beritax.id – Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Taqrib News Agency (TNA), Dosen Senior Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, Dr. Abdullah Asqaf, menyoroti dimensi pemikiran dan warisan kultural Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Sayyed Ali Khamenei. Sebagai Anggota Majelis Umum Forum Dunia untuk Pendekatan Mazhab Islam (World Forum for Proximity of Islamic Schools of Thought), Dr. Abdullah menegaskan bahwa salah satu warisan terbesar Ayatollah Khamenei adalah kemampuannya menginspirasi umat Islam untuk mengejar kemajuan tanpa kehilangan identitas keagamaan maupun akar peradaban mereka.
Menurut Dr. Abdullah, kontribusi intelektual dan kepemimpinan Ayatollah Khamenei melampaui batas-batas geopolitik dan kekuatan militer semata. Ia menjelaskan bahwa Ayatollah Khamenei secara konsisten mengingatkan bahwa masa depan umat Islam tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau superioritas militer, melainkan oleh kemampuan masyarakat Muslim dalam mempertahankan identitas, memperkuat fondasi keilmuan di berbagai bidang, serta menjaga nilai-nilai spiritual dan kultural sebagai landasan utama kehidupan bermasyarakat.
Dr. Abdullah juga menyoroti perhatian besar Ayatollah Khamenei terhadap fenomena dominasi modern yang berlangsung melalui media, pendidikan, kebudayaan, dan pembentukan opini publik. Fenomena yang kerap disebut Ayatollah Khamenei sebagai “perang lunak” (soft war) tersebut, menurutnya, menjadi tantangan utama yang harus dihadapi umat Islam melalui strategi ketahanan kultural jangka panjang. Strategi tersebut mencakup penguatan pendidikan dan pengembangan intelektual untuk melahirkan pemikir Muslim yang kritis, peningkatan kesadaran media guna menghadapi manipulasi informasi, penguatan nilai-nilai Islam autentik sebagai benteng moral dan etika, serta pembangunan kepercayaan diri budaya agar masyarakat Muslim tidak terjebak dalam rasa inferior terhadap dominasi budaya asing.
Lebih lanjut, Dr. Abdullah menegaskan bahwa salah satu pilar utama dalam visi kultural Ayatollah Khamenei adalah penguatan ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam. Ia menjelaskan bahwa Ayatollah Khamenei secara konsisten mendorong dialog dan sikap saling menghormati di antara berbagai mazhab dalam Islam. Dalam perspektif tersebut, keberagaman etnis dan mazhab tidak dipandang sebagai sumber perpecahan, melainkan sebagai kekayaan dan kekuatan yang dapat memperkokoh persatuan umat Islam.
Selain itu, Dr. Abdullah menilai bahwa warisan kultural Ayatollah Khamenei juga tercermin dalam upayanya untuk menghubungkan kembali masyarakat Muslim dengan warisan intelektual dan peradaban Islam yang kaya, tanpa menutup diri terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan dinamika dunia modern. Dalam pandangan ini, kebudayaan tidak dipahami sekadar sebagai ekspresi identitas yang bersifat statis, melainkan sebagai fondasi strategis untuk mewujudkan keadilan sosial, martabat dan kemandirian bangsa, serta pembaruan peradaban Islam secara menyeluruh.
Pada akhirnya, Dr. Abdullah Asqaf menyimpulkan bahwa pendekatan komprehensif yang diwariskan Ayatollah Khamenei telah mendorong para intelektual Muslim dan lembaga akademik, termasuk di Indonesia, untuk menempatkan dialog peradaban, pendidikan, dan ketahanan sosial sebagai komponen utama dalam pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, warisan kultural tersebut akan terus menjadi sumber inspirasi dan refleksi penting mengenai bagaimana masyarakat Muslim dapat melangkah menuju modernisasi tanpa kehilangan akar spiritual dan kebudayaannya, sekaligus tetap relevan dalam berbagai diskusi kontemporer tentang persatuan Islam, ketahanan budaya, dan masa depan peradaban Islam di tingkat global.



