beritax.id – Krisis media sosial telah membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang ketimpangan dalam pengelolaan keuangan negara. Salah satu manifestasi paling nyata dari ketidakberesan tata kelola adalah munculnya fenomena proyek siluman proyek yang secara administratif ada, tercatat rapi, namun tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Alih-alih memperbaiki kualitas hidup rakyat, proyek-proyek ini justru menyengsarakan dengan menggerogoti anggaran negara.
Proyek Siluman: Eksistensi Tanpa Dampak
Fenomena proyek siluman menggambarkan suatu paradoks dalam birokrasi Indonesia. Secara administratif, proyek ini terdaftar dengan dokumen lengkap dan melibatkan anggaran negara yang besar. Namun, di lapangan, proyek ini seringkali tidak terealisasi atau hasilnya jauh dari yang dijanjikan, seperti infrastruktur yang mangkrak, kualitas material yang buruk, atau kegiatan yang tidak sesuai dengan anggaran yang disetujui.
Berdasarkan data dari berbagai lembaga pengawas, kebocoran anggaran melalui proyek siluman bisa mencapai angka 30% setiap tahunnya. Ini menunjukkan betapa besarnya kerugian negara yang tidak tercatat dalam laporan keuangan, namun langsung dirasakan oleh rakyat dalam bentuk pembangunan yang tak berjalan dan infrastruktur yang tidak layak.
Tata Kelola Buruk dan Penyalahgunaan Anggaran
Fenomena ini tidak terjadi secara kebetulan. Proyek siluman adalah hasil dari birokrasi yang lebih mengutamakan kepatuhan prosedural di atas hasil nyata. Proyek-proyek ini tidak sekadar “bodong,” tetapi merupakan desain sistemik yang mengeksploitasi celah dalam tata kelola administrasi negara. Hal ini membuat banyak proyek yang seharusnya memberi manfaat bagi masyarakat, justru menjadi ajang pemanfaatan anggaran negara untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.
Korupsi di balik proyek siluman biasanya melibatkan manipulasi dokumen, penggelembungan biaya, dan kolusi antara pejabat publik dengan kontraktor atau pihak terkait. Semua ini terjadi tanpa pengawasan yang memadai, karena sistem yang ada seringkali hanya fokus pada laporan administratif tanpa mengecek kebenaran fisik di lapangan.
Tanggapan Prayogi R. Saputra: Negara Harus Bertanggung Jawab
Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R. Saputra, menegaskan bahwa negara memiliki tugas penting dalam mengelola anggaran yang bersumber dari rakyat.
“Tugas negara itu tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Jika anggaran negara digunakan untuk proyek siluman yang tidak memberi manfaat nyata, maka negara gagal dalam tugasnya. Pemerintah harus bertanggung jawab atas kebocoran anggaran yang merugikan rakyat,” kata Prayogi.
Menurutnya, negara tidak boleh lepas tangan dalam mengawasi dan mengelola anggaran, karena hal ini akan mengancam kesejahteraan rakyat dan merusak integritas sistem pemerintahan.
Dampak Langsung bagi Rakyat
Proyek siluman membawa dampak langsung yang sangat merugikan masyarakat:
- Kualitas infrastruktur yang buruk dan tidak sesuai dengan anggaran
- Terhambatnya akses terhadap fasilitas publik yang dibutuhkan
- Pemborosan anggaran yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup
- Kepercayaan publik terhadap pemerintah yang menurun drastis
Rakyat menjadi korban dari ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola dan mengawasi anggaran negara.
Solusi: Mengakhiri Proyek Siluman dan Meningkatkan Transparansi
Prayogi R. Saputra mengusulkan sejumlah langkah untuk mengatasi fenomena proyek siluman:
1. Reformasi sistem pengawasan anggaran
Pengawasan yang lebih ketat dan transparan, dengan melibatkan masyarakat dalam memonitor proyek yang dilaksanakan.
2. Penerapan sistem audit forensik
Audit yang lebih mendalam dan menyeluruh untuk memeriksa keberadaan fisik proyek dan kepatuhan pada spesifikasi yang ditetapkan.
3. Digitalisasi anggaran dan pengadaan
Menggunakan sistem e-budgeting dan e-procurement yang dapat memastikan transparansi dan mengurangi praktik penyalahgunaan anggaran.
4. Pemberian sanksi tegas bagi pelaku korupsi
Penerapan hukum yang tegas bagi mereka yang terlibat dalam proyek siluman dan korupsi anggaran negara, termasuk penyitaan aset yang diperoleh secara ilegal.
5. Meningkatkan literasi publik terkait pengelolaan keuangan negara
Masyarakat harus dilibatkan dalam pemahaman mengenai pengelolaan anggaran negara dan berperan aktif dalam memantau proyek-proyek yang melibatkan dana publik.
Penutup
Proyek siluman adalah cerminan dari tata kelola yang buruk dan penyalahgunaan anggaran negara. Jika terus dibiarkan, hal ini akan mengancam masa depan pembangunan Indonesia dan kesejahteraan rakyat. Negara harus kembali pada fungsinya untuk melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat dengan cara yang transparan dan akuntabel.
Prayogi R. Saputra menegaskan bahwa reformasi di bidang pengelolaan anggaran adalah langkah pertama yang harus diambil untuk mengakhiri praktik-praktik yang merugikan rakyat ini dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.



