Oleh: Muhammad Acang Hasanudin.
Analis di Sekolah Negarawan
beritax.id – Salah satu ayat di kitab suci menyebut bahwa manusia selalu terburu-buru. Termasuk terlalu terburu-buru menyebut diri kita “modern”. Terlalu cepat merasa telah meninggalkan masa lalu. Kita bangun gedung-gedung tinggi, kita cetak undang-undang, kita adakan pemilu lima tahunan, lalu kita merasa telah melakukan sesuatu. Kita sudah menjadi republik. Kita sudah menggenggam demokrasi.
Padahal sangat boleh jadi, kita hanya sedang berganti kostum.
Di dalam dada kita, di dalam cara kita menunduk dan menatap, di dalam cara kita memanggil seseorang dengan “ndan”, atau mengawali sesuatu dengan frasa “mohon ijin” sambil mengukur jarak kekuasaan, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita bongkar. Sesuatu yang tidak mungkin tertulis dalam konstitusi atau tercantum dalam laporan lembaga internasional. Tetapi ia bekerja seperti kanker, perlahan dan senyap. Terlalu senyap untuk bisa kita kenali gejalanya. Laksana semut hitam di atas batu hitam di tengah malam.
Saya tidak tahu istilah ilmiahnya apa. Bisa jadi adalah apa yang belakangan dikenali gejalanya dengan istilah democratic backsliding. Mungkin para peneliti di V-Dem Institute 2026 sudah menghitungnya dengan parameter yang terukur, hingga menemukan bahwa sebagian besar manusia di bumi ini ternyata hidup di bawah bayang-bayang otokrasi.
Tetapi, mohon ijin, saya ingin bertanya dengan cara yang lebih sederhana yaitu apakah kita pernah benar-benar berhenti menjadi rakyat kerajaan?
Sebab kita ini unik. Kita bisa dengan bangga menyebut diri “warga negara”, sambil praktik sehari-hari kita masih mencari “pemimpin” seperti menunggu Godot. Memimpikan Ratu Adil, meskipun yang datang ternyata masih dan selalu bedil. Kita ingin dilindungi, ingin diatur, ingin diputuskan nasibnya. Kita marah kepada penguasa, tetapi sekaligus kita memimpikannya tiap malam. Kita mencela kekuasaan, tetapi diam-diam kita kagum pada siapa pun yang bisa menggenggam kekuasaan.
Maka tidaklah mengherankan kalau demokrasi kita berjalan, di tempat. Pemilu? Ada. Partai? Apalagi. Perwakilan rakyat? Oh, sudah tentu. Pun juga yang didewakan sebagai suara mayoritas, masih ada. Tetapi di balik semua itu, ada jaringan-jaringan tak terlihat yang bekerja lebih kuat daripada undang-undang. Loyalitas pribadi, hubungan patronase, rasa sungkan, rasa takut kehilangan akses semua itu ternyata lebih menentukan daripada apa yang tertulis.
Tidak mengagetkan kalau hari ini orang-orang pintar mengatakan bahwa demokrasi sedang mundur. Mungkin karena demokrasi kita memang tidak pernah benar-benar maju. Dunia sedang terapung-apung dalam gelombang otokrasi (Lindberg S, 2026) dan otoritarianisme (Desrosiers M-E & Cheeseman N., 2026) baru.
Sesuatu yang lebih dari dua dekade lalu mungkin tersirat dalam kandungan kata dan kalimat yang dituliskan Cak Nun. Kerajaan Indonesia dan Demokrasi laa roiba fihi, misalnya.
Yang mundur itu bentuknya. Sementara watak kekuasannya, menetap.
Di negeri yang jauh seperti Amerika Serikat, orang-orang turun ke jalan membawa kegelisahan yang aneh dalam rangkaian unjukrasa NoKings. Mereka menolak “raja”. Mereka takut kekuasaan terkonsentrasi pada satu figur.
Sesuatu yang menarik. Negeri yang selama ini dianggap sebagai contoh demokrasi justru mulai takut pada kemungkinan yang selama ini kita alami setiap hari.
Kita di sini mungkin bertanya dengan tertawa kecil. “Lah, kok baru tahu?.” Tetapi mungkin justru di situlah persoalannya. Kita terlalu terbiasa. Kita tidak merasa ada yang aneh ketika kekuasaan menjadi terkonsentrasi pada sosok dan kelompok. Kita tidak gelisah ketika hukum bisa dilenturkan. Kita tidak kaget ketika yang dekat dengan pusat kekuasaan mendapat lebih banyak daripada yang jauh.
Di Amerika sana mereka berteriak “No Kings”. Di sini kita diam-diam masih memelihara raja. Di dalam kepala kita masing-masing.
Saya tidak mungkin menyalahkan siapa-siapa. Tidak juga sedang membela siapa-siapa. Karena persoalan ini bukan soal satu presiden, satu partai, atau satu rezim. Ini soal sesuatu yang lebih menyakitkan yaitu cara kita memandang kekuasaan dan cara kita meletakkan diri kita sendiri. Kalau kita masih merasa kecil di hadapan kekuasaan, maka kita akan terus mencari figur besar. Kita masih terus menunggu Godot.
Kalau kita masih lebih menghormati jabatan daripada kebenaran, maka sistem apa pun akan tunduk pada orang, bukan sebaliknya. Kalau kita masih takut kehilangan privilege kekuasaan daripada kehilangan keadilan, maka demokrasi hanya akan menjadi upacara.
Maka mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi “Apakah demokrasi kita mundur?” Melainkan “Apakah kita pernah benar-benar siap untuk tidak punya raja?”
Deretan ratusan pertanyaan yang mungkin hanya bisa dijawab “ya ndak tahu, kok tanya saya?”



