TEHERAN — Dunia bergerak semakin cepat dan perubahan terjadi hampir bersamaan dalam berbagai bidang kehidupan. Perkembangan teknologi, ekonomi, keamanan, serta hubungan antarnegara menghadirkan tantangan baru yang membutuhkan kemampuan membaca keadaan secara menyeluruh. Dalam situasi tersebut, pemimpin yang hanya mengandalkan pengalaman masa lalu berisiko kehilangan kemampuan untuk memahami arah perubahan.
Kemampuan membaca perubahan dunia menjadi salah satu pelajaran yang diperoleh delegasi Sekolah Negarawan dari rangkaian agenda selama berada di Teheran. Pembahasan mengenai kepemimpinan Iran memberikan perspektif bahwa ilmu tidak cukup ditempatkan sebagai bekal akademik semata. Ilmu harus menjadi instrumen untuk memahami realitas, membaca perubahan, dan menentukan langkah yang tepat.
Seorang pemimpin perlu memahami apa yang sedang terjadi, mengapa suatu persoalan muncul, serta ke mana arah perubahan tersebut bergerak. Kemampuan itu membutuhkan wawasan yang luas dan tidak dapat dibangun hanya dengan memahami persoalan masa kini. Seorang pemimpin juga perlu memahami sejarah agar mampu melihat hubungan antara berbagai peristiwa yang membentuk keadaan sekarang.
Tanpa pemahaman sejarah, sebuah bangsa dapat melihat setiap persoalan sebagai kejadian yang berdiri sendiri. Padahal, banyak persoalan yang muncul hari ini merupakan hasil dari proses panjang yang berlangsung selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Sejarah membantu seorang pemimpin menemukan akar persoalan sehingga keputusan yang diambil tidak hanya bersifat reaktif.
Perspektif tersebut menjadi salah satu perhatian Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD. Bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf, Prayogi mengikuti berbagai agenda selama kunjungan Sekolah Negarawan di Iran. Rangkaian pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk memahami pengalaman negara lain dari berbagai sudut pandang.
Bagi Sekolah Negarawan, mempelajari pengalaman Iran tidak berarti menerima seluruh cara pandang atau pendekatan yang digunakan negara tersebut. Pengalaman negara lain justru perlu dibaca secara kritis dengan mempertimbangkan latar belakang sejarah, kondisi masyarakat, serta tantangan yang dihadapi. Dengan cara tersebut, pembelajaran dapat menghasilkan pemahaman yang lebih objektif dan tidak berhenti pada kekaguman terhadap suatu model.
Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa suatu bangsa mengambil keputusan tertentu. Pengalaman sejarah apa yang memengaruhi keputusan tersebut, bagaimana pemimpinnya membaca perubahan lingkungan, dan bagaimana masyarakat merespons perubahan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Pertanyaan semacam ini membantu seorang calon pemimpin memahami bahwa setiap keputusan memiliki latar belakang dan konsekuensi.
Kemampuan membaca dunia juga berkaitan dengan kemampuan menghubungkan berbagai persoalan. Kondisi ekonomi dapat memengaruhi kehidupan masyarakat, sementara perkembangan teknologi dapat mengubah pola kerja, keamanan, pendidikan, dan hubungan antarnegara. Karena itu, seorang pemimpin membutuhkan cara pandang yang utuh agar tidak melihat suatu persoalan hanya dari satu sisi.
Pemimpin yang mampu melihat hubungan antarpersoalan akan memiliki dasar yang lebih kuat dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, pemimpin yang melihat setiap masalah secara terpisah dapat menyelesaikan persoalan jangka pendek tetapi tanpa disadari menciptakan persoalan baru dalam jangka panjang. Kemampuan memahami hubungan sebab dan akibat menjadi bagian penting dari kecakapan kepemimpinan.
Dari perspektif pendidikan negarawan, inilah pentingnya ilmu dalam kepemimpinan. Ilmu bukan sekadar kemampuan menghafal informasi atau menguasai teori tertentu. Ilmu harus menghasilkan kemampuan memahami hubungan sebab akibat, membaca pola, menguji informasi, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, serta mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.
Sejarah kemudian dapat dipandang sebagai sebuah peta yang membantu manusia memahami perjalanan sebuah bangsa. Sejarah memang tidak memberikan jawaban otomatis terhadap persoalan masa kini, tetapi sejarah dapat membantu menunjukkan dari mana sebuah persoalan berasal. Dengan pemahaman tersebut, seorang pemimpin dapat melihat masa kini secara lebih jernih dan memperkirakan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di masa depan.
Karena itu, pelajaran yang diperoleh Sekolah Negarawan dari Teheran bukan hanya mengenai sejarah dan pengalaman Iran. Lebih jauh, delegasi Sekolah Negarawan mendapatkan perspektif mengenai pentingnya membentuk pemimpin yang mampu membaca tiga dimensi sekaligus. Masa lalu diperlukan untuk memahami akar persoalan, masa kini menjadi ruang untuk mengambil keputusan, sedangkan masa depan menjadi arah yang harus dipersiapkan.
Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan membaca ketiga dimensi tersebut menjadi semakin penting. Pemimpin tidak cukup hanya pintar dalam memahami teori atau memiliki pengalaman panjang dalam menjalankan tugas. Pemimpin juga harus memiliki kemampuan membaca perubahan, mengantisipasi tantangan, dan menentukan arah agar masyarakat tidak sekadar mengikuti perubahan, tetapi mampu mempersiapkan diri menghadapi masa depan.



