QOM, IRAN — Sebuah kompleks makam biasanya identik dengan kesunyian, doa, dan ziarah. Namun di Qom, Iran, kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah memiliki cerita yang jauh lebih luas. Di sekitar tempat suci ini, selama puluhan tahun, agama tidak hanya dipelajari dan dipraktikkan, tetapi juga menjadi bagian dari dinamika sosial yang pada akhirnya ikut membentuk sejarah politik Iran modern.
Bagi Tim Sekolah Negarawan yang mengunjungi kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah, tempat ini menawarkan perspektif menarik tentang hubungan antara spiritualitas, pendidikan dan perubahan sosial. Rombongan disambut oleh Kantor Urusan Internasional kompleks tersebut dalam sebuah pertemuan yang berlangsung hangat, disertai ramah tamah dan pertukaran pandangan mengenai kebudayaan Islam.
Di balik kemegahan arsitektur dan tradisi ziarahnya, kompleks ini menyimpan kisah tentang bagaimana Qom berkembang menjadi salah satu pusat spiritual dan intelektual yang sangat penting dalam sejarah Revolusi Islam Iran.
Dari tempat ziarah menjadi ruang publik

Posisi makam Sayyidah Ma’sumah membuat kawasan tersebut tidak pernah sepenuhnya menjadi ruang privat bagi kalangan ulama.
Peziarah datang dari berbagai wilayah. Pedagang berinteraksi dengan jamaah. Pelajar agama memenuhi madrasah. Ulama memberikan pengajaran. Masyarakat datang untuk beribadah sekaligus bertemu dengan jaringan sosial mereka.
Situasi seperti ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai ruang publik keagamaan.
Dalam ruang semacam itu, gagasan tidak hanya disampaikan melalui buku atau ruang kelas. Ia bergerak melalui percakapan, pengajian, khutbah, pertemuan, jaringan guru dan murid, hingga hubungan antara ulama dengan masyarakat.
Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa Qom telah lama menjadi pusat pembelajaran agama sekaligus kota ziarah bagi makam Hazrat Ma’sumah. Kebangkitan kembali madrasah-madrasah Qom pada abad ke-20 kemudian menjadikan kota ini secara bertahap sebagai salah satu pusat spiritual Iran. (Iranica Online)
Karena itu, kekuatan Qom bukan hanya terletak pada bangunan-bangunannya, tetapi pada jaringan manusia yang hidup di dalam dan di sekitar bangunan tersebut.
Khomeini dan ruang pendidikan yang berubah menjadi arena perlawanan
Di antara bangunan yang memiliki posisi penting dalam sejarah tersebut adalah Madrasah Feyziyeh, yang berada di kawasan pendidikan keagamaan Qom dan berdekatan dengan kompleks makam Sayyidah Ma’sumah.
Di tempat ini Imam Ruhollah Khomeini pernah mengajar dan menyampaikan pengajian. Kuliah-kuliahnya bahkan menarik masyarakat umum, bukan hanya para pelajar agama. Menurut catatan sejarah, masyarakat Qom dan para pelajar ilmu agama menghadiri pengajarannya, sementara sebagian orang bahkan datang dari Tehran dan Isfahan untuk mendengarkannya. (Iranica Online)
Hal tersebut penting untuk memahami karakter gerakan Khomeini.
Ia tidak membangun pengaruhnya hanya melalui struktur politik formal. Pengaruh itu tumbuh dari hubungan antara guru, murid, ulama dan masyarakat.
Ruang pendidikan dengan demikian berubah menjadi ruang pembentukan kesadaran.
Pada masa pemerintahan Shah, kondisi tersebut semakin sensitif. Pemerintah berusaha membatasi pengaruh ulama terhadap masyarakat di luar institusi pendidikan agama. Kuliah Khomeini bahkan pernah dipindahkan dari Feyziyeh ke madrasah lain yang lebih kecil karena popularitasnya. (Iranica Online)
Namun setelah Reza Shah turun pada 1941, pengajaran Khomeini kembali ke Feyziyeh dan memperoleh kembali popularitasnya.
Ketika madrasah diserang
Konfrontasi antara negara dan jaringan keagamaan Qom mencapai salah satu titik penting pada 22 Maret 1963.
Pasukan pemerintah menyerang Madrasah Feyziyeh, tempat Khomeini mengajar dan menyampaikan ceramah. Peristiwa tersebut memperdalam konflik antara pemerintahan Shah dan kalangan ulama. (Iranica Online)
Serangan terhadap sebuah madrasah memiliki makna yang jauh melampaui kerusakan fisik.
Bagi masyarakat yang menjadikan madrasah sebagai tempat pendidikan agama, serangan tersebut dapat dipahami sebagai serangan terhadap ruang yang dianggap penting bagi kehidupan keagamaan mereka.
Beberapa bulan kemudian, pada peringatan Asyura, Khomeini kembali menggunakan Feyziyeh sebagai panggung untuk menyampaikan kritik keras terhadap Shah.
Pidato tersebut menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan politik Khomeini. Setelah ia ditangkap, demonstrasi besar pecah di berbagai kota. Peristiwa 15 Khordad 1963 kemudian dipandang sebagai salah satu titik balik dalam sejarah Iran modern dan sebagai pendahulu penting Revolusi 1978–1979. (Iranica Online)
Dengan demikian, Feyziyeh menjadi salah satu contoh bagaimana ruang pendidikan keagamaan dapat berubah menjadi ruang artikulasi politik.
Kompleks makam dan mobilisasi 1978
Hubungan antara kompleks Sayyidah Ma’sumah dan gerakan revolusioner kembali terlihat secara dramatis pada awal 1978.
Pada 7 Januari 1978, sebuah artikel di surat kabar semi-resmi Ettela’at menyerang reputasi Khomeini. Dua hari kemudian, sekitar 5.000 orang berkumpul di kompleks makam Sayyidah Ma’sumah di Qom untuk memprotes penghinaan tersebut dan menuntut perubahan kebijakan pemerintah.
Ketika massa meninggalkan kompleks, mereka diserang aparat. Banyak orang tewas. Peristiwa itu kemudian menjadi pemicu rangkaian aksi protes dan tradisi peringatan empat puluh hari yang menyebar dari satu kota ke kota lainnya. (Iranica Online)
Di titik inilah makna strategis kompleks tersebut terlihat dengan jelas.
Tempat yang selama berabad-abad dipercaya sebagai pusat spiritual ternyata juga memiliki kemampuan untuk menjadi titik konsolidasi sosial.
Masyarakat datang ke sana karena alasan keagamaan. Tetapi ketika persoalan politik menyentuh sesuatu yang mereka anggap sakral, termasuk penghinaan terhadap seorang ulama yang mereka hormati. Di mana ruang tersebut dapat berubah menjadi pusat ekspresi sosial.
Inilah salah satu karakter penting Revolusi Islam Iran: mobilisasi politik tumbuh melalui jaringan sosial-keagamaan yang sudah ada jauh sebelum revolusi dimulai.
Revolusi tidak lahir dalam satu malam
Sering kali revolusi dipahami sebagai peristiwa yang terjadi ketika sebuah rezim jatuh. Namun pengalaman Iran menunjukkan bahwa revolusi juga merupakan proses panjang pembentukan kesadaran.
Tahun 1979 adalah puncak. Tetapi jaringan sosial, tradisi keilmuan, hubungan ulama dan masyarakat, serta ruang-ruang keagamaan yang menjadi medium penyebaran gagasan telah terbentuk jauh sebelumnya.
Dalam konteks tersebut, Qom memainkan peranan penting. Kota ini memiliki kombinasi yang jarang ditemukan dalam satu tempat: pusat ziarah, pusat pendidikan agama, jaringan ulama, masyarakat urban, serta hubungan yang kuat antara institusi keagamaan dan kehidupan sehari-hari.
Kompleks Sayyidah Ma’sumah berada di jantung ekosistem tersebut. Karena itu, menyebutnya sekadar sebagai tempat wisata religi tentu terlalu sederhana.
Pelajaran dari sebuah kompleks keagamaan
Bagi Tim Sekolah Negarawan, kunjungan ke kompleks Sayyidah Ma’sumah memberikan kesempatan untuk melihat sejarah Iran dari perspektif yang berbeda.
Revolusi tidak hanya dapat dipahami melalui istana, parlemen, demonstrasi atau perubahan pemerintahan.
Ia juga dapat dibaca melalui madrasah, makam, masjid dan ruang-ruang pertemuan masyarakat.
Di sanalah gagasan dibicarakan. Di sanalah hubungan guru dan murid terbentuk. Di sanalah masyarakat membangun solidaritas. Dan di sanalah isu keagamaan dapat bertemu dengan persoalan sosial dan politik.
Pertemuan Tim Sekolah Negarawan dengan Kantor Urusan Internasional kompleks Sayyidah Ma’sumah juga memperlihatkan bahwa warisan tersebut masih memiliki relevansi dalam hubungan antarbudaya Islam. Ramah tamah dan pertukaran pandangan mengenai kebudayaan Islam menjadi bagian dari upaya memahami bagaimana tradisi keagamaan membentuk identitas masyarakat.
Pada akhirnya, kompleks Sayyidah Ma’sumah mengajarkan satu hal penting tentang sejarah revolusi:
perubahan besar sering kali tidak dimulai dari pusat kekuasaan, tetapi dari ruang yang dipercaya masyarakat.
Di Qom, ruang itu adalah dunia ziarah, madrasah, ulama dan masyarakat yang tumbuh di sekitar makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah.
Dari ruang spiritual itulah lahir sebuah jaringan sosial yang kemudian memainkan peran penting dalam perjalanan panjang menuju Revolusi Islam Iran.



