By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sunday, 23 August 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Berita Terkini > Ketika Ziarah Menjadi Gerakan: Kompleks Sayyidah Ma’sumah dan Lahirnya Kesadaran Revolusioner di Qom
Berita Terkini

Ketika Ziarah Menjadi Gerakan: Kompleks Sayyidah Ma’sumah dan Lahirnya Kesadaran Revolusioner di Qom

beritaX
Last updated: August 22, 2026 1:10 pm
By beritaX
Share
8 Min Read
SHARE

QOM, IRAN — Sebuah kompleks makam biasanya identik dengan kesunyian, doa, dan ziarah. Namun di Qom, Iran, kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah memiliki cerita yang jauh lebih luas. Di sekitar tempat suci ini, selama puluhan tahun, agama tidak hanya dipelajari dan dipraktikkan, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika sosial yang pada akhirnya ikut membentuk sejarah politik Iran modern.

Contents
Dari tempat ziarah menjadi ruang publikKhomeini dan ruang pendidikan yang berubah menjadi arena perlawananKetika madrasah diserangKompleks makam dan mobilisasi 1978Revolusi tidak lahir dalam satu malamPelajaran dari sebuah kompleks keagamaan

Bagi Tim Sekolah Negarawan yang mengunjungi kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah, tempat ini menawarkan perspektif menarik tentang hubungan antara spiritualitas, pendidikan dan perubahan sosial. Rombongan disambut oleh Kantor Urusan Internasional kompleks tersebut dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat, disertai ramah tamah dan pertukaran pandangan mengenai kebudayaan Islam.

Di balik kemegahan arsitektur dan tradisi ziarahnya, kompleks ini menyimpan kisah tentang bagaimana Qom berkembang menjadi salah satu pusat spiritual dan intelektual yang sangat penting dalam sejarah Revolusi Islam Iran.

Dari tempat ziarah menjadi ruang publik

Posisi makam Sayyidah Ma’sumah membuat kawasan tersebut tidak pernah sepenuhnya menjadi ruang privat bagi kalangan ulama.

Peziarah datang dari berbagai wilayah. Pedagang berinteraksi dengan jamaah. Pelajar agama memenuhi madrasah. Ulama memberikan pengajaran. Masyarakat datang untuk beribadah sekaligus bertemu dengan jaringan sosial mereka.

Situasi seperti ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai ruang publik keagamaan.

You Might Also Like

Partai X Kritik Kesiapan Infrastruktur Digital dan Hak Pekerja di Balik WFA
Sritex Rombak Besar-besaran! PHK Massal, Bagaimana Nasib Para Pekerja: Solusi dari Partai X?
Celah Hukum Sengketa Kepabeanan: Gugatan di Pengadilan Pajak Kerap Mentok
Apa yang Terjadi Saat Indonesia Mengalami Krisisis Total?

Dalam ruang semacam itu, gagasan tidak hanya disampaikan melalui buku atau ruang kelas. Ia bergerak melalui percakapan, pengajian, khutbah, pertemuan, jaringan guru dan murid, hingga hubungan antara ulama dengan masyarakat.

Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa Qom telah lama menjadi pusat pembelajaran agama sekaligus kota ziarah bagi makam Hazrat Ma’sumah. Kebangkitan kembali madrasah-madrasah Qom pada abad ke-20 kemudian menjadikan kota ini secara bertahap sebagai salah satu pusat spiritual Iran. (Iranica Online)

Karena itu, kekuatan Qom bukan hanya terletak pada bangunan-bangunannya, tetapi pada jaringan manusia yang hidup di dalam dan di sekitar bangunan tersebut.

Khomeini dan ruang pendidikan yang berubah menjadi arena perlawanan

Di antara bangunan yang memiliki posisi penting dalam sejarah tersebut adalah Madrasah Feyziyeh, yang berada di kawasan pendidikan keagamaan Qom dan berdekatan dengan kompleks makam Sayyidah Ma’sumah.

Di tempat ini Imam Ruhollah Khomeini pernah mengajar dan menyampaikan pengajian. Kuliah-kuliahnya bahkan menarik masyarakat umum, bukan hanya para pelajar agama. Menurut catatan sejarah, masyarakat Qom dan para pelajar ilmu agama menghadiri pengajarannya, sementara sebagian orang bahkan datang dari Tehran dan Isfahan untuk mendengarkannya. (Iranica Online)

Hal tersebut penting untuk memahami karakter gerakan Khomeini.

Ia tidak membangun pengaruhnya hanya melalui struktur politik formal. Pengaruh itu tumbuh dari hubungan antara guru, murid, ulama dan masyarakat.

Ruang pendidikan dengan demikian berubah menjadi ruang pembentukan kesadaran.

Pada masa pemerintahan Shah, kondisi tersebut semakin sensitif. Pemerintah berusaha membatasi pengaruh ulama terhadap masyarakat di luar institusi pendidikan agama. Kuliah Khomeini bahkan pernah dipindahkan dari Feyziyeh ke madrasah lain yang lebih kecil karena popularitasnya. (Iranica Online)

Namun setelah Reza Shah turun pada 1941, pengajaran Khomeini kembali ke Feyziyeh dan memperoleh kembali popularitasnya.

Ketika madrasah diserang

Konfrontasi antara negara dan jaringan keagamaan Qom mencapai salah satu titik penting pada 22 Maret 1963.

Pasukan pemerintah menyerang Madrasah Feyziyeh, tempat Khomeini mengajar dan menyampaikan ceramah. Peristiwa tersebut memperdalam konflik antara pemerintahan Shah dan kalangan ulama. (Iranica Online)

Serangan terhadap sebuah madrasah memiliki makna yang jauh melampaui kerusakan fisik.

Bagi masyarakat yang menjadikan madrasah sebagai tempat pendidikan agama, serangan tersebut dapat dipahami sebagai serangan terhadap ruang yang dianggap penting bagi kehidupan keagamaan mereka.

Beberapa bulan kemudian, pada peringatan Asyura, Khomeini kembali menggunakan Feyziyeh sebagai panggung untuk menyampaikan kritik keras terhadap Shah.

Pidato tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan politik Khomeini. Setelah ia ditangkap, demonstrasi besar pecah di berbagai kota. Peristiwa 15 Khordad 1963 kemudian dipandang sebagai salah satu titik balik dalam sejarah Iran modern dan sebagai pendahulu penting Revolusi 1978–1979. (Iranica Online)

Dengan demikian, Feyziyeh menjadi salah satu contoh bagaimana ruang pendidikan keagamaan dapat berubah menjadi ruang artikulasi politik.

Kompleks makam dan mobilisasi 1978

Hubungan antara kompleks Sayyidah Ma’sumah dan gerakan revolusioner kembali terlihat secara dramatis pada awal 1978.

Pada 7 Januari 1978, sebuah artikel di surat kabar semi-resmi Ettela’at menyerang reputasi Khomeini. Dua hari kemudian, sekitar 5.000 orang berkumpul di kompleks makam Sayyidah Ma’sumah di Qom untuk memprotes penghinaan tersebut dan menuntut perubahan kebijakan pemerintah.

Ketika massa meninggalkan kompleks, mereka diserang aparat. Banyak orang tewas. Peristiwa itu kemudian menjadi pemicu rangkaian aksi protes dan tradisi peringatan empat puluh hari yang menyebar dari satu kota ke kota lainnya. (Iranica Online)

Di titik inilah makna strategis kompleks tersebut terlihat dengan jelas.

Tempat yang selama berabad-abad dipercaya sebagai pusat spiritual ternyata juga memiliki kemampuan untuk menjadi titik konsolidasi sosial.

Masyarakat datang ke sana karena alasan keagamaan. Tetapi ketika persoalan politik menyentuh sesuatu yang mereka anggap sakral, termasuk penghinaan terhadap seorang ulama yang mereka hormati. Di mana ruang tersebut dapat berubah menjadi pusat ekspresi sosial.

Inilah salah satu karakter penting Revolusi Islam Iran: mobilisasi politik tumbuh melalui jaringan sosial-keagamaan yang sudah ada jauh sebelum revolusi dimulai.

Revolusi tidak lahir dalam satu malam

Sering kali revolusi dipahami sebagai peristiwa yang terjadi ketika sebuah rezim jatuh. Namun pengalaman Iran menunjukkan bahwa revolusi juga merupakan proses panjang pembentukan kesadaran.

Tahun 1979 adalah puncak. Tetapi jaringan sosial, tradisi keilmuan, hubungan ulama dan masyarakat, serta ruang-ruang keagamaan yang menjadi medium penyebaran gagasan telah terbentuk jauh sebelumnya.

Dalam konteks tersebut, Qom memainkan peranan penting. Kota ini memiliki kombinasi yang jarang ditemukan dalam satu tempat: pusat ziarah, pusat pendidikan agama, jaringan ulama, masyarakat urban, serta hubungan yang kuat antara institusi keagamaan dan kehidupan sehari-hari.

Kompleks Sayyidah Ma’sumah berada di jantung ekosistem tersebut. Karena itu, menyebutnya sekadar sebagai tempat wisata religi tentu terlalu sederhana.

Pelajaran dari sebuah kompleks keagamaan

Bagi Tim Sekolah Negarawan, kunjungan ke kompleks Sayyidah Ma’sumah memberikan kesempatan untuk melihat sejarah Iran dari perspektif yang berbeda.

Revolusi tidak hanya dapat dipahami melalui istana, parlemen, demonstrasi atau perubahan pemerintahan.

Ia juga dapat dibaca melalui madrasah, makam, masjid dan ruang-ruang pertemuan masyarakat.

Di sanalah gagasan dibicarakan. Di sanalah hubungan guru dan murid terbentuk. Di sanalah masyarakat membangun solidaritas. Dan di sanalah isu keagamaan dapat bertemu dengan persoalan sosial dan politik.

Pertemuan Tim Sekolah Negarawan dengan Kantor Urusan Internasional kompleks Sayyidah Ma’sumah juga memperlihatkan bahwa warisan tersebut masih memiliki relevansi dalam hubungan antarbudaya Islam. Ramah tamah dan pertukaran pandangan mengenai kebudayaan Islam menjadi bagian dari upaya memahami bagaimana tradisi keagamaan membentuk identitas masyarakat.

Pada akhirnya, kompleks Sayyidah Ma’sumah mengajarkan satu hal penting tentang sejarah revolusi:

perubahan besar sering kali tidak dimulai dari pusat kekuasaan, tetapi dari ruang yang dipercaya masyarakat.

Di Qom, ruang itu adalah dunia ziarah, madrasah, ulama dan masyarakat yang tumbuh di sekitar makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah.

Dari ruang spiritual itulah lahir sebuah jaringan sosial yang kemudian memainkan peran penting dalam perjalanan panjang menuju Revolusi Islam Iran.

Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Menjadi Negarawan dengan Memahami Dunia: Sekolah Negarawan Belajar dari Qom
Next Article Warisan Spiritual Revolusi: Sayyidah Ma’sumah, Qom, dan Pelajaran bagi Sekolah Negarawan

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Berita TerkiniPemerintah

Dalang Demo DPR, Partai X: Rakyat Selalu Jadi Tumbal Versi Resmi

August 29, 2025
Berita Terkini

Koruptor Pembunuh Kepercayaan dan Perusak Akhlak Bangsa

June 12, 2026
Berita Terkini

Polemik Tilang dan Penyitaan Kendaraan, Partai X Tekankan Akuntabilitas Pemerintah

March 25, 2025
Berita Terkini

Asuransi Kendaraan Listrik Perlu Lindungi Konsumen dari Risiko dan Biaya Tak Terduga

August 21, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.