By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Monday, 5 January 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Rakyat Terbiasa Bau Busuk karena Sistem Negara Dibiarkan Membusuk
Pemerintah

Rakyat Terbiasa Bau Busuk karena Sistem Negara Dibiarkan Membusuk

Diajeng Maharani
Last updated: January 4, 2026 9:55 am
By Diajeng Maharani
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id – Ada satu gejala sosial yang sering luput disadari, tetapi dampaknya sangat dalam: ketika bau busuk tak lagi dianggap mengganggu. Bukan karena baunya hilang, melainkan karena orang-orang telah terlalu lama hidup di sekitarnya. Dalam kondisi itulah, kebusukan berubah menjadi kebiasaan.

Contents
Normalisasi KebusukanSistem yang Membusuk, Bukan Sekadar AparatRakyat yang Dipaksa BeradaptasiPemerintah yang Nyaman dalam Sistem RusakBahaya Terbesar: Kehilangan Rasa Salah

Begitulah potret relasi rakyat dengan sistem negara hari ini. Banyak hal yang dulu dianggap salah, kini diterima sebagai kelaziman. Ketidakadilan terasa wajar. Pelanggaran dianggap biasa. Kebijakan yang menyulitkan rakyat diterima dengan pasrah. Bukan karena rakyat tidak tahu, tetapi karena sistem yang membusuk itu dibiarkan terlalu lama tanpa pembenahan serius.

Normalisasi Kebusukan

Kebusukan sistem negara tidak selalu hadir dalam bentuk skandal besar. Ia justru lebih berbahaya ketika tampil dalam bentuk rutinitas: aturan yang berbelit, pelayanan yang lambat, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta kebijakan publik yang terasa jauh dari kebutuhan nyata rakyat.

Awalnya rakyat mengeluh. Lalu terbiasa. Setelah itu, diam. Pada tahap inilah kebusukan mencapai bentuk paling matang: diterima sebagai keniscayaan.

Ketika sistem yang rusak dinormalisasi, daya kritis publik melemah. Ketidakberesan tidak lagi memicu kemarahan, melainkan kelelahan. Rakyat berhenti berharap, karena berharap dianggap hanya akan berujung kecewa.

Sistem yang Membusuk, Bukan Sekadar Aparat

Sering kali, kerusakan negara disederhanakan sebagai ulah oknum. Padahal, oknum hanyalah gejala. Akar masalahnya adalah sistem yang memungkinkan kebusukan terus berulang tanpa konsekuensi berarti.

You Might Also Like

Keberatan Diabaikan, DJBC Langgar UU: Ketika Negara Diam, Hukum Menganggap Menang
Rencana Prabowo Pangkas Anggaran ke Putaran 3 Tembus Rp750 T, Partai X: Jangan Korbankan Rakyat!
Jika Pemimpin Kekuasaan Tak Mau Turun, Rakyat yang Harus Melawan
Pengendalian Narasi Nasional: Ketika Kebenaran Diatur Regulasi

Dalam sistem seperti ini, perilaku menyimpang tidak selalu dihukum, bahkan kadang justru dihargai. Yang patuh tertinggal, yang lihai melanggar melaju. Ketika mekanisme penghargaan dan hukuman terbalik, sistem secara tidak langsung mengajarkan bahwa kebusukan adalah strategi bertahan hidup.

Maka jangan heran jika kebusukan tidak lagi disembunyikan. Ia tampil terbuka, percaya diri, dan bahkan dilindungi.

Rakyat yang Dipaksa Beradaptasi

Rakyat berada di posisi paling rentan dalam sistem yang membusuk. Mereka tidak memiliki cukup kuasa untuk mengubah aturan, tetapi harus menanggung seluruh dampaknya. Ketika sistem tidak memberi perlindungan, rakyat dipaksa beradaptasi dengan cara mereka sendiri—sering kali dengan mengorbankan nilai.

Dalam situasi ini, bukan hanya keadilan yang terkikis, tetapi juga etos kewargaan. Kejujuran terasa mahal. Kepatuhan terasa sia-sia. Integritas dianggap idealisme yang tidak praktis. Rakyat belajar bahwa untuk bertahan, mereka harus “pandai membaca situasi”, bukan memegang prinsip.

Inilah proses panjang yang membuat bau busuk tak lagi tercium: indra moral masyarakat menjadi tumpul.

Pemerintah yang Nyaman dalam Sistem Rusak

Kebusukan sistem akan sulit diakhiri jika mereka yang berada di puncak kekuasaan justru merasa nyaman di dalamnya. Sistem yang rusak sering kali menyediakan ruang aman bagi kekuasaan: minim pengawasan, akuntabilitas kabur, dan kritik mudah dipatahkan.

Ketika pemerintah tidak memiliki insentif kuat untuk membenahi sistem, maka pembusukan dibiarkan berjalan perlahan, rapi, dan terkelola. Yang tampak di permukaan adalah stabilitas. Padahal di dalamnya, legitimasi perlahan keropos.

Negara memang tidak runtuh seketika. Tetapi kepercayaan rakyat terkikis sedikit demi sedikit—dan itu jauh lebih berbahaya.

Bahaya Terbesar: Kehilangan Rasa Salah

Bahaya terbesar dari sistem yang membusuk bukanlah kemiskinan atau ketimpangan semata, melainkan hilangnya rasa salah secara kolektif. Ketika kebusukan dianggap wajar, masyarakat kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang pantas dan mana yang menyimpang.

Pada titik ini, negara tidak hanya gagal melayani, tetapi juga gagal mendidik warganya secara moral. Rakyat hidup, tetapi tidak merasa memiliki. Taat, tetapi tanpa hormat. Patuh, tetapi tanpa kepercayaan.

Rakyat tidak tiba-tiba terbiasa dengan bau busuk. Mereka dibentuk oleh lingkungan yang terus-menerus memaksakan kebusukan sebagai norma. Selama sistem negara dibiarkan membusuk, rakyat akan terus dipaksa menyesuaikan diri—bukan karena setuju, tetapi karena tidak melihat jalan keluar.

Jika kita sungguh ingin membangun bangsa yang sehat, maka membersihkan kebusukan tidak cukup dilakukan di permukaan. Yang harus dibongkar adalah sistemnya, bukan sekadar gejalanya. Karena hanya dengan sistem yang bersih, rakyat bisa kembali bernapas lega—dan tidak lagi hidup dalam bau busuk yang dianggap biasa.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Negara Rusak Karena Sistem Negara Rusak
Next Article Krisis Keadilan: Kebijakan Terlihat Indah di Presentasi, Buruk di Kehidupan Nyata

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025
Pendidikan

400 Ribu Guru Gagal Mengikuti PPG 2025: Efisiensi Anggaran atau Kebijakan yang Tidak Pro Rakyat?

February 24, 2025

You May also Like

Publik digegerkan pendapatan DPR yang mencapai lebih Rp100 juta per bulan. Selain itu, anggota DPR tetap menikmati fasilitas
Seputar Pajak

Pendapatan DPR Bebas Pajak, Partai X: Rakyat Bayar Pajak, DPR Cuma Menikmati!

August 26, 2025
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI melakukan penguatan ideologi Pancasila di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau
Pemerintah

Penguatan Pancasila Diteriakkan di Perbatasan, Partai X: Di Pusat Kekuasaan Malah Jadi Pajangan!

July 16, 2025
Pemerintah

Tokoh Politik Populer Belum Tentu Seorang Negarawan

May 26, 2025
Pemerintah

Prabowo Minta Copot Bupati Aceh Selatan, Partai X Soroti Ketidakpedulian

December 8, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Hot
  • Politics
  • Renewable Energy
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.