DEN HAAG — Den Haag tidak hanya berisi gedung-gedung pengadilan internasional dan birokrasi pemerintahan Belanda. Kota ini juga menjadi rumah bagi keberagaman kultural yang kaya, salah satunya tecermin dari berdirinya Mescidi-Aksa Moskee. Bagi Sekolah Negarawan, masjid ini adalah laboratorium sosial yang sempurna untuk mempelajari tata kelola komunitas diaspora.
Kunjungan delegasi Sekolah Negarawan yang terdiri dari Prayogi R. Saputra, Rinto Setiyawan, Ahmad Syafii Kamil, dan Erick Karya ke masjid ini membuka wawasan baru tentang manajemen rumah ibadah di negara sekuler. Mescidi-Aksa tidak dikelola secara serampangan; masjid ini memiliki administrasi yang rapi, terintegrasi dengan kebutuhan komunitas, dan mematuhi regulasi tata ruang kota Den Haag dengan sangat disiplin.

Erick Karya, CEO Enygma Solusi Negeri yang memiliki latar belakang teknologi perkotaan, menyoroti efisiensi desain dan manajemen fasilitas publik di masjid tersebut. Menurutnya, pemanfaatan ruang yang optimal dan sistem sanitasi di area wudu menunjukkan bahwa rumah ibadah dapat dikelola dengan standar pelayanan publik yang sangat tinggi dan modern.
Dari sisi kultural, masjid ini menawarkan pemandangan yang menyegarkan bagi delegasi asal Indonesia. Mayoritas jamaah Turki di sini bermazhab Hanafi. Praktik ini membawa implikasi pada desain arsitektur, di mana area wudu didesain dengan bangku-bangku kecil agar jamaah bisa duduk saat membasuh anggota tubuh, sebuah adaptasi rasional yang sangat memudahkan, terutama bagi lansia.
Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, mencatat bahwa harmoni tata cara ibadah ini sangat penting dipelajari. Di Indonesia, perbedaan kecil dalam tata cara ibadah sering kali memicu perdebatan. Namun, di Mescidi-Aksa, perbedaan mazhab mengalir begitu wajar dan terakomodasi dengan baik dalam desain infrastrukturnya.
Ahmad Syafii Kamil menambahkan bahwa keberadaan masjid Turki yang megah di Eropa membuktikan bahwa identitas kultural dan agama dapat berdampingan secara damai dengan nilai-nilai masyarakat Barat. Pembelajaran mendalam dari Mescidi-Aksa ini akan menjadi materi pengayaan yang berharga dalam kurikulum kepemimpinan inklusif di Sekolah Negarawan.



