beritax.id – Di tengah budaya media sosial yang menjadikan popularitas sebagai mata uang baru, praktik konten kreator bayaran semakin masif dalam membentuk percakapan publik. Konten yang tampak spontan, jenaka, atau personal kerap merupakan bagian dari strategi komunikasi berbayar untuk mengangkat citra tertentu, membela kebijakan, atau menyerang kritik. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah yang viral masih cerminan suara warga, atau sekadar hasil transaksi dan ekonomi?
Dari Kreativitas ke Industri Opini
Perkembangan platform digital melahirkan generasi kreator yang kreatif dan berpengaruh. Namun, ketika popularitas dipadukan dengan kontrak, konten berubah menjadi alat produksi opini.
Banyak kreator direkrut untuk:
- Menormalisasi kebijakan kontroversial
- Mengalihkan perhatian dari isu sensitif
- Menyerang tokoh atau kelompok kritis
- Membangun kesan seolah dukungan publik meluas
Semua dilakukan dengan kemasan hiburan yang sulit dibedakan dari ekspresi jujur.
Tanggapan Rinto Setiyawan: Rakyat Berhak atas Informasi yang Jujur
Anggota Majelis Tinggi Partai X, Rinto Setiyawan, menilai praktik ini sebagai ancaman langsung terhadap kesadaran demokratis masyarakat.
“Tugas negara itu hanya tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Kalau ruang digital dipenuhi konten bayaran yang menyamar sebagai suara rakyat, berarti negara gagal melindungi masyarakat dari manipulasi,” tegas Rinto.
Menurutnya, melayani rakyat berarti menyediakan informasi yang jujur dan terbuka, bukan membanjiri publik dengan propaganda terselubung.
“Mengatur rakyat juga tidak boleh dilakukan dengan rekayasa emosi dan persepsi,” tambahnya.
Akar Masalah: Regulasi Tertinggal dan Kekuasaan Pencitraan
Rinto mengidentifikasi dua penyebab utama:
- Tidak adanya aturan tegas tentang konten berbayar
- Budaya kekuasaan yang mengandalkan pencitraan, bukan transparansi kebijakan
Akibatnya, ruang digital berkembang tanpa pagar etika yang jelas.
Praktik konten kreator bayaran berpotensi:
- Mengaburkan kehendak publik yang sebenarnya
- Memperlemah kontrol masyarakat terhadap pemerintah
- Memperdalam polarisasi
- Menurunkan kualitas partisipasi
Demokrasi tetap berjalan, tetapi diarahkan oleh tangan tak terlihat.
Solusi: Menjaga Ruang Digital Tetap Jujur
Partai X mendorong langkah-langkah berikut:
1. Kewajiban label konten berbayar
Semua konten atau kebijakan berbayar harus ditandai jelas.
2. Transparansi belanja komunikasi negara
Publik berhak tahu siapa dibayar dan untuk pesan apa.
3. Pengawasan independen platform digital
Terhadap jaringan propaganda dan manipulasi algoritmik.
4. Literasi digital nasional
Agar masyarakat kritis terhadap konten viral.
5. Perlindungan ruang kritik
Supaya suara warga tidak kalah oleh konten pesanan.
Ketika viral bisa dibeli, maka kejujuran menjadi pihak yang paling rentan. Fenomena konten kreator bayaran bukan sekadar tren industri digital, melainkan persoalan serius bagi masa depan demokrasi.
Seperti diingatkan Rinto Setiyawan, negara harus kembali pada mandat dasarnya: melindungi rakyat dari manipulasi, melayani dengan kebenaran, dan mengatur tanpa merekayasa opini publik.
Jika tidak, yang tersisa hanyalah keramaian digital tanpa kebebasan berpikir yang sesungguhnya.



