MALANG — Tiga siswa SD Unggulan Permata Jingga Pakis, Kabupaten Malang, Asma Khairunnisa, Yahya Al-Fatih, dan Moosa Askari Supriadi, berhasil meraih Juara I Regional 6 (Jawa Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Kepulauan Riau) dalam ajang Kompetisi Juara Kelas Indonesia 2026. Prestasi tersebut mengantarkan ketiganya melaju ke babak nasional yang akan digelar di Jakarta.
Kompetisi regional berlangsung pada 2–4 Oktober 2026. Keberhasilan ketiga siswa tersebut tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembinaan yang dilakukan sekolah melalui pengembangan kemampuan akademik, karakter, dan kepercayaan diri siswa.

Dalam proses pembinaan, sekolah berupaya memberikan pendampingan sesuai dengan karakter dan kemampuan masing-masing peserta. Pendekatan tersebut menempatkan siswa sebagai individu yang memiliki potensi berbeda sehingga proses belajar tidak semata-mata berorientasi pada capaian nilai.
Prinsip tersebut sejalan dengan gagasan pendidikan yang kerap disampaikan budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun. Dalam berbagai ceramah dan pemikirannya mengenai pendidikan, terdapat gagasan bahwa anak perlu dibimbing sesuai potensi dan keunikannya, bukan dipaksa mengikuti ukuran keberhasilan yang seragam.
Dalam perspektif tersebut, pendidikan dianalogikan sebagai proses merawat tanaman. Tugas pendidik bukan mengubah satu jenis pohon menjadi jenis lain, melainkan memberikan ruang, nutrisi, dan perawatan agar pohon tersebut tumbuh optimal sesuai karakter alaminya.
Gagasan itu menempatkan guru dan orang tua sebagai pendamping pertumbuhan anak. Pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, kemampuan bernalar, serta kecakapan menghadapi perkembangan teknologi.
Pendekatan tersebut tercermin dalam pendampingan yang dilakukan tim pembimbing SD Unggulan Permata Jingga, yakni Sakina Tunnisa, S.Pd., Nikmatul Jannah, S.Pd.Gr., Dr. Jamal Abdul Nasir, M.M., dan Dra. Tutik Maharini, S.Psi.

Pendampingan dilakukan dengan menyesuaikan proses belajar terhadap kebutuhan dan karakter masing-masing siswa. Dengan pendekatan tersebut, siswa diarahkan untuk mengembangkan kemampuan akademik sekaligus membangun kesiapan mental menghadapi kompetisi.
Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Sinergi antara sekolah, pendamping, orang tua, dan pemerintah daerah menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan prestasi siswa.
Kini, Asma, Yahya, dan Moosa bersiap menghadapi babak nasional di Jakarta. Capaian tersebut menjadi kesempatan bagi ketiganya untuk kembali menguji kemampuan sekaligus membawa nama Jawa Timur dalam kompetisi tingkat nasional. Bagi sekolah, keberhasilan itu menjadi pengingat bahwa prestasi siswa tidak hanya dibentuk melalui latihan akademik, tetapi juga melalui proses panjang dalam membangun karakter, kemandirian, dan kepercayaan diri.



