beritax.id – Dalam potret pertumbuhan ekonomi Indonesia hari ini, angka-angka makro kerap ditampilkan positif dan stabil. Namun di balik statistik tersebut, jutaan buruh masih hidup dari upah ke upah tanpa ruang untuk menabung atau meningkatkan kualitas hidup. Kondisi ini menunjukkan adanya jurang antara keberhasilan ekonomi di atas kertas dan kesejahteraan nyata di tingkat pekerja.
Angka Makro Membaik, Kehidupan Buruh Stagnan
Pertumbuhan PDB, inflasi terkendali, dan indikator fiskal yang dinilai aman belum otomatis memperbaiki kehidupan buruh. Upah bergerak lambat, sementara harga kebutuhan hidup terus meningkat. Akibatnya, buruh terjebak dalam siklus bertahan hidup bulanan, rentan terhadap guncangan sekecil apa pun.
Buruh sebagai Penyangga Pertumbuhan
Dalam struktur ekonomi saat ini, buruh kerap dijadikan penyangga agar pertumbuhan tetap terlihat stabil. Fleksibilitas kerja, kontrak jangka pendek, dan pembatasan kenaikan upah dipraktikkan demi menjaga efisiensi biaya. Pola ini menempatkan buruh sebagai alat penyesuaian, bukan sebagai subjek pembangunan.
Tanggapan Prayogi R Saputra: Pertumbuhan Harus Dirasakan Buruh
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Majelis Tinggi Partai X sekaligus Direktur X Institute, Prayogi R Saputra, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan ekonomi tidak boleh berhenti pada statistik.
“Tugas negara itu ada tiga: melindungi rakyat, melayani rakyat, dan mengatur rakyat. Jika dalam potret pertumbuhan ekonomi buruh masih hidup dari upah ke upah, maka negara belum menjalankan fungsinya secara utuh,” tegas Prayogi.
Ia menekankan bahwa buruh adalah fondasi ekonomi, bukan sekadar angka dalam laporan pertumbuhan.
Akar Masalah: Pertumbuhan Tanpa Keadilan Upah
Prayogi menilai persoalan utama terletak pada kebijakan pertumbuhan yang tidak dibarengi distribusi hasil yang adil. Produktivitas meningkat, tetapi nilai tambah tidak mengalir ke buruh. Ketimpangan ini membuat pertumbuhan kehilangan makna sosialnya.
Solusi: Menjadikan Pertumbuhan Lebih Berkeadilan
Sebagai langkah perbaikan, Partai X melalui X Institute mendorong solusi berikut:
- Penetapan Upah Layak Berbasis Kebutuhan Hidup
Upah harus mencerminkan biaya hidup nyata agar buruh tidak terus hidup dari bulan ke bulan. - Penguatan Kepastian Kerja dan Perlindungan Buruh
Negara perlu membatasi kontrak berkepanjangan dan memperluas jaminan sosial. - Arah Ulang Strategi Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan harus diarahkan pada sektor bernilai tambah tinggi yang memberi ruang peningkatan pendapatan pekerja. - Penguatan Peran Negara dalam Relasi Industrial
Negara wajib hadir sebagai penyeimbang antara kepentingan modal dan hak buruh.
Potret pertumbuhan ekonomi yang hanya indah di angka namun timpang di kehidupan buruh adalah peringatan serius. Tanpa keadilan upah dan perlindungan kerja, pertumbuhan kehilangan makna. Negara harus kembali pada mandatnya: melindungi, melayani, dan mengatur demi kesejahteraan buruh dan keadilan sosial.



