MALANG— Tiga siswa SD Unggulan Permata Jingga, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, sukses mengukuhkan diri sebagai Juara I Regional Jawa Timur dalam ajang Kompetisi Juara Kelas Indonesia 2026. Capaian ini sekaligus memastikan langkah Asma Khairunnisa, Yahya Al-Fatih, dan Moosa Askari Supriadi untuk melenggang membawa nama Jawa Timur ke ajang tingkat nasional di Jakarta pada 22–31 Oktober 2026 mendatang.
Kemenangan tersebut diraih setelah ketiganya menunjukkan performa terbaik pada babak final regional yang diselenggarakan oleh Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur pada 2–4 Oktober 2026 di Surabaya. Melalui pendampingan intensif dari tim guru yaitu Sakina Tunnisa, S.Pd., Nikmatul Jannah, S.Pd.Gr., Dr. Jamal Abdul Nasir, M.M., dan Dra. Tutik Maharini, S.Psi. Ketiga siswa dibekali dengan keseimbangan antara kecerdasan akademis, kedisiplinan, serta penguatan karakter berlandaskan nilai-nilai akhlak dan penguasaan teknologi.

Di antara ketiga peserta terbaik tersebut, sosok Yahya Al Fatih menyimpan rekam jejak pengasuhan dan pendidikan karakter yang cukup unik. Siswa kelas V SD Unggulan Permata Jingga ini tidak hanya terlatih dalam kompetisi akademik, melainkan telah dikenalkan dengan wawasan kebangsaan dan dialog peradaban sejak usia sangat muda sebagai Kader Cilik Sekolah Negarawan.
Putra dari Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP, ini dibentuk melalui sinergi antara bimbingan sekolah, pengasuhan keluarga, dan ruang perjumpaan luar sekolah. Proses belajar Al Fatih tercatat membentang dari panggung lokal hingga internasional, mulai dari tampil dalam acara “Doa untuk Indonesia” di Universitas Negeri Malang pada 2024, membacakan pidato kedaulatan rakyat di Istana Dam Amsterdam pada April 2026, hingga berdialog dengan intelektual Iran Dr. Abdolreza Alami di Kuala Lumpur pada Agustus 2026.
Teranyar, sebelum berlaga di BBPMP Jawa Timur, Al Fatih juga terlibat dalam forum diskusi Tafsir Nadjibiyah “Serambi Peradaban Nusantara-Persia” bersama Gamelan KiaiKanjeng dan Atase Kebudayaan Iran Dr. Yahya Jahangiri di Kadipiro, Yogyakarta, pada akhir September 2026.

Pola pembentukan karakter yang dialami Al Fatih dan kawan-kawannya sejalan dengan nilai-nilai filosofi pendidikan yang kerap ditekankan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Dalam pandangannya, pendidikan anak sejatinya diletakkan di atas empat bekal mendasar: akhlak, kedisiplinan, kemampuan memperhitungkan risiko, serta penguasaan teknologi informasi.
“Anak-anakmu tidak diajari untuk menjadi orang yang pandai, tapi diajari untuk mencari kebenaran dan ilmu. Karena kalau orang sudah mengerti ilmu, dia akan tahu mana yang benar dan mana yang salah. Nilai di sekolah itu cuma angka, tapi pemahaman adalah kehidupan.” Emha Ainun Nadjib (Sumber: Daur & Sinau Bareng Maiyah)
Prinsip tersebut dipadukan dengan falsafah Maiyah yang disukai Cak Nun, “Tukul winih-winihku” (tumbuhlah benih-benihku). Keduanya menegaskan bahwa tugas utama guru dan orang tua bukanlah memaksa anak memenangi piala semata, melainkan merawat “benih” potensi bawaan anak agar tumbuh secara utuh dan bijaksana.
“Pendidikan yang sejati itu tidak memaksakan pohon mangga berbuah apel. Tugas guru dan orang tua adalah menyiram dan merawat pohon itu agar tumbuh menjadi mangga yang paling manis dan rindang.” Emha Ainun Nadjib (Sumber: Buku “Markesot Bertutur” & Ceramah Maiyahan)
Mendidik calon pemimpin bangsa dipandang bukan sebagai proses instan saat dewasa, melainkan investasi panjang sejak dini yang menyeimbangkan antara prestasi akademik, kekuatan moral, dan keberanian berpikir.
Kini, Asma Khairunnisa, Yahya Al-Fatih, dan Moosa Askari Supriadi tengah mematangkan persiapan akhir menuju babak nasional di Jakarta. Keberhasilan mereka diharapkan tidak hanya mengharumkan nama Kabupaten Malang dan Jawa Timur, tetapi juga menjadi bukti bahwa prestasi tinggi lahir dari ekosistem pendidikan yang harmonis antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.



