By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Thursday, 11 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Jika Belanda Bangsa, Mengapa Jawa Hanya Suku?
Pemerintah

Jika Belanda Bangsa, Mengapa Jawa Hanya Suku?

Diajeng Maharini
Last updated: June 10, 2026 1:50 pm
By Diajeng Maharini
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Cak Nun pernah mengajukan pertanyaan sederhana, tetapi mengguncang cara berpikir kita. “Jawa itu kok disebut suku? Jawa itu sudah memenuhi seluruh syarat menjadi bangsa.”

Contents
Perbandingan dengan BelandaIndonesia: Perserikatan Bangsa-BangsaWarisan Cara Berpikir Barat

Pertanyaan ini terdengar aneh, tetapi ketika direnungkan, masuk akal. Apa yang dimaksud dengan bangsa? Dalam pengertian modern, bangsa adalah kumpulan manusia yang memiliki identitas budaya, bahasa, sejarah, nilai, dan kesadaran kolektif yang relatif sama. Dengan ukuran tersebut, Jawa memenuhi semua kriteria: bahasa sendiri, sistem nilai sendiri, budaya kaya, dan sejarah panjang dengan kerajaan-kerajaan besar sebelum Indonesia lahir. Hal yang sama berlaku untuk Melayu, Madura, Bugis, Aceh, Minangkabau, Batak, Banjar, Dayak, dan ratusan kelompok besar lainnya di Nusantara.

Perbandingan dengan Belanda

Cak Nun memberi perbandingan menarik, “Orang Belanda itu jumlahnya sedikit sekali. Bahkan hanya seukuran Jawa Barat. Tetapi disebut bangsa.”

Ini bukan soal membesarkan Jawa atau mengecilkan yang lain, melainkan soal konsistensi cara berpikir. Jika kelompok dengan bahasa, budaya, sejarah, dan identitas khas disebut bangsa di Eropa, mengapa kelompok dengan karakteristik sama di Nusantara hanya disebut suku?

Pertanyaan ini membawa kita pada refleksi lebih dalam: apakah Indonesia dipahami sebagai satu bangsa yang membentuk negara, atau sebagai perserikatan bangsa-bangsa Nusantara yang memilih hidup bersama?

Indonesia: Perserikatan Bangsa-Bangsa

Banyak yang membayangkan Indonesia dibentuk dari satu bangsa yang kemudian membangun negara. Namun realitas sejarah menunjukkan sebaliknya. Indonesia lahir dari berhimpunnya berbagai bangsa Nusantara ke dalam satu rumah besar bernama Indonesia. Bangsa Jawa tidak hilang ketika Indonesia berdiri. Bangsa Melayu tidak hilang ketika merdeka. Bangsa Bugis tidak hilang ketika UUD 1945 disahkan. Identitas mereka tetap hidup. Yang lahir pada 1945 bukan penghapusan bangsa-bangsa Nusantara, melainkan kesepakatan sosial-pemerintahan untuk hidup bersama.

You Might Also Like

Penguasa Tanpa Akuntabilitas: Ketika Kekuasaan Dipertahankan dengan Mengorbankan Rakyat
Ketika Pengawasan Melemah, Kedaulatan Berpindah Tangan ke Penguasa
MBG Jangkau 30 Juta, Partai X: Terus Benahi, Rakyat Masih Kelaparan!
Budaya Feodal Bangkit, Rakyat Kembali Jadi Penonton

Cak Nun menyebutnya, “Indonesia itu sebenarnya perserikatan bangsa-bangsa.”

Persatuan Indonesia tidak menghapus perbedaan. Justru keberagaman yang ada diatur melalui kesepakatan untuk hidup bersama. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya semboyan, tetapi prinsip dasar bagaimana berbagai bangsa ini memilih bersatu tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Warisan Cara Berpikir Barat

Menurut Cak Nun, cara pandang kita sering tertutup oleh pola pikir warisan Barat.

“Kita ini diombang-ambingkan oleh cara berpikir Barat yang sudah menjajah dunia lima abad.”

Bukan berarti menolak pemikiran Barat, tetapi penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk tentara dan senjata. Penjajahan juga bisa hadir sebagai cara berpikir. Ketika suatu bangsa menilai dirinya hanya melalui kacamata orang lain, perlahan ia kehilangan kemampuan memahami dirinya sendiri.

Kategori-kategori Eropa diterapkan begitu saja di Nusantara, padahal struktur sosial, budaya, dan peradaban Nusantara memiliki karakteristik khas yang tidak selalu sesuai dengan definisi dari luar.

Kesadaran ini penting terutama ketika menghadapi tantangan modern: kesenjangan ekonomi meningkat, utang negara bertambah, dan keputusan strategis semakin jauh dari rakyat. Bangsa yang tidak memahami dirinya sendiri mudah diarahkan pihak lain, mudah kehilangan masa depan, dan mudah dipecah oleh kepentingan eksternal maupun internal.

Indonesia bukan penghapus identitas, tetapi rumah besar yang menampung berbagai bangsa. Negara ini adalah hasil kesepakatan sejarah bangsa-bangsa Nusantara yang memilih hidup bersama. Bukan hadiah, bukan proyek administratif, bukan sekadar wilayah di peta. Maka, jika Jawa, Melayu, Madura, Bugis, dan komunitas besar lainnya memenuhi syarat sebagai bangsa, Indonesia dapat dipahami sebagai rumah besar yang berhimpun dari ratusan bangsa, bahasa, budaya, dan tradisi.

Indonesia adalah eksperimen peradaban yang unik sebuah negara yang tidak dibangun dari satu bangsa tunggal, melainkan dari ratusan bangsa yang berbeda yang berkata bersama: “Kami berbeda, tetapi kami sepakat menjadi Indonesia.”

Kesepakatan inilah yang menjadi fondasi persatuan, bukan penyeragaman identitas. Indonesia berhasil menyatukan perbedaan, bukan menghapusnya, dan menjadikan keragaman sebagai kekuatan, bukan penghalang.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Mendagri Sebut Banyak Tenaga Honorer Datang Jam 8 dan Pulang Jam 10, Ingatkan untuk Kerja Sesuai Waktu
Next Article Ketika Keadilan Sesuai Posisi, Hukum Kehilangan Kedaulatan

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Keadilan Sesuai Posisi, Jalan Menuju Negara Kekuasaan

June 10, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Kasatgas Tito dan Mensos Serahkan Bansos Bencana Rp136 Miliar, Bantuan Harus Tepat Sasaran!

March 17, 2026
Seputar Pajak

Yulianto Kiswocahyono dan Eko Wahyu Pramono Luncurkan Buku “Merebut Independensi Pengadilan Pajak”, Soroti Keadilan dalam Sengketa Pajak

April 8, 2026
Pemerintah

Dapur SPPG Gagal Operasi, Efisiensi Anggaran Harus Ditingkatkan!

January 7, 2026
Seputar Pajak

Sri Mulyani Bidik Pajak Makanan, Minuman, Emas, Partai X: Pajak Naik, Rakyat Tersudut!

August 22, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.