Oleh: Tim Delegasi Sekolah Negarawan
ANTWERPEN – Jika Anda berdiri di alun-alun Groenplaats di Antwerpen, mata Anda pasti akan langsung tertuju pada satu struktur yang menusuk langit: menara lonceng Cathedral of Our Lady. Pada September 2025 lalu, mendelegasikan langkah ke kota pelabuhan terbesar kedua di Eropa ini, kami dari Sekolah Negarawan tidak sekadar datang untuk mengagumi keindahan arsitektur Gotik. Kami datang untuk menziarahi sebuah monumen tentang kegigihan, ketangguhan, dan visi kepemimpinan lintas generasi.

Dipimpin oleh Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta didampingi CEO Enygma Erick Karya dan perwakilan Chapter Eropa Imam Syafiih Kamil, kami merenungkan sejarah bangunan ini. Katedral ini mulai dibangun pada abad ke-14 dan baru dianggap selesai nyaris 170 tahun kemudian. Artinya, arsitek pertama yang meletakkan batu pertamanya tahu persis bahwa ia tidak akan pernah melihat bangunan ini selesai di masa hidupnya. Inilah definisi sejati dari visi kepemimpinan jangka panjang.
Direktur Prayogi mencatat hal ini sebagai refleksi kritis bagi kepemimpinan di Indonesia. Seringkali, kebijakan pembangunan kita terbelenggu oleh siklus pemilu lima tahunan. Proyek-proyek mendesak untuk segera digunting pitanya demi pencitraan, mengorbankan kualitas dan visi jangka panjang. Katedral Antwerpen mengajarkan bahwa seorang negarawan sejati membangun bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk generasi cucu-cicitnya yang belum lahir.

Memasuki katedral, kami disambut oleh mahakarya pelukis legendaris Peter Paul Rubens. Wakil Direktur Rinto Setiyawan menggarisbawahi bagaimana seni dan budaya ditempatkan di posisi tertinggi dalam peradaban Eropa. Katedral ini bukan sekadar tumpukan batu; ia adalah galeri raksasa yang merawat jiwa seni masyarakatnya. Pemimpin kita harus menyadari bahwa infrastruktur tanpa sentuhan seni dan kebudayaan hanyalah raga tanpa jiwa.
Dari sisi teknokratis, Erick Karya melihat katedral ini sebagai mahkota dari tata kota Antwerpen. Walaupun kota ini telah menjelma menjadi pusat perdagangan berlian dan pelabuhan super modern, katedral tetap menjadi titik nol (zero point) orientasi kota. Manajemen tata ruangnya sangat ketat menjaga agar tidak ada gedung pencakar langit yang menutupi siluet katedral, membuktikan bahwa modernisasi tidak harus membunuh nilai-nilai warisan leluhur.
Bersama Imam Syafiih Kamil, kami juga menyadari betapa kuatnya peran komunitas lokal dalam menjaga warisan ini dari berbagai gempuran zaman mulai dari kebakaran besar hingga perang dunia. Ketangguhan (resilience) sebuah bangsa teruji dari seberapa gigih mereka melindungi identitas sejarahnya dari kehancuran.
Bagi calon-calon pemimpin yang dididik di Sekolah Negarawan, pengalaman di Antwerpen ini harus menjadi cetak biru pemikiran. Saat kita sibuk merancang kawasan-kawasan baru seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) atau merevitalisasi kota-kota lama di Indonesia, kita harus bertanya: apakah kita sedang membangun ‘katedral’ peradaban kita sendiri? Bangunan dan kebijakan yang kita rintis hari ini haruslah memiliki pondasi yang cukup kuat untuk diteruskan dan dikagumi oleh bangsa kita berabad-abad dari sekarang.



