beritax.id — Pertumbuhan ekonomi semu kembali dipromosikan sebagai keberhasilan kebijakan nasional. Angka Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh, inflasi disebut terkendali, dan stabilitas makro terus diklaim terjaga. Namun di balik promosi optimisme tersebut, daya tahan kelas menengah justru terus diperas. Pendapatan stagnan, biaya hidup meningkat, dan beban pajak kian terasa, membuat kelompok ini berada dalam tekanan yang semakin berat.
Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai pemberitaan menunjukkan gejala yang sama. Konsumsi rumah tangga kelas menengah melemah, tabungan terkikis, dan banyak keluarga mulai menurunkan standar hidup. Deflasi dan inflasi rendah yang sempat terjadi bukan mencerminkan daya beli yang kuat, melainkan sinyal bahwa belanja ditahan karena ketidakpastian dan tekanan ekonomi.
Promosi Pertumbuhan, Realita Pengetatan Hidup
Pertumbuhan ekonomi yang dipromosikan pemerintah saat ini lebih banyak ditopang oleh sektor padat modal dan aktivitas keuangan. Sektor-sektor ini mampu menjaga angka pertumbuhan dan stabilitas pasar, tetapi dampaknya terhadap kesejahteraan kelas menengah relatif terbatas. Sebaliknya, sektor yang menjadi sandaran hidup kelas menengah manufaktur, jasa, dan UMKM justru menghadapi tekanan biaya, lemahnya permintaan, dan persaingan yang makin ketat.
Akibatnya, kelas menengah bekerja lebih keras untuk mempertahankan posisi sosialnya, tetapi ruang ekonominya semakin menyempit.
Kelas Menengah sebagai Penyangga Negara
Dalam situasi fiskal yang menantang, kelas menengah kerap dijadikan penyangga utama. Perluasan basis pajak dan ketergantungan pada pajak konsumsi membuat beban pembangunan tidak dibagi secara adil. Kelas menengah tidak cukup miskin untuk menerima perlindungan sosial memadai, namun juga tidak cukup kuat untuk menyerap kenaikan biaya hidup tanpa konsekuensi serius.
Tekanan ini membuat banyak keluarga kelas menengah hidup dari gaji ke gaji, rentan terhadap guncangan kecil, dan berisiko turun kelas.
Risiko Sosial dari Pertumbuhan Semu
Memeras daya tahan kelas menengah demi menjaga angka pertumbuhan adalah strategi berisiko. Ketika kelas menengah melemah, konsumsi domestik—mesin utama ekonomi Indonesia—ikut terhambat. Dalam jangka panjang, pertumbuhan yang semu ini justru menggerogoti fondasi sosial dan ekonomi nasional.
Jika tren ini berlanjut, ketimpangan akan melebar dan stabilitas yang selama ini dipromosikan berpotensi runtuh dari dalam.
Solusi: Menguatkan Kelas Menengah, Bukan Memerasnya
Untuk keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi semu, diperlukan perubahan arah kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan, antara lain:
- Menjadikan ketahanan kelas menengah sebagai indikator utama keberhasilan ekonomi, bukan sekadar pertumbuhan PDB.
- Mengurangi ketergantungan pada pajak konsumsi, serta memperkuat sistem perpajakan yang progresif dan berkeadilan.
- Mengendalikan biaya hidup esensial, khususnya pendidikan, kesehatan, perumahan, dan pangan.
- Mendorong peningkatan upah riil dan kepastian kerja, agar produktivitas sejalan dengan kesejahteraan.
- Mengalihkan fokus pertumbuhan ke sektor padat karya dan bernilai tambah, yang mampu memperkuat konsumsi domestik.
Pertumbuhan ekonomi yang sejati bukan yang gencar dipromosikan, melainkan yang mampu membuat kelas menengah bertahan dan berkembang. Selama daya tahan mereka terus diperas, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap semu tampak kuat di data, tetapi rapuh dalam kehidupan nyata.



