By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Monday, 3 August 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Negeri Dalam Ekstraksi, Rakyat Menonton Hasil Buminya
Pemerintah

Negeri Dalam Ekstraksi, Rakyat Menonton Hasil Buminya

Diajeng Maharini
Last updated: June 10, 2026 1:50 pm
By Diajeng Maharini
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id – Indonesia sering memamerkan kemajuan melalui gedung tinggi, jalan tol, dan teknologi digital yang merata di kota besar. Pemerintah menekankan transformasi digital, hilirisasi industri, kecerdasan buatan, dan visi Indonesia Emas. Dari jauh, negeri ini tampak modern, rasional, efisien, dan beradab. Namun pertanyaan mendasar muncul: apakah modernitas cukup diukur dari penampilan fisik dan teknologi canggih? Ataukah modernitas harus diukur dari tingkat keadilan yang dirasakan rakyat setiap hari? Sejarah menunjukkan bahwa sebuah bangsa tidak menjadi modern hanya karena teknologi. Bangsa benar-benar modern saat sistemnya adil dan rakyat menikmati hasil bumi. Negeri dalam ekstraksi yang kekayaan alamnya dikumpulkan oleh pusat harus menyeimbangkan kepentingan daerah dan nasional. Kekuasaan harus bekerja untuk melayani masyarakat, bukan hanya mengumpulkan sumber daya.

Contents
Ketimpangan Distribusi di Negeri Dalam EkstraksiMekanisme Kekuasaan dan DampaknyaModernitas Substantif vs KosmetikSolusi untuk Negeri Dalam EkstraksiKesimpulan: Rakyat sebagai Pemilik Sah Negeri

Ketimpangan Distribusi di Negeri Dalam Ekstraksi

Cak Nun menegaskan, praktik distribusi sumber daya di negeri dalam ekstraksi melebihi pola kerajaan kejam. Kabupaten yang memiliki tambang uranium, minyak, atau batu bara hanya menerima sebagian kecil hasil. Persentase yang kembali ke daerah sangat kecil, sementara pengusaha dan pemerintah pusat menguasai sisanya. Mekanisme ini diatur melalui regulasi sebelum hasil bumi dihasilkan. Padahal, logika yang adil menyatakan masyarakat setempat harus menikmati manfaat pertama. Jalan, pendidikan, fasilitas kesehatan, dan peluang ekonomi seharusnya meningkat. Namun kenyataan sering berbeda, masyarakat daerah penghasil hanya menjadi penonton. Kekayaan besar dikelola oleh pihak jauh dari sumber daya. Ketimpangan ini menciptakan perasaan daerah sebagai lokasi eksploitasi, bukan pusat kemakmuran. Sistem yang seharusnya adil berubah menjadi mekanisme pengumpulan sumber daya oleh pusat.

Mekanisme Kekuasaan dan Dampaknya

Dalam sejarah, konsep upeti klasik mewajibkan daerah menyerahkan hasil baru kepada pusat. Sebagai imbalan, pusat memberikan perlindungan dan keamanan. Hubungan bersifat vertikal, daerah sebagai penyedia, pusat sebagai penerima utama. Kritik Cak Nun menyoroti bahwa praktik modern melampaui logika kerajaan klasik. Pembagian diatur bahkan sebelum hasil bumi diperoleh. Mekanisme ini menimbulkan paradoks bagi negeri dalam ekstraksi. Indonesia menyebut diri demokratis, kedaulatan berada di tangan rakyat, dan kekayaan untuk kemakmuran rakyat. Namun masyarakat yang hidup dekat sumber daya memperoleh bagian paling kecil. Distribusi yang terlalu timpang tidak lagi dianggap solidaritas nasional. Ketimpangan ini menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai logika kekuasaan dan arah pembangunan. Kekuasaan sehat menempatkan rakyat sebagai tujuan. Kekuasaan tidak sehat menempatkan rakyat sebagai objek pengumpulan sumber daya.

Modernitas Substantif vs Kosmetik

Negara modern seharusnya dibangun atas prinsip keadilan, efisiensi, transparansi, dan penghormatan hak rakyat. Modernitas yang hanya terlihat dari gedung, teknologi, atau jargon pembangunan hanyalah kosmetik. Modernitas sejati mengukur kemampuan menghadirkan keadilan substantif. Kekuasaan harus mengelola sumber daya untuk kemakmuran rakyat, bukan sekadar menambah kas pusat. Kritik Cak Nun menegaskan perlunya evaluasi desain sistem, bukan hanya pelaksana kebijakan. Jika rakyat terus berkorban sementara manfaat dinikmati pihak jauh dari sumber daya, sistem patut diperbaiki. Modernitas berarti memperbaiki cara berpikir kekuasaan agar sejalan dengan kepentingan rakyat. Rakyat harus menjadi penerima utama manfaat dari bumi yang mereka huni.

Solusi untuk Negeri Dalam Ekstraksi

Pertama, mekanisme distribusi hasil sumber daya harus lebih adil dan transparan. Setiap daerah penghasil harus menerima proporsi manfaat sesuai kontribusinya. Kedua, sistem pengawasan harus diperkuat untuk memastikan hasil bumi tidak hanya mengalir ke pusat dan pihak swasta. Ketiga, regulasi harus menempatkan kemaslahatan rakyat sebagai prioritas utama. Keempat, transparansi dalam kontrak pertambangan dan pengelolaan sumber daya strategis wajib dilakukan. Kelima, pembangunan infrastruktur dan kualitas pelayanan publik harus seimbang di seluruh wilayah penghasil. Keenam, pendidikan dan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat harus ditingkatkan. Ketujuh, kebijakan fiskal dan redistribusi harus menyeimbangkan kepentingan daerah dan nasional. Kedelapan, pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya.

Kesimpulan: Rakyat sebagai Pemilik Sah Negeri

Negeri dalam ekstraksi harus memastikan rakyat melihat manfaat bumi secara nyata. Tidak cukup hanya modern secara visual. Sistem yang adil memastikan daerah penghasil memperoleh prioritas. Kekuasaan harus bekerja untuk rakyat, bukan sebaliknya. Distribusi yang seimbang memperkuat solidaritas nasional dan kepercayaan publik. Modernitas substansial tercermin dari kesejahteraan masyarakat yang dekat sumber daya. Kritik Cak Nun menjadi pengingat penting untuk evaluasi sistem. Rakyat bukan penonton, melainkan pemilik sah hasil bumi mereka. Negara modern sejati menempatkan rakyat sebagai tujuan utama pembangunan. Hanya dengan prinsip ini, negeri dalam ekstraksi dapat berkembang adil, berkelanjutan, dan berkeadaban.

You Might Also Like

Importir Barang Bekas Akan Didenda, Partai X: Lindungi Industri, Jangan Rugikan Rakyat!
Prabowo Selamatkan Rp300 Triliun, Partai X: Semoga Diselamatkan untuk Rakyat, Bukan untuk Proyek Penguasa
Solusi Pemerintah Sering Tidak Sinkron dengan Masalah
Kedaulatan Tanpa Kontrol: Pemerintah yang Mengambil Keputusan Tanpa Mengindahkan Rakyat
TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Keadilan Sesuai Posisi, Kepastian Hukum Menghilang
Next Article Ketika Pasal Lentur, Keadilan Sesuai Posisi

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Penjajahan Lewat Sejarah, Generasi Kehilangan Akar

June 11, 2026
Ekonomi

Kasus Pemerasan TKA, Partai X: Bersihkan Kemenaker dari Oknum Tamak!

October 13, 2025
Pemerintah

4 Pilar Negara : Cak Nun Mengoreksi Versi MPR

June 17, 2025
Pemerintah

Kebijakan yang Membeku: Potret Kekuasaan tanpa Empati

April 15, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.