By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 13 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Negeri Dalam Ekstraksi, Kekayaan Pergi Kemiskinan Tinggal
Pemerintah

Negeri Dalam Ekstraksi, Kekayaan Pergi Kemiskinan Tinggal

Diajeng Maharini
Last updated: June 10, 2026 1:57 pm
By Diajeng Maharini
Share
5 Min Read
SHARE

beritax.id – Indonesia kerap memamerkan kemajuan. Gedung pencakar langit, jalan tol, dan teknologi digital memberi kesan negeri dalam ekstraksi maju dan beradab. Pemerintah menekankan transformasi digital, hilirisasi industri, kecerdasan buatan, serta visi Indonesia Emas. Dari jauh, negeri dalam ekstraksi terlihat efisien, modern, dan rasional. Namun kemajuan sejati tidak diukur dari gedung tinggi atau jargon futuristik. Modernitas diukur dari keadilan sosial, pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat sekitar sumber daya. Bangsa menjadi modern ketika kekayaan alam dikelola untuk kemakmuran rakyat, bukan semata keuntungan pusat. Kekuasaan yang melayani rakyat menandai negara yang beradab.

Contents
Kekayaan Pergi, Kemiskinan TinggalDampak Sosial dan Ekonomi KetimpanganSolusi Untuk Negeri Dalam EkstraksiKesimpulan

Cak Nun mengingatkan bahwa negeri dalam ekstraksi sering timpang. Daerah penghasil tambang, minyak, gas, atau emas menerima bagian minimal. Sebagian besar keuntungan dikuasai pemerintah pusat dan pengusaha besar. Regulasi bahkan mengatur pembagian hasil sebelum sumber daya benar-benar diekstraksi. Seharusnya rakyat lokal menjadi pihak pertama menikmati manfaat. Infrastruktur, pendidikan, dan fasilitas kesehatan diharapkan meningkat. Kenyataannya, manfaat jauh lebih kecil dibandingkan nilai sumber daya yang diambil. Akibatnya, daerah hanya menjadi lokasi eksploitasi, bukan pusat kemakmuran. Praktik ini bahkan melebihi logika upeti klasik, di mana hasil baru diserahkan setelah diperoleh.

Kekayaan Pergi, Kemiskinan Tinggal

Paradoks muncul ketika kekayaan pergi, namun kemiskinan tetap tinggal. Indonesia menyebut diri demokratis dan menempatkan kedaulatan di tangan rakyat. Kekayaan alam diakui untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, namun realitas berbeda. Rakyat di sekitar sumber daya menerima manfaat paling kecil. Ketimpangan distribusi mengancam keadilan dan solidaritas nasional. Prinsip gotong royong terganggu bila distribusi terlalu timpang. Kekuasaan sehat menempatkan rakyat sebagai tujuan. Kekuasaan tidak sehat melihat rakyat sebagai objek. Logika pengelolaan sumber daya menentukan arah pembangunan nasional. Negara modern dibangun dengan prinsip efisiensi, keadilan, transparansi, dan penghormatan terhadap hak rakyat.

Modernitas kosmetik terlihat dari gedung tinggi, teknologi, dan slogan pembangunan. Modernitas substantif tercermin dari kesejahteraan masyarakat. Kekuasaan harus mengelola sumber daya untuk rakyat, bukan semata-mata memperkaya pusat. Kritik Cak Nun menegaskan evaluasi sistem penting. Jika rakyat terus berkorban, sementara pihak jauh dari sumber daya menikmati manfaat terbesar, sistem harus diperbaiki. Modernitas berarti memperbaiki logika kekuasaan agar selaras dengan kepentingan rakyat. Rakyat menjadi penerima utama manfaat bumi mereka sendiri. Modernitas substantif tercermin dari pengelolaan adil negeri dalam ekstraksi.

Dampak Sosial dan Ekonomi Ketimpangan

Negeri dalam ekstraksi menghadapi dampak sosial dan ekonomi nyata. Ketimpangan distribusi menghambat pembangunan daerah penghasil. Kualitas pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur tetap rendah. Kesempatan ekonomi terbatas, sementara pendapatan pusat dan swasta meningkat drastis. Ketidakadilan ini menimbulkan frustrasi, migrasi tenaga kerja, dan terkikisnya potensi lokal. Kekayaan alam melimpah tidak berarti kemakmuran bagi rakyat sekitar. Ketimpangan ini bisa mengancam stabilitas sosial dan pemerintahan. Pengelolaan sumber daya adil, transparan, dan partisipatif diperlukan segera.

Solusi Untuk Negeri Dalam Ekstraksi

Pertama, distribusi hasil sumber daya harus adil, proporsional, dan transparan untuk daerah penghasil. Kedua, pengawasan ketat mencegah aliran keuntungan hanya ke pusat atau pihak swasta. Ketiga, regulasi menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama. Keempat, kontrak pertambangan dan pengelolaan sumber daya strategis harus transparan dan partisipatif. Kelima, pembangunan infrastruktur dan layanan publik harus merata di wilayah penghasil. Keenam, pendidikan dan peluang ekonomi masyarakat lokal perlu diperkuat. Ketujuh, kebijakan fiskal dan redistribusi menyeimbangkan kepentingan daerah dan nasional. Kedelapan, partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan publik.

You Might Also Like

Saat Kekuasaan Diperjualbelikan, Pemimpin Hasil Transaksi Jadi Keniscayaan
Tambang Ancam Raja Ampat, Partai X: Demi Nikel, Ekowisata Dikorbankan!
Mensos Dorong Penjangkauan Sekolah Rakyat, Ingatkan Agar Tepat Sasaran
Golkar Nilai Reshuffle Kabinet Respons Rakyat, Partai X: Rakyat Butuh Aksi, Bukan Ganti Menteri!

Rakyat harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan sumber daya. Modernitas sejati bukan soal gedung tinggi atau teknologi canggih. Sistem adil menjamin daerah penghasil memperoleh proporsi manfaat yang layak. Kekuasaan bekerja untuk rakyat, bukan sebaliknya. Distribusi seimbang memperkuat solidaritas nasional dan kepercayaan publik. Modernitas substantif tercermin dari kesejahteraan masyarakat sekitar sumber daya. Kritik Cak Nun menjadi pengingat evaluasi sistem. Rakyat bukan penonton, melainkan pemilik sah hasil bumi mereka. Negeri dalam ekstraksi bisa berkembang adil, berkelanjutan, dan beradab bila prinsip keadilan ditegakkan.

Kesimpulan

Kekayaan alam melimpah di negeri dalam ekstraksi tidak otomatis menjamin kemajuan rakyat. Modernitas tercapai ketika rakyat menerima manfaat nyata. Sistem adil, logika kekuasaan yang menempatkan rakyat sebagai tujuan, dan distribusi proporsional menjadi kunci. Pembangunan berkeadilan memperkuat kedaulatan rakyat, menjaga stabilitas sosial, dan menjamin kemakmuran nasional. Evaluasi kebijakan, transparansi, dan partisipasi masyarakat adalah jalan menuju negeri dalam ekstraksi yang benar-benar maju dan beradab.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Penjajahan Lewat Sejarah, Kebesaran Nusantara Terkubur
Next Article Perubahan Ditawan Kepentingan, Rakyat Menanggung Akibat

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Sony Sonjaya Bantu Korban Phishing, Fokus Perlindungan Warga

June 10, 2026
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

PAN Usung Figur Muda, Zulhas Bilang Bukan Ikut-ikutan, Partai X Tanya: Lalu Kenapa Mirip Semua?
Pemerintah

PAN Usung Figur Muda, Zulhas Bilang Bukan Ikut-ikutan, Partai X Tanya: Lalu Kenapa Mirip Semua?

July 28, 2025
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Semu Dipromosikan, Daya Tahan Kelas Menengah Diperas

January 8, 2026
Mereka mendesak Presiden Prabowo segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Transportasi Online
Sosial

Ojol Terus Demo, Partai X: Kalau Perppu Pun Tak Terbit, Rakyat Disuruh Diam Saja?

July 22, 2025
Pemerintah

Kuasa tanpa Kendali: Ketika Wewenang Berubah Jadi Alat

April 21, 2026
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.