beritax.id – Setiap generasi selalu dibesarkan dengan satu harapan sederhana bahwa mereka akan hidup lebih baik daripada generasi sebelumnya. Orang tua bekerja keras agar anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Mereka menabung, berhemat, bahkan mengorbankan impian pribadinya demi memastikan anak-anak mereka memiliki kesempatan hidup yang lebih baik. Dalam logika pembangunan modern, inilah ukuran kemajuan sebuah bangsa, yaitu ketika setiap generasi memiliki peluang untuk hidup lebih sejahtera daripada generasi yang mendahuluinya. Apakah generasi muda Indonesia benar-benar akan hidup lebih baik daripada orang tua mereka? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya semakin mengkhawatirkan.
Pendidikan Tidak Lagi Menjamin Masa Depan
Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia diajarkan sebuah rumus sederhana: sekolah yang tinggi, maka hidup akan menjadi lebih baik. Anak-anak berlomba masuk sekolah favorit. Orang tua rela menjual aset, berutang, dan bekerja lebih keras agar anaknya dapat mengenyam pendidikan tinggi. Gelar sarjana dianggap sebagai tiket menuju kehidupan yang layak.Namun kenyataan hari ini menunjukkan hal yang berbeda.
Banyak lulusan perguruan tinggi kesulitan memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya. Tidak sedikit yang akhirnya bekerja di sektor informal, pekerjaan kontrak, atau pekerjaan dengan upah yang jauh dari harapan. Bahkan sebagian mulai mempertanyakan nilai dari pendidikan yang telah mereka tempuh selama bertahun-tahun.
Persoalannya bukan karena generasi muda malas atau kurang berusaha. Persoalannya adalah karena sistem pendidikan dan kebutuhan dunia kerja berkembang dengan arah yang tidak selalu sejalan.
Akibatnya, pendidikan yang seharusnya menjadi tangga mobilitas sosial, perlahan kehilangan fungsinya sebagai jaminan masa depan.
Bekerja Keras Tidak Lagi Menjamin Kesejahteraan
Generasi orang tua kita hidup dalam situasi yang berbeda. Dengan pekerjaan yang relatif sederhana, mereka masih memiliki kesempatan untuk membeli rumah, membangun keluarga, dan menabung untuk masa depan. Sementara generasi muda hari ini menghadapi situasi yang jauh lebih kompleks. Biaya hidup terus meningkat. Harga rumah melambung tinggi. Persaingan kerja semakin ketat. Status pekerjaan semakin tidak pasti.
Bahkan bagi mereka yang memiliki pekerjaan tetap sekalipun, banyak yang merasa bahwa bekerja keras selama puluhan tahun belum tentu mampu memberikan kehidupan yang stabil. Fenomena ini melahirkan sebuah paradoks. Di satu sisi, generasi muda dituntut untuk bekerja lebih keras daripada generasi sebelumnya. Namun di sisi lain, hasil yang diperoleh justru semakin sulit untuk menjamin kehidupan yang layak. Bekerja keras tidak lagi identik dengan sejahtera.
Pemerintah Tidak Lagi Memberikan Harapan
Pemerintah seharusnya menjadi memperjuangkan masa depan generasi berikutnya. Namun yang terjadi di Indonesia, mereka justru membuat kesejahteraan semakin terasa jauh dari kehidupan anak muda. Partai politik lebih banyak dikuasai oleh orang yang sama. Dipenuhi pertarungan kepentingan kelompok. Kebijakan publik sering kali lebih berorientasi pada kepentingan jangka pendek dibandingkan pembangunan masa depan generasi berikutnya.
Akibatnya, banyak anak muda mulai bersikap apatis terhadap pemerintah. Bukan karena mereka tidak peduli terhadap negara, tetapi karena mereka merasa negara tidak lagi peduli terhadap masa depan mereka. Padahal ketika generasi muda kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah, sesungguhnya sebuah bangsa sedang kehilangan sumber energi terbesarnya.
Sebuah Bangsa Akan Mengalami Krisis Ketika Anak Mudanya Kehilangan Harapan
Setiap bangsa dapat bertahan menghadapi krisis ekonomi.
Setiap bangsa dapat pulih dari bencana.
Setiap bangsa dapat membangun kembali infrastrukturnya.
Tetapi sebuah bangsa akan menghadapi krisis yang jauh lebih serius ketika generasi mudanya mulai kehilangan harapan terhadap masa depan. Karena sesungguhnya, kemajuan suatu negara bukan diukur dari tingginya gedung pencakar langit, besarnya anggaran pembangunan, atau megahnya infrastruktur.
Kemajuan sebuah negara diukur dari kemampuan seorang anak muda untuk berkata dengan penuh keyakinan yaitu “Besok, hidup saya akan lebih baik daripada hari ini.”
Dan mungkin pertanyaan paling penting yang harus dijawab Indonesia hari ini bukanlah berapa persen pertumbuhan ekonominya, melainkan Apakah generasi muda Indonesia masih memiliki alasan untuk percaya bahwa masa depan mereka ada di negeri ini?



