beritax.id — Pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali dipromosikan sebagai capaian positif melalui berbagai indikator makro. Angka Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh, inflasi diklaim terkendali, dan stabilitas fiskal disebut terjaga. Namun di balik pertumbuhan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang sebenarnya diuntungkan? Bagi banyak rakyat, pertumbuhan ekonomi justru terasa lebih menguntungkan sistem dibandingkan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam beberapa bulan terakhir, publik menyaksikan kontras yang tajam antara klaim keberhasilan ekonomi dan realitas sosial. Di satu sisi, pasar keuangan dan sektor padat modal menunjukkan kinerja positif. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga melemah, pemutusan hubungan kerja di sektor padat karya terjadi, dan pekerjaan informal terus meluas. Pertumbuhan hadir di laporan, tetapi manfaatnya berhenti di lingkaran tertentu.
Pertumbuhan yang Berputar di Atas
Struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini lebih banyak ditopang oleh sektor komoditas, keuangan, dan aktivitas padat modal. Sektor-sektor ini relatif tahan terhadap guncangan dan mampu menjaga angka pertumbuhan nasional. Namun kontribusinya terhadap penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan pendapatan rakyat sangat terbatas.
Sebaliknya, sektor manufaktur, UMKM, dan jasa yang menjadi sandaran hidup jutaan orang justru menghadapi tekanan biaya, lemahnya permintaan, dan minimnya perlindungan. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi berputar di atas dan tidak mengalir ke bawah.
Sistem Kuat, Rakyat Menahan Beban
Dalam situasi fiskal yang ketat, sistem ekonomi dijaga tetap stabil melalui optimalisasi penerimaan negara, termasuk perluasan pajak dan penyesuaian tarif layanan publik. Beban penyesuaian ini banyak ditanggung oleh masyarakat, khususnya kelas pekerja dan kelas menengah. Pendapatan stagnan bertemu dengan biaya hidup yang meningkat, membuat ruang ekonomi rumah tangga semakin sempit.
Sistem terlihat kuat, tetapi rakyat dipaksa menahan beban demi menjaga stabilitas tersebut.
Ketimpangan sebagai Konsekuensi
Pertumbuhan ekonomi yang lebih menguntungkan sistem berisiko memperdalam ketimpangan. Ketika keuntungan ekonomi terkonsentrasi, sementara mayoritas rakyat menghadapi tekanan hidup, ketahanan sosial melemah. Konsumsi domestik—motor utama ekonomi nasional—ikut tergerus, menjadikan pertumbuhan jangka panjang semakin rapuh.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan pada ada atau tidaknya pertumbuhan, melainkan pada siapa yang menikmati hasilnya.
Solusi: Menggeser Arah Pertumbuhan
Agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya menguntungkan sistem, diperlukan koreksi arah kebijakan yang lebih berpihak pada rakyat, antara lain:
- Menjadikan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar menjaga stabilitas angka makro.
- Mengalihkan fokus pertumbuhan ke sektor padat karya dan bernilai tambah, yang mampu menciptakan kerja layak dan pendapatan stabil.
- Mengurangi ketergantungan pada pajak konsumsi, serta memperkuat sistem perpajakan yang progresif dan berkeadilan.
- Mengendalikan biaya hidup esensial, terutama pangan, pendidikan, kesehatan, dan perumahan.
- Memastikan distribusi manfaat pertumbuhan yang lebih merata, agar ekonomi nasional berdiri di atas fondasi sosial yang kuat.
Pertumbuhan ekonomi seharusnya menjadi alat untuk menyejahterakan rakyat, bukan sekadar mekanisme yang menguntungkan sistem. Selama manfaatnya belum dirasakan secara luas, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menyisakan persoalan mendasar yang harus segera dibenahi.



