bukan Proses Instan
Proses tersebut memiliki keterkaitan dengan gagasan pendidikan yang kerap disampaikan budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Dalam salah satu pemikirannya, ia menggunakan perumpamaan tentang buah yang matang secara alami untuk menggambarkan pentingnya kesabaran dalam mendidik anak.
“Zaman sekarang orang inginnya serba cepat dan serba instan. Padahal buah yang matang di pohon jauh lebih nikmat dan sehat dibanding buah yang dipaksa matang dengan karbitan. Mendidik anak itu melatih kesabaran menanti kematangan alami.”
Gagasan tersebut pada dasarnya menekankan bahwa pertumbuhan anak tidak dapat dipaksakan hanya untuk memenuhi target orang dewasa. Seperti buah yang membutuhkan waktu untuk matang, kemampuan, karakter, dan kepercayaan diri seorang anak juga membutuhkan proses.
Dalam perspektif ini, keberhasilan seorang anak tidak semata-mata diukur dari seberapa cepat ia memperoleh prestasi. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak menjalani proses, memahami pengalaman, belajar menghadapi kegagalan, dan tumbuh menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab atas kemampuannya.
Karena itu, pendidikan tidak cukup dilakukan dengan menjejalkan materi atau mengejar hasil kompetisi. Anak membutuhkan lingkungan yang memberikan kesempatan untuk mencoba, bertanya, mengambil keputusan, berinteraksi, dan belajar dari pengalaman.
Prinsip tersebut menjadi relevan dalam proses pembinaan Asma, Yahya, dan Moosa. Prestasi di tingkat regional ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan belajar, bukan sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Peran Keluarga di Balik Prestasi
Selain sekolah, keluarga memiliki peran penting dalam menyediakan ruang belajar bagi anak di luar lingkungan akademik. Orang tua tidak hanya mendampingi kegiatan belajar, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas. Pengalaman di luar kelas tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter. Anak belajar berkomunikasi, beradaptasi, memahami perbedaan, serta membangun kepercayaan diri melalui pengalaman langsung.
Dengan pola tersebut, pendidikan berlangsung dalam dua ruang yang saling melengkapi. Sekolah memberikan pembelajaran terstruktur, sedangkan keluarga memperkuat nilai, kebiasaan, dan pengalaman yang dibutuhkan anak dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan itu membuat proses persiapan kompetisi tidak hanya berisi latihan soal dan penguasaan materi. Siswa juga dipersiapkan agar mampu mengelola tekanan, menjaga konsentrasi, dan tetap percaya diri ketika berhadapan dengan peserta dari daerah lain.

Bersiap ke Tingkat Nasional
Setelah meraih Juara I Regional 6, ketiga siswa kini mempersiapkan diri menghadapi babak nasional. Sekolah bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Malang melakukan pemantapan materi sekaligus menjaga kondisi fisik dan psikologis siswa. Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, Drs. Langgeng Supriyanto, M.Pd., mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ketiga siswa menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi satuan pendidikan di Kabupaten Malang.
“Capaian ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi satuan pendidikan lain di Kabupaten Malang. Kita doakan bersama agar anak-anak kita dapat tampil optimal, percaya diri, dan membawa hasil terbaik bagi Jawa Timur di tingkat nasional,” ujar Langgeng.
Babak nasional Ajang Juara Kelas Indonesia 2026 akan berlangsung di Jakarta pada 22–31 Oktober 2026. Para juara dari berbagai regional akan kembali berkompetisi untuk memperebutkan gelar Juara Nasional. Bagi Asma, Yahya, dan Moosa, perjalanan menuju Jakarta bukan hanya tentang mengejar gelar juara. Kompetisi tersebut menjadi ruang berikutnya untuk menguji kemampuan, menambah pengalaman, dan menjalani proses pendewasaan sebagai bagian dari perjalanan pendidikan mereka.



