Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan
beritax.id – Masuknya Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang dikenal publik sebagai Noe Letto, ke dalam sistem struktur Dewan Pertahanan Nasional (DPN) menandai sebuah momen penting dalam lanskap intelektual dan kebudayaan Indonesia. Dilantik sebagai Tenaga Ahli dengan mandat di bidang geoekonomi, geopolitik, dan geostrategi, Sabrang kini berada di pusat sistem pengambilan kebijakan strategis negara, wilayah yang selama ini kerap ia bedah secara kritis dari luar.
Pada saat yang sama, ayahnya, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), tetap konsisten berada di luar struktur kekuasaan formal. Selama puluhan tahun, Cak Nun dikenal sebagai figur yang menjaga jarak dari jabatan kenegaraan, sembari terus mengingatkan publik tentang bahaya kekuasaan yang tidak dikawal nalar, etika, dan keseimbangan batin. Kontras posisi inilah yang membuat pelantikan Sabrang tidak sekadar peristiwa administratif, melainkan ujian nalar dan integritas, baik secara personal maupun simbolik.
Dalam berbagai forum Maiyah, Cak Nun kerap memetaforakan birokrasi dan pemerintahan Indonesia sebagai sebuah “kawah”, ruang yang panas, tidak stabil, dan berpotensi merusak manusia yang masuk ke dalamnya. Menurutnya, banyak orang yang awalnya idealis justru kehilangan rasa adil, kejernihan berpikir, dan keseimbangan hidup ketika terlalu lama berada dalam pusaran kekuasaan. Karena itu, Maiyah diposisikan sebagai ruang latihan agar manusia tetap utuh ketika bersentuhan dengan realitas sosial dan (kejahatan) politik.
Kini, Sabrang berada tepat di ruang yang selama ini diperingatkan sebagai “kawah”. Namun berbeda dengan banyak figur lain, ia tidak datang sebagai politisi atau kader partai, melainkan sebagai intelektual publik yang selama ini dikenal menekankan logika, analisis sistem, dan disiplin berpikir. Penunjukannya pun memunculkan dua pembacaan sekaligus di ruang publik: sebagai peluang perbaikan dari dalam, sekaligus sebagai risiko terserap oleh logika struktural yang kerap tidak ramah terhadap idealisme.
Perbedaaan Posisi Sabrang dan Cak Nun
Perbedaan posisi antara Sabrang dan Cak Nun menjadi menarik. Yang satu masuk ke pusat sistem, dengan tanggung jawab merumuskan dan memberi masukan kebijakan strategis negara. Yang lain tetap di luar kekuasaan, menjaga jarak kritis dan kebebasan moral untuk menegur siapa pun tanpa beban struktural. Keduanya, secara sadar atau tidak, sedang menjalani peran yang saling melengkapi: satu menguji kemungkinan rasionalitas bekerja dari dalam, yang lain menjaga ingatan kritis dari luar.
Bidang geoekonomi dan geostrategi yang kini digeluti Sabrang bukan sekadar persoalan teknis pertahanan, melainkan menyangkut arah kedaulatan negara di tengah tekanan global, konflik kepentingan internasional, serta ketahanan ekonomi nasional. Di wilayah ini, nalar kebijakan diuji bukan hanya oleh data dan analisis, tetapi juga oleh kepentingan, kompromi, dan realitas kekuasaan.
Karena itu, ujian sesungguhnya bagi Sabrang bukan terletak pada jabatan yang ia sandang, melainkan pada kemampuannya menjaga kejernihan berpikir di dalam sistem, tidak larut dalam euforia kekuasaan, tidak menjadi stempel formal, dan tidak kehilangan keberanian intelektual untuk mengatakan “tidak” ketika nalar publik dikorbankan. Sementara itu, keberadaan Cak Nun di luar kekuasaan tetap berfungsi sebagai pengingat bahwa negara membutuhkan suara moral dan kultural yang tidak terikat jabatan.
Pelantikan ini, pada akhirnya, memperlihatkan satu hal penting: kedaulatan nalar diuji baik di dalam maupun di luar sistem. Publik akan terus mengamati apakah Sabrang mampu membuktikan bahwa logika dan integritas dapat bertahan di pusat kekuasaan, sementara Cak Nun menunjukkan bahwa menjaga jarak dari jabatan juga merupakan bentuk tanggung jawab kenegaraan.
Di antara keduanya, republik sedang menyaksikan sebuah eksperimen sunyi: apakah sistem masih bisa ditembus oleh nalar yang jernih, dan apakah suara dari luar kekuasaan masih didengar oleh mereka yang berada di dalamnya.



