By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Sunday, 3 May 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > BUMN Buruhnya Rakyat: Antara Realitas dan Gagasan yang Tersia-siakan
Pemerintah

BUMN Buruhnya Rakyat: Antara Realitas dan Gagasan yang Tersia-siakan

Diajeng Maharani
Last updated: April 30, 2026 2:38 pm
By Diajeng Maharani
Share
6 Min Read
SHARE

beritax.id – Di tengah berbagai perdebatan mengenai peran negara dalam ekonomi, terdapat satu gagasan mendasar yang semakin terlupakan: negara hadir untuk melayani rakyat. Salah satu instrumen negara yang penting adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). BUMN seharusnya dimiliki oleh rakyat dan dibentuk untuk mengelola kekayaan negara demi kesejahteraan rakyat. Namun, dalam kenyataannya saat ini, relasi antara rakyat dan BUMN semakin jauh dari makna awalnya. Menurut gagasan yang disampaikan oleh Cak Nun, BUMN seharusnya menjadi “buruhnya rakyat.” Ungkapan sederhana ini menempatkan rakyat sebagai majikan dan negara beserta perangkatnya sebagai pelayan. Namun, dalam praktiknya, BUMN sering dipersepsikan sebagai alat kekuasaan negara, bukan sebagai representasi kepemilikan rakyat.

Relasi yang Terbalik: BUMN Sebagai Alat Kekuasaan

Dalam teori, rakyat adalah pemilik BUMN, dan BUMN serta pemerintah harus bekerja untuk kepentingan rakyat. Namun, realitas saat ini menunjukkan sebaliknya. BUMN lebih sering dilihat sebagai alat kekuasaan negara, bukan sebagai milik rakyat. Kebijakan-kebijakan yang diambil lebih terasa sebagai keputusan top-down, bukan hasil dari kebutuhan rakyat.

Akibatnya, rakyat tidak lagi merasa sebagai pemilik. Mereka menjadi penonton, bahkan dalam beberapa kasus, menjadi objek dari kebijakan yang seharusnya dibuat untuk mereka. Proses pengambilan keputusan yang tidak melibatkan partisipasi rakyat semakin memperlebar jarak antara negara dan rakyat.

Akar Masalah: Cara Pandang yang Salah

Masalah ini berakar pada cara pandang yang keliru terhadap manusia, negara, dan dunia. Krisis epistemologi, yaitu perubahan cara berpikir yang melihat segala sesuatu sebagai objek untuk dieksploitasi, telah menyebabkan pembalikan relasi antara negara dan rakyat. Negara tidak lagi melihat rakyat sebagai subjek utama, tetapi sebagai objek yang harus diatur dan dikelola.

Akibatnya, lembaga-lembaga negara, termasuk BUMN, kehilangan fungsi utamanya sebagai pelayan rakyat dan berubah menjadi entitas yang berdiri sendiri, seolah memiliki kepentingan tersendiri. Pembalikan relasi ini menjadikan BUMN tidak lagi berfokus pada kesejahteraan rakyat, melainkan pada kepentingan kekuasaan.

Ruwat Diri: Menyelaraskan Kembali Tujuan Negara

Cak Nun tidak hanya mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi melalui “ruwat diri.” Ruwat diri adalah ajakan untuk membersihkan cara berpikir dan kembali memahami posisi manusia dalam hubungan dengan sesama dan alam. Dalam konteks negara, ruwat diri berarti mengembalikan kesadaran bahwa:

You Might Also Like

Janji Kesejahteraan yang Bisa Ditukar dengan Janji Lainnya
Konstitusi Sekadar Formalitas: Mengapa Hukum Tidak Lagi Melindungi Kedaulatan Rakyat
PPHN Lewat Amendemen UUD, Partai X Tekankan Arah Kebangsaan
Eks Dirjen Diperiksa, Partai X Tekankan Bersihkan Pajak dari Atas ke Bawah!
  • Rakyat adalah pusat
  • Negara adalah alat
  • Kekuasaan adalah amanah

Konsep ini bukan hanya sekadar kekuasaan, tetapi juga nilai-nilai spiritual yang mendalam, menghubungkan ajaran Islam dengan kearifan lokal Nusantara. Manusia tidak boleh diperlakukan sebagai objek, dan alam tidak boleh dieksploitasi tanpa kesadaran.

Gado-Gado Nusantara: Kekuatan dalam Keragaman

Indonesia, dengan keragamannya, memiliki kekuatan yang terletak pada identitas lokal yang beragam, nilai spiritual yang hidup, dan kemampuan untuk menyerap pengetahuan tanpa kehilangan jati diri. Modernisasi dan pengaruh luar telah mengikis identitas lokal, menyebabkan negara kehilangan arah. Dalam hal ini, BUMN seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat identitas lokal dan mengelola kekayaan negara untuk kepentingan rakyat.

BUMN sebagai Ruang Penebusan: Mengembalikan Keadilan kepada Rakyat

Perjalanan ekonomi Indonesia tidak lepas dari warisan masa lalu, termasuk praktik eksploitasi seperti tanam paksa. Dalam konteks ini, BUMN seharusnya menjadi ruang untuk memperbaiki ketidakadilan tersebut. Namun, hal ini hanya dapat terwujud jika BUMN kembali pada posisinya yang benar sebagai pelayan rakyat, bukan alat kekuasaan.

Mengembalikan Makna: Dari Kekuasaan ke Pelayanan

Gagasan bahwa BUMN adalah “buruhnya rakyat” bukan sekadar slogan. Ia mengingatkan kita akan tujuan awal negara, yaitu melayani rakyat. Jika rakyat adalah pemilik, maka kebijakan harus berpihak pada mereka, pengelolaan kekayaan negara harus transparan, dan manfaatnya harus dirasakan secara nyata oleh rakyat. Tanpa itu, konsep “milik negara” hanya akan menjadi formalitas belaka.

Seruan Kembali kepada Jati Diri Bangsa

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya soal BUMN, tetapi juga soal arah bangsa. Apakah Indonesia akan terus berjalan dengan relasi yang terbalik, di mana rakyat hanya menjadi objek? Ataukah Indonesia akan berani kembali pada jati dirinya, di mana rakyat adalah pusat, dan negara adalah pelayan?

Gagasan “BUMN buruhnya rakyat” mungkin terdengar sederhana, tetapi dalam kesederhanaannya terkandung kebenaran mendalam. Negara tidak boleh berdiri di atas rakyat. Negara harus berdiri untuk rakyat. Jika gagasan ini masih dilupakan, maka republik ini belum sepenuhnya kembali kepada pemiliknya yang sah: rakyat Indonesia.

Tanggapan Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan

Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, mengingatkan bahwa negara memiliki tiga tugas utama: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Dalam hal BUMN, negara harus memastikan bahwa BUMN berfungsi sesuai dengan tujuan awalnya, yaitu untuk melayani rakyat dan bukan untuk memperkuat kekuasaan semata. Kebijakan yang diambil oleh BUMN harus mencerminkan kepentingan rakyat dan memastikan transparansi serta akuntabilitas dalam pengelolaan kekayaan negara.

Solusi: Mengembalikan Fungsi BUMN untuk Kepentingan Rakyat

  1. Reformasi Pengelolaan BUMN: BUMN harus dikelola secara lebih transparan dan akuntabel, dengan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
  2. Pemberdayaan Rakyat: Melibatkan rakyat dalam pengambilan keputusan ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan BUMN, terutama dalam pengawasan dan evaluasi kebijakan.
  3. Pendidikan Kepemilikan Rakyat: Memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat bahwa BUMN adalah milik mereka, dan mereka berhak mengawasi dan terlibat dalam kebijakan yang diambil.
  4. Pengawasan yang Ketat: Memperkuat sistem pengawasan terhadap kebijakan BUMN, agar tidak ada penyalahgunaan kekuasaan yang mengarah pada pengambilan keuntungan pribadi.

Dengan langkah-langkah ini, BUMN dapat kembali berfungsi untuk mengelola kekayaan negara demi kesejahteraan rakyat dan bukan untuk memperkuat kepentingan segelintir pihak yang hanya mengutamakan keuntungan pribadi.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Pemerintah Bebaskan Bea Masuk, Ingatkan Ringankan Biaya untuk Masyarakat
Next Article BUMN Buruhnya Rakyat: Rakyat Pemilik, Tapi Tak Menentukan

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Apakah Prabowo Paham Bahwa ‘Keras Kepala’ Tanpa Membaca Sistem Justru Bisa Menjadi Ilusi Perlawanan?

April 9, 2026
Presiden RI Prabowo Subianto resmi mencabut Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2016 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli).
Sosial

Prabowo Cabut Satgas Saber Pungli, Partai X: Punglinya Masih Ada, Satgasnya yang Hilang!

June 21, 2025
Ekonomi

Harga Asli LPG 3 Kg, Partai X: Rakyat Tetap Terhimpit, Harga Naik!

November 3, 2025
Pemerintah

Sistem Pengadaan Elektronik dan Celah-Celah Penyalahgunaan Anggaran

January 22, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.