beritax.id — Di tengah pernyataan resmi bahwa ekonomi Indonesia tumbuh, masyarakat justru menghadapi pemindahan risiko yang semakin nyata ke tingkat rumah tangga. Klaim pertumbuhan disampaikan melalui indikator makro seperti PDB, inflasi terkendali, dan stabilitas fiskal. Namun pada saat yang sama, rakyat menanggung tekanan biaya hidup, ketidakpastian kerja, dan melemahnya perlindungan sosial. Pertumbuhan hadir di angka, sementara risiko dialihkan ke warga.
Dalam beberapa waktu terakhir, publik menyaksikan penyesuaian kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari mulai dari kenaikan biaya layanan dasar, meluasnya kerja kontrak dan informal, hingga kebijakan efisiensi yang mengurangi daya jangkau bantuan. Negara menenangkan pasar dan laporan, tetapi rumah tangga dipaksa beradaptasi sendiri.
Pertumbuhan Makro, Beban Mikro
Klaim ekonomi tumbuh tidak otomatis berarti kesejahteraan meningkat. Banyak keluarga hidup dari gaji ke gaji, tabungan menipis, dan daya beli tertekan. Risiko inflasi sektor tertentu, ketidakpastian pendapatan, serta biaya pendidikan dan kesehatan lebih banyak ditanggung individu, bukan dibagi melalui mekanisme perlindungan negara.
Pertumbuhan menjadi statistik, bukan bantalan.
Risiko Kerja Dipindahkan ke Pekerja
Pasar kerja menunjukkan peningkatan fleksibilitas, namun fleksibilitas itu sering berarti risiko. Kontrak jangka pendek, kerja informal, dan minimnya jaminan sosial memperbesar ketidakpastian. Alih-alih memperkuat perlindungan kerja, kebijakan cenderung membiarkan pekerja menyerap guncangan ekonomi secara mandiri.
Negara menjaga stabilitas, pekerja menanggung volatilitas.
Efisiensi Fiskal, Ketahanan Sosial Melemah
Pengetatan anggaran dan efisiensi belanja dipresentasikan sebagai langkah kehati-hatian. Namun tanpa desain perlindungan yang memadai, efisiensi berujung pada berkurangnya layanan dan bantuan bagi kelompok rentan serta kelas menengah. Stabilitas fiskal tercapai, tetapi ketahanan sosial terkikis.
Risiko sistemik berubah menjadi risiko personal.
Kesenjangan Narasi dan Realitas
Ketika narasi pertumbuhan tidak sejalan dengan pengalaman hidup warga, kepercayaan publik tergerus. Rakyat merasa diminta menanggung beban penyesuaian demi menjaga angka-angka makro. Dalam jangka panjang, kesenjangan ini berpotensi melemahkan kohesi sosial dan legitimasi kebijakan.
Pertumbuhan yang tidak dibagi akan dipertanyakan.
Solusi: Membagi Risiko, Menguatkan Perlindungan
Agar pertumbuhan benar-benar berpihak pada rakyat, diperlukan pergeseran kebijakan yang tegas dan berkeadilan, antara lain:
- Memperkuat perlindungan sosial dan ketenagakerjaan, agar risiko ekonomi tidak sepenuhnya ditanggung individu.
- Menjamin akses layanan dasar yang terjangkau, khususnya pangan, kesehatan, dan pendidikan.
- Menyelaraskan kebijakan efisiensi dengan dampak sosial, sehingga penghematan tidak mengorbankan perlindungan.
- Mendorong penciptaan kerja berkualitas dan berupah layak, bukan sekadar fleksibilitas kerja.
- Mengukur keberhasilan ekonomi dari ketahanan rumah tangga, bukan hanya pertumbuhan PDB dan stabilitas makro.
Jika ekonomi Indonesia tumbuh, maka pertumbuhan itu harus mengurangi risiko hidup rakyat bukan memindahkannya. Selama risiko terus dialihkan ke warga, klaim pertumbuhan akan tetap terdengar, tetapi tidak benar-benar dirasakan.



