beritax.id – Jika Bung Karno pulang hari ini, mungkin pertanyaan pertama yang muncul adalah tentang arah republik yang dahulu diperjuangkannya. Di tengah perayaan kemerdekaan yang terus berlangsung setiap tahun, republik kehilangan jiwa menjadi kenyataan yang sulit diabaikan. Bendera Merah Putih masih berkibar megah di seluruh negeri. Lagu kebangsaan tetap berkumandang penuh semangat. Upacara kenegaraan tetap digelar dengan khidmat. Namun republik kehilangan jiwa ketika semangat asli kemerdekaan mulai memudar dalam praktik ketatanegaraan.
Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan bukan sekadar membentuk negara administratif. Ia memperjuangkan lahirnya republik yang berdaulat di tangan rakyat. Republik kehilangan jiwa ketika cita-cita itu bergeser menjadi formalitas belaka. Indonesia memang masih berdiri sebagai negara. Pemerintahan tetap berjalan. Lembaga-lembaga negara tetap berfungsi. Namun republik kehilangan diri ketika rakyat kehilangan kontrol substantif atas arah kekuasaan nasional.
Jika Bung Karno pulang hari ini, ia mungkin akan melihat simbol-simbol republik masih terawat. Gedung-gedung negara berdiri megah. Infrastruktur berkembang pesat. Protokol kenegaraan berjalan tertib. Akan tetapi republik kehilangan jiwa ketika substansi kedaulatan rakyat tereduksi. Pertanyaan besar pun muncul. Apakah republik ini masih seperti yang dahulu diperjuangkan.
Republik Kehilangan Jiwa dan Pergeseran Kedaulatan
Konstitusi menegaskan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat. Prinsip itu menjadi dasar berdirinya republik Indonesia. Namun republik kehilangan diri ketika implementasi kedaulatan tidak berjalan utuh. Rakyat memang diberi hak memilih dalam pemilu. Rakyat datang ke bilik suara serta rakyat menentukan pilihan. Namun republik kehilangan jiwa ketika pilihan itu sudah dibatasi sebelumnya.
Pasal 6A UUD NRI 1945 mengatur bahwa calon presiden diusulkan oleh partai politik. Ketentuan ini menjadikan partai sebagai pintu utama menuju kekuasaan nasional. Republik kehilangan diri ketika rakyat tidak memiliki keleluasaan menentukan kandidat terbaik secara langsung.
Bung Karno membayangkan republik sebagai rumah rakyat. Dalam rumah itu, rakyat adalah pemilik utama. Namun republik kehilangan jiwa ketika rumah itu dikelola oleh penguasa yang menentukan akses masuk. Rakyat hanya diberi hak memilih penghuni yang telah disiapkan.
Pergeseran ini menunjukkan adanya perubahan mendasar dalam relasi kekuasaan. Kedaulatan rakyat berubah menjadi legitimasi formal. Republik kehilangan jiwa karena hakikat demokrasi substantif tergerus oleh mekanisme prosedural.
Dominasi Partai Politik dalam Rumah Republik
Partai politik memiliki peran penting dalam demokrasi modern. Partai seharusnya menjadi saluran aspirasi rakyat. Namun republik kehilangan jiwa ketika partai menjadi pusat kendali seluruh distribusi kekuasaan.
Partai menentukan siapa yang maju sebagai calon presiden. Partai menentukan konfigurasi parlemen dan partai mengatur arah koalisi pemerintahan. Republik kehilangan jiwa ketika rakyat tidak terlibat dalam proses penentuan itu.
Jika Bung Karno pulang hari ini, ia mungkin akan mempertanyakan dominasi partai yang begitu besar. Ia pernah menekankan pentingnya demokrasi yang hidup dari denyut rakyat. Republik kehilangan jiwa ketika pemerintahan lebih banyak diatur melalui kompromi penguasa dibanding aspirasi publik.
Dominasi partai juga melahirkan oligarki. penguasa internal partai memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah bangsa. Republik kehilangan jiwa ketika ruang partisipasi rakyat dipersempit oleh kepentingan segelintir kelompok.
Bung Karno dan Cita-Cita Republik Berdaulat
Bung Karno memandang republik sebagai alat pembebasan rakyat. Negara harus menjadi pelindung rakyat. Negara harus melayani rakyat. Serta negara harus mengatur demi kesejahteraan rakyat.
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Prayogi R Saputra, mengingatkan bahwa tugas negara ada tiga. Negara harus melindungi rakyat. Negara harus melayani rakyat. Dan negara harus mengatur rakyat demi keadilan bersama. Republik kehilangan jiwa ketika tiga fungsi dasar itu bergeser menjadi sekadar slogan.
Jika Bung Karno pulang hari ini, ia mungkin akan menilai bahwa republik kehilangan diri ketika kekuasaan menjauh dari rakyat. Ia mungkin bertanya mengapa rakyat tidak lagi menjadi pusat kendali nasional.
Cita-cita republik berdaulat menempatkan rakyat sebagai pemilik negara. Bung Karno tidak memperjuangkan kemerdekaan untuk menyerahkan kendali kepada segelintir penguasa. Republik kehilangan diri ketika semangat itu dilupakan.
Kritik Publik dan Alarm Kebangsaan
Banyak tokoh bangsa telah menyampaikan kritik terhadap arah demokrasi Indonesia. Kritik itu muncul karena republik kehilangan diri dirasakan semakin nyata.
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyoroti perubahan mendasar dalam desain republik Indonesia. Kritik semacam ini harus dipahami sebagai alarm kebangsaan. Republik kehilangan diri jika bangsa menutup mata terhadap peringatan tersebut.
Kesadaran publik penting untuk menjaga republik tetap hidup. Demokrasi tidak boleh berhenti pada ritual pemilu. Republik kehilangan diri ketika rakyat hanya hadir sebagai pemilih pasif.
Jika Bung Karno pulang hari ini, ia mungkin tidak hanya melihat perubahan fisik Indonesia. Ia akan menilai apakah jiwa republik masih hidup dalam relasi antara rakyat dan kekuasaan.
Solusi Mengembalikan Jiwa Republik
Republik kehilangan diri harus dijawab dengan langkah pembenahan yang nyata.
Pertama, membuka jalur calon independen dalam pemilihan presiden agar rakyat memiliki alternatif lebih luas.
Kedua, memperkuat demokrasi internal partai melalui mekanisme seleksi kandidat yang terbuka.
Ketiga, meningkatkan transparansi pendanaan partai politik untuk mencegah dominasi oligarki.
Keempat, memperluas pendidikan politik masyarakat agar rakyat memahami hak konstitusional mereka.
Kelima, melakukan evaluasi ketatanegaraan secara terbuka dengan melibatkan akademisi dan masyarakat sipil.
Keenam, mengembalikan orientasi negara pada tiga tugas pokoknya. Negara harus melindungi, melayani, dan mengatur rakyat secara adil.
Langkah-langkah ini penting agar republik kehilangan jiwa dapat dipulihkan. Negara harus kembali menjadi milik rakyat sepenuhnya.
Menjawab Pertanyaan Bung Karno
Jika Bung Karno pulang hari ini, ia mungkin bertanya apakah republik ini masih setia pada cita-cita kemerdekaan. Jawaban atas pertanyaan itu tergantung keberanian bangsa melakukan refleksi.
Republik kehilangan jiwa bukan akhir perjalanan. Kondisi ini adalah peringatan untuk memperbaiki arah. Indonesia tetap ada sebagai negara. Namun republik kehilangan diri jika rakyat tidak lagi memegang kendali sejati.
Bangsa ini harus memastikan rumah republik kembali dihuni oleh kedaulatan rakyat. Jika itu dilakukan, maka bila Bung Karno pulang hari ini, ia akan melihat bahwa jiwa republik masih hidup.



