beritax.id – Blora, 14 Agustus 2026 — Di tengah dinamika pemerintahan yang kian didominasi persaingan kekuasaan dan kepentingan jangka pendek, forum Suluk Negarawan yang diselenggarakan Lumbung Kreasi Nusantara bersama Sekolah Negarawan di Hotel Azana Hill Resort Blora menghadirkan refleksi mendalam tentang semakin langkanya sosok negarawan dalam kehidupan berbangsa di Indonesia.
Forum yang berlangsung pada Jumat (14/8/2026) itu menghadirkan penggagas Sekolah Negarawan Adil Amrullah atau Cak Dil, Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, dan Wakil Direktur Bidang Hukum dan Kerja Sama Rinto Setiyawan. Dalam diskusi tersebut, para peserta diajak membedakan secara tegas antara politikus dan negarawan.
Perbedaan Politikus dan Negarawan
Dalam salah satu materi yang dipaparkan Sekolah Negarawan disebutkan bahwa politikus cenderung berpikir transaksional dan jangka pendek. Sedangkan negarawan berpikir jauh melampaui kepentingan kekuasaan sesaat.
Bagi Sekolah Negarawan, negarawan adalah sosok yang bijaksana, visioner, berintegritas, dan memahami ilmu kenegaraan secara mendalam. Negarawan tidak harus berada di dalam lingkar kekuasaan. Ia bisa hadir di tengah masyarakat sebagai penjaga nilai, pengingat arah bangsa, sekaligus pengawal kepentingan rakyat.
“Negarawan tidak identik dengan pejabat atau jenderal. Tugas utamanya menjaga prinsip dasar negara agar tetap berjalan untuk keadilan dan kesejahteraan rakyat,” terang salah satu pemateri dalam forum tersebut.
Pendidikan Kenegarawanan bagi Generasi Muda
Penggagas Sekolah Negarawan, Cak Dil, menegaskan bahwa kesadaran tentang kenegarawanan harus dibangun sejak dini, terutama di kalangan generasi muda. Menurutnya, bangsa yang besar tidak cukup hanya memiliki banyak politisi, tetapi membutuhkan manusia-manusia yang memiliki tanggung jawab moral terhadap arah perjalanan negara.
“Setiap warga negara punya tanggung jawab terhadap keadaan negaranya,” ujarnya.
Karena itu, Suluk Negarawan dirancang bukan sekadar sebagai seminar kebangsaan, melainkan ruang pendidikan yang mengajak peserta berpikir lebih mendalam tentang makna negara, kekuasaan, dan tanggung jawab sosial.
Dalam forum tersebut, Cak Dil juga menyinggung gagasan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun mengenai pentingnya memisahkan negara dan pemerintah. Menurutnya, negara tidak boleh dipersempit hanya menjadi pemerintah yang sedang berkuasa. Jika keduanya dilebur tanpa jarak, kritik terhadap pemerintah akan mudah dianggap sebagai ancaman terhadap negara.
Sekolah Negarawan mengaku selama hampir dua tahun terakhir melakukan riset dan kajian serius terhadap gagasan tersebut. Agar dapat diterjemahkan menjadi konsep yang lebih aplikatif dan relevan bagi generasi muda Indonesia.
Fraktal Sosial dan Krisis Budaya Bangsa
Sementara itu, Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra menjelaskan bahwa krisis kenegarawanan hari ini juga berkaitan dengan budaya sosial yang terus mereproduksi mental feodal dan populis. Ia menggunakan teori “fraktal sosial” untuk menggambarkan bagaimana pola-pola kecil dalam masyarakat perlahan berubah menjadi budaya besar yang memengaruhi kehidupan bangsa.
Menurut Saputra, praktik korupsi, budaya takut tertinggal, hingga kebiasaan melanggar aturan tumbuh dari pola berulang yang dinormalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pola itu terus diwariskan, bangsa akhirnya kehilangan disiplin sosial dan orientasi moral.
“Persoalan bangsa ini bukan muncul tiba-tiba. Ia dibentuk oleh pola kecil yang terus diulang,” katanya.
Karena itu, Sekolah Negarawan mendorong perlunya perubahan melalui dua jalur sekaligus: transformasi struktural dan transformasi kultural. Transformasi struktural dapat dilakukan melalui pembenahan sistem ketatanegaraan, termasuk wacana amandemen kelima UUD RI. Sedangkan transformasi kultural dilakukan melalui pendidikan dan pemanfaatan teknologi informasi untuk membangun budaya yang lebih transparan dan akuntabel.

Blora sebagai Ruang Refleksi Kebangsaan
Forum Suluk Negarawan di Blora sendiri berlangsung dalam suasana hangat dan reflektif. Para peserta datang dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, pegiat komunitas, hingga tokoh masyarakat.
Blora dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki sejarah panjang dalam melahirkan tokoh-tokoh pemikiran yang kritis terhadap keadaan bangsa, seperti Samin Surosentiko dan Pramoedya Ananta Toer.
Di akhir forum, satu pesan yang paling terasa adalah bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menang dalam pemilu, tetapi oleh sejauh mana bangsa ini mampu melahirkan manusia-manusia yang berpikir melampaui dirinya sendiri.
Sebab republik yang besar, pada akhirnya, tidak hanya membutuhkan penguasa. Ia membutuhkan negarawan.



