beritax.id – Malang – Di tengah meningkatnya kegelisahan terhadap kondisi kebangsaan, Sekolah Negarawan melakukan kunjungan silaturahmi kepada Ketua Umum Ahlul Bait Indonesia (ABI), Ustadz Zahir Yahya, di kediamannya di Kota Malang, pada suatu sore di bulan Juni. Pertemuan tersebut berlangsung hampir lima jam dan menjadi ruang dialog mendalam mengenai masa depan Indonesia serta upaya mencari jalan keluar atas berbagai persoalan kebangsaan.
Silaturahmi tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, Ph.D, didampingi Wakil Direktur Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP.

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas situasi bangsa yang dinilai tengah menghadapi krisis kepercayaan di berbagai lini kehidupan. Krisis tersebut tidak hanya terjadi antara rakyat dan pemerintah, tetapi juga merambah hubungan antara masyarakat dengan birokrasi, antar-elite politik, hingga sesama warga negara.
Menurut Prayogi, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi perjalanan demokrasi Indonesia. Polarisasi yang terus menguat dikhawatirkan akan mengikis modal sosial bangsa apabila tidak segera dihadapi dengan kebijaksanaan para tokoh bangsa yang mampu berdiri di atas seluruh kepentingan politik praktis.
“Bangsa ini memerlukan ruang perjumpaan yang mempertemukan para sesepuh bangsa, tokoh masyarakat, pemuka agama, akademisi, budayawan, dan berbagai elemen bangsa yang telah melepaskan diri dari kepentingan politik praktis. Mereka perlu duduk bersama untuk memikirkan masa depan Indonesia,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sekolah Negarawan menyampaikan gagasan pembentukan sebuah Majelis Sesepuh Bangsa, yakni forum musyawarah yang berisi tokoh-tokoh bangsa lintas latar belakang yang berorientasi sepenuhnya kepada kepentingan rakyat serta masa depan generasi Indonesia.
Majelis tersebut diharapkan menjadi ruang moral kebangsaan yang mampu memberikan arah, nasihat, serta menjaga perjalanan bangsa agar tetap berada di jalur cita-cita pendiri negara menuju terwujudnya kedaulatan rakyat yang sesungguhnya.
Selain menjadi wadah dialog kebangsaan, majelis tersebut juga diharapkan dapat merumuskan mekanisme terbaik dalam mengawal perjalanan demokrasi Indonesia secara damai, bermartabat, dan berkeadaban.
Pertemuan yang berlangsung hampir lima jam itu berjalan dalam suasana hangat, penuh kekeluargaan, dan diwarnai diskusi mendalam mengenai tantangan kebangsaan, nilai-nilai persatuan, serta pentingnya menghidupkan kembali tradisi musyawarah para tetua bangsa dalam menyelesaikan persoalan-persoalan nasional.
Bagi Sekolah Negarawan, silaturahmi tersebut merupakan bagian dari ikhtiar membangun komunikasi dengan berbagai tokoh bangsa sebagai langkah awal membangun gerakan moral kebangsaan yang berpijak pada semangat persatuan, keadilan, dan kepentingan rakyat di atas segala kepentingan golongan.



