beritax.id – Ada satu gejala sosial yang sering luput disadari, tetapi dampaknya sangat dalam: ketika bau busuk tak lagi dianggap mengganggu. Bukan karena baunya hilang, melainkan karena orang-orang telah terlalu lama hidup di sekitarnya. Dalam kondisi itulah, kebusukan berubah menjadi kebiasaan.
Begitulah potret relasi rakyat dengan sistem negara hari ini. Banyak hal yang dulu dianggap salah, kini diterima sebagai kelaziman. Ketidakadilan terasa wajar. Pelanggaran dianggap biasa. Kebijakan yang menyulitkan rakyat diterima dengan pasrah. Bukan karena rakyat tidak tahu, tetapi karena sistem yang membusuk itu dibiarkan terlalu lama tanpa pembenahan serius.
Normalisasi Kebusukan
Kebusukan sistem negara tidak selalu hadir dalam bentuk skandal besar. Ia justru lebih berbahaya ketika tampil dalam bentuk rutinitas: aturan yang berbelit, pelayanan yang lambat, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta kebijakan publik yang terasa jauh dari kebutuhan nyata rakyat.
Awalnya rakyat mengeluh. Lalu terbiasa. Setelah itu, diam. Pada tahap inilah kebusukan mencapai bentuk paling matang: diterima sebagai keniscayaan.
Ketika sistem yang rusak dinormalisasi, daya kritis publik melemah. Ketidakberesan tidak lagi memicu kemarahan, melainkan kelelahan. Rakyat berhenti berharap, karena berharap dianggap hanya akan berujung kecewa.
Sistem yang Membusuk, Bukan Sekadar Aparat
Sering kali, kerusakan negara disederhanakan sebagai ulah oknum. Padahal, oknum hanyalah gejala. Akar masalahnya adalah sistem yang memungkinkan kebusukan terus berulang tanpa konsekuensi berarti.
Dalam sistem seperti ini, perilaku menyimpang tidak selalu dihukum, bahkan kadang justru dihargai. Yang patuh tertinggal, yang lihai melanggar melaju. Ketika mekanisme penghargaan dan hukuman terbalik, sistem secara tidak langsung mengajarkan bahwa kebusukan adalah strategi bertahan hidup.
Maka jangan heran jika kebusukan tidak lagi disembunyikan. Ia tampil terbuka, percaya diri, dan bahkan dilindungi.
Rakyat yang Dipaksa Beradaptasi
Rakyat berada di posisi paling rentan dalam sistem yang membusuk. Mereka tidak memiliki cukup kuasa untuk mengubah aturan, tetapi harus menanggung seluruh dampaknya. Ketika sistem tidak memberi perlindungan, rakyat dipaksa beradaptasi dengan cara mereka sendiri—sering kali dengan mengorbankan nilai.
Dalam situasi ini, bukan hanya keadilan yang terkikis, tetapi juga etos kewargaan. Kejujuran terasa mahal. Kepatuhan terasa sia-sia. Integritas dianggap idealisme yang tidak praktis. Rakyat belajar bahwa untuk bertahan, mereka harus “pandai membaca situasi”, bukan memegang prinsip.
Inilah proses panjang yang membuat bau busuk tak lagi tercium: indra moral masyarakat menjadi tumpul.
Pemerintah yang Nyaman dalam Sistem Rusak
Kebusukan sistem akan sulit diakhiri jika mereka yang berada di puncak kekuasaan justru merasa nyaman di dalamnya. Sistem yang rusak sering kali menyediakan ruang aman bagi kekuasaan: minim pengawasan, akuntabilitas kabur, dan kritik mudah dipatahkan.
Ketika pemerintah tidak memiliki insentif kuat untuk membenahi sistem, maka pembusukan dibiarkan berjalan perlahan, rapi, dan terkelola. Yang tampak di permukaan adalah stabilitas. Padahal di dalamnya, legitimasi perlahan keropos.
Negara memang tidak runtuh seketika. Tetapi kepercayaan rakyat terkikis sedikit demi sedikit—dan itu jauh lebih berbahaya.
Bahaya Terbesar: Kehilangan Rasa Salah
Bahaya terbesar dari sistem yang membusuk bukanlah kemiskinan atau ketimpangan semata, melainkan hilangnya rasa salah secara kolektif. Ketika kebusukan dianggap wajar, masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang pantas dan mana yang menyimpang.
Pada titik ini, negara tidak hanya gagal melayani, tetapi juga gagal mendidik warganya secara moral. Rakyat hidup, tetapi tidak merasa memiliki. Taat, tetapi tanpa hormat. Patuh, tetapi tanpa kepercayaan.
Rakyat tidak tiba-tiba terbiasa dengan bau busuk. Mereka dibentuk oleh lingkungan yang terus-menerus memaksakan kebusukan sebagai norma. Selama sistem negara dibiarkan membusuk, rakyat akan terus dipaksa menyesuaikan diri—bukan karena setuju, tetapi karena tidak melihat jalan keluar.
Jika kita sungguh ingin membangun bangsa yang sehat, maka membersihkan kebusukan tidak cukup dilakukan di permukaan. Yang harus dibongkar adalah sistemnya, bukan sekadar gejalanya. Karena hanya dengan sistem yang bersih, rakyat bisa kembali bernapas lega—dan tidak lagi hidup dalam bau busuk yang dianggap biasa.



