TEHERAN — Pendidikan kepemimpinan tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana seseorang memperoleh dan menggunakan kekuasaan. Kemampuan mengendalikan diri justru menjadi fondasi penting sebelum seseorang menerima tanggung jawab untuk memimpin orang lain. Seorang pemimpin perlu memiliki kekuatan karakter agar kewenangan yang dimilikinya tetap diarahkan untuk kepentingan masyarakat.
Pandangan tersebut menjadi salah satu refleksi Sekolah Negarawan setelah mengikuti Gala Dinner konferensi di Teheran yang membahas keteladanan Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei. Pembahasan mengenai kesederhanaan kedua tokoh tersebut memberikan perspektif mengenai hubungan antara karakter pribadi dan tanggung jawab kepemimpinan. Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai bagaimana seorang pemimpin seharusnya mempersiapkan dirinya sebelum menerima amanah yang lebih besar.
Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra PhD mengatakan bahwa pembahasan mengenai kesederhanaan pemimpin memberikan perspektif penting dalam pendidikan negarawan. Menurutnya, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan membedakan antara kebutuhan pribadi dan kepentingan masyarakat. Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika seseorang memiliki kewenangan yang besar dan akses terhadap berbagai fasilitas.
Jabatan memberikan banyak kemungkinan kepada seseorang sehingga semakin besar kewenangan yang dimiliki, semakin besar pula kemampuan pengendalian diri yang dibutuhkan. Tanpa pengendalian diri, kewenangan dapat dengan mudah bergeser dari amanah menjadi sarana untuk memenuhi kepentingan pribadi. Sebaliknya, pemimpin yang mampu mengendalikan dirinya akan lebih mudah menempatkan jabatan sebagai tanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Dalam perspektif tersebut, zuhud tidak hanya dipahami dalam konteks kehidupan pribadi. Zuhud juga dapat diterjemahkan sebagai sikap mental dalam menggunakan kekuasaan, terutama kemampuan untuk tidak diperbudak oleh materi, kedudukan, dan fasilitas. Seorang pemimpin yang memiliki sikap zuhud tidak menjadikan jabatan sebagai alat untuk memenuhi ambisi pribadi, tetapi menempatkan kewenangan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Pandangan mengenai kesederhanaan Imam Khomeini dan Imam Ali Khamenei yang muncul dalam forum menjadi bahan refleksi bagi delegasi Sekolah Negarawan. Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan Direktur International Affairs Abdullah Assegaf turut mengikuti rangkaian agenda dan diskusi yang membahas berbagai aspek kepemimpinan tersebut. Pengalaman itu memperluas pembelajaran delegasi mengenai hubungan antara keteladanan pribadi dan tanggung jawab seorang pemimpin.
Bagi Sekolah Negarawan, keteladanan personal memiliki posisi strategis karena masyarakat tidak hanya belajar dari pernyataan seorang pemimpin. Masyarakat juga belajar dari cara pemimpin menjalani kehidupannya sehari-hari. Cara memperlakukan orang lain, menggunakan fasilitas, menghadapi kritik, menjaga disiplin, dan menjalankan kewenangan menjadi bagian dari pendidikan publik yang berlangsung tanpa banyak disadari.
Karena itu, kualitas seorang pemimpin dapat menjadi cermin bagi budaya organisasi yang dipimpinnya. Jika seorang pemimpin terbiasa dengan disiplin, tanggung jawab, dan kesederhanaan, nilai tersebut berpotensi tumbuh dalam lingkungan di sekitarnya. Sebaliknya, apabila seorang pemimpin menjadikan kewenangan sebagai ruang untuk memenuhi kepentingan pribadi, kebiasaan tersebut juga berpotensi memengaruhi budaya organisasi.
Pelajaran tersebut dinilai relevan untuk pendidikan kepemimpinan di Indonesia. Meskipun tidak semua aspek pengalaman Iran dapat diterapkan di Indonesia, prinsip mengenai integritas, tanggung jawab, dan pengendalian diri dapat menjadi nilai yang dipelajari secara universal. Setiap negara memiliki sejarah dan karakter yang berbeda, tetapi kebutuhan terhadap pemimpin yang mampu menjaga dirinya tetap menjadi persoalan yang sama.
Sekolah Negarawan memandang bahwa pemimpin masa depan harus dibentuk bukan hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga dengan kekuatan karakter. Pengetahuan dapat membantu seseorang memahami persoalan, sementara karakter menentukan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan ketika seseorang memiliki kewenangan. Karena itu, pendidikan kepemimpinan harus memberikan ruang yang seimbang bagi pengembangan ilmu, moral, tanggung jawab, dan keteladanan.
Seorang pemimpin pada akhirnya akan menghadapi situasi ketika tidak ada aturan yang secara eksplisit menentukan setiap pilihan yang harus diambil. Pada saat itulah karakter menjadi penentu karena keputusan tidak hanya bergantung pada aturan, tetapi juga pada nilai yang hidup dalam diri seorang pemimpin. Dalam keadaan tersebut, kesederhanaan, integritas, dan kemampuan mengendalikan diri menjadi ukuran penting dari kualitas kepemimpinan.
Dari Teheran, refleksi tersebut menjadi salah satu pelajaran yang dibawa pulang Sekolah Negarawan. Kekuasaan yang besar membutuhkan pengendalian diri yang semakin kuat agar tetap berada dalam koridor amanah dan tanggung jawab. Sebelum mampu mengendalikan organisasi dan menjalankan kewenangan, seorang pemimpin harus terlebih dahulu mampu mengendalikan dirinya sendiri.



