beritax.id — Kondisi negara rapuh struktural semakin terlihat dari cara negara memperlakukan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Di tengah narasi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro, jutaan pelaku UMKM justru dipaksa bertahan sendiri menghadapi tekanan biaya, persaingan tidak seimbang, dan lemahnya perlindungan kebijakan. UMKM yang selama ini disebut sebagai tulang punggung ekonomi nasional, pada praktiknya kerap dibiarkan berjuang tanpa dukungan struktural yang memadai.
Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai laporan menunjukkan melemahnya kinerja UMKM akibat turunnya daya beli masyarakat, kenaikan harga bahan baku, serta beban biaya operasional. Di sisi lain, kebijakan ekonomi nasional masih lebih condong memfasilitasi korporasi besar dan sektor padat modal, sementara UMKM hanya mendapat bantuan yang bersifat sementara dan tidak berkelanjutan.
Daya Beli Turun, UMKM Terjepit
Pelemahan konsumsi rumah tangga berdampak langsung pada UMKM, khususnya di sektor makanan, ritel, dan jasa. Deflasi statistik yang sempat terjadi justru menandakan masyarakat menahan belanja. Akibatnya, omzet UMKM menurun, arus kas menipis, dan banyak pelaku usaha terpaksa mengurangi produksi atau menutup usaha.
Kondisi ini diperparah oleh minimnya akses pembiayaan murah. Kredit perbankan masih sulit dijangkau UMKM, sementara bunga dan syarat pinjaman kerap tidak sebanding dengan kapasitas usaha kecil.
Persaingan Tidak Seimbang
UMKM juga menghadapi persaingan yang semakin timpang dengan produk impor murah dan dominasi platform besar. Tanpa perlindungan yang adil dan kebijakan industri yang jelas, UMKM lokal kalah bersaing di pasar sendiri. Negara hadir sebagai regulator, tetapi sering absen sebagai pelindung.
Situasi ini mencerminkan ekonomi yang rapuh secara struktural: pertumbuhan ada, tetapi tidak ditopang oleh penguatan pelaku usaha rakyat.
UMKM dan Risiko Sosial Ekonomi
Ketika UMKM melemah, dampaknya bukan hanya pada pelaku usaha, tetapi juga pada penyerapan tenaga kerja dan ketahanan sosial. UMKM adalah penyerap tenaga kerja terbesar, terutama di sektor informal. Membiarkan mereka bertahan sendiri sama artinya dengan mempertaruhkan stabilitas ekonomi masyarakat bawah.
Jika tren ini terus berlanjut, UMKM tidak lagi menjadi mesin pemerataan, melainkan korban dari kebijakan yang tidak berpihak.
Solusi: Menguatkan UMKM secara Struktural
Untuk keluar dari jebakan negara rapuh struktural, penguatan UMKM harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, antara lain:
- Menyediakan akses pembiayaan murah dan mudah bagi UMKM, dengan skema yang benar-benar sesuai kapasitas usaha kecil.
- Melindungi UMKM dari persaingan tidak seimbang, termasuk pengendalian impor dan regulasi platform digital yang adil.
- Meningkatkan daya beli masyarakat, karena keberlangsungan UMKM sangat bergantung pada konsumsi domestik.
- Mengintegrasikan UMKM dalam rantai pasok nasional, bukan sekadar sebagai pelengkap ekonomi.
- Menyederhanakan regulasi dan perizinan, agar UMKM dapat fokus pada produksi dan inovasi, bukan terjebak birokrasi.
UMKM tidak bisa terus diminta bertahan sendiri. Dalam negara rapuh struktural, membiarkan UMKM berjuang tanpa perlindungan sama dengan melemahkan fondasi ekonomi nasional. Jika UMKM runtuh, maka klaim pertumbuhan dan stabilitas ekonomi tak lebih dari angka tanpa makna.



