beritax.id – BANDUNG – Aula Pikiran Rakyat di Jalan Asia Afrika, Bandung, menjadi saksi diskusi panas dan penuh refleksi pada Rabu malam (14/01/2026). Dalam acara bertajuk “Negara Salah Desain, Gen-Z Harus Tanggung Akibatnya”, kolaborasi antara Guru Gembul dan Sekolah Negarawan tidak hanya membongkar carut-marut sistem tata negara, tetapi juga menodong kesadaran audiens tentang posisi mereka di tengah kerusakan tersebut.
Salah satu sorotan utama dalam acara ini adalah paparan dari Rinto Setiyawan, Wakil Direktur Sekolah Negarawan. Di tengah narasi pesimis tentang kondisi negara yang dianggap “salah desain”, Rinto memberikan kerangka analisis yang menohok melalui konsep “Kategori Rakyat”.

Rinto menegaskan bahwa dalam sebuah negara yang sedang mengalami kerusakan sistemik, respons masyarakat terbelah menjadi lima entitas berbeda. Berikut adalah bedah materi yang disampaikan:
1. Set: Penikmat Kerusakan
Di lapisan terbawah, Rinto memperkenalkan kategori “Set”. Ini adalah tipikal rakyat yang justru merasa senang atau terhibur dengan cerita kerusakan negara. Mereka tidak peduli pada solusi, melainkan menikmati kekacauan sebagai tontonan belaka. Kelompok ini digambarkan seperti tumpukan sampah yang tidak memiliki nilai kontributif.
2. Belatung: Parasit Oportunis
Lebih berbahaya dari sekadar penonton, kategori kedua adalah “Belatung”. Menurut Rinto, ini adalah golongan rakyat yang hidup dan mencari makan dari masalah akibat kerusakan negara. Mereka adalah oportunis yang justru akan mati jika negara menjadi bersih dan teratur. Dalam ekosistem yang rusak, mereka berpesta di atas penderitaan sistem yang membusuk.
3. Iritasi: Pemarah Tanpa Ilmu
Naik ke level berikutnya, ada kelompok “Iritasi”. Ini adalah representasi rakyat yang memiliki kepedulian dan rasa marah terhadap ketidakadilan, namun tidak mau belajar. Energi mereka habis untuk berteriak dan memaki tanpa basis pemahaman yang cukup. Mereka sadar ada yang sakit, namun respons mereka hanya menimbulkan peradangan (iritasi) sosial tanpa menawarkan obat.
4. Sel Imun: Pembelajar dan Pencari Solusi
Menjadi antitesis dari tiga kategori sebelumnya, Rinto memperkenalkan “Sel Imun”. Ini adalah rakyat yang sadar akan bahaya yang mengancam (seperti virus korupsi atau kebijakan buruk), namun meresponsnya dengan ilmu. Mereka mau belajar, memetakan masalah, dan menyusun solusi. Seperti sel darah putih, mereka adalah pertahanan pertama yang mencoba menjaga tubuh negara agar tidak mati total.
5. Regenerasi Jaringan: Pembangun Sistem Baru
Kasta tertinggi dalam hierarki yang dipaparkan Rinto adalah “Regenerasi Jaringan”. Mereka bukan hanya bertahan, tetapi bergerak aktif membangun kembali bagian yang hancur. Kelompok ini adalah rakyat yang bekerja menyusun sistem baru untuk menggantikan sistem lama yang telah usang dan rusak (“salah desain”). Merekalah arsitek masa depan yang sesungguhnya.

Gen-Z: Korban atau Penyelamat?
Dalam konteks tema acara, paparan Rinto Setiyawan ini menjadi tamparan keras sekaligus peta jalan bagi Gen-Z. Guru Gembul, sebagai pembicara utama, menyoroti bagaimana generasi muda dipaksa menanggung beban utang, kerusakan lingkungan, dan kebijakan ugal-ugalan akibat desain negara yang keliru.
Namun, klasifikasi Rinto menegaskan bahwa sekadar menjadi korban yang marah (Iritasi) tidaklah cukup. Untuk memperbaiki negara yang salah desain, Gen-Z dituntut untuk berevolusi menjadi Sel Imun dan Regenerasi Jaringan.

Acara yang dipadati peserta hingga sesi akhir “dibubarin” ini menyisakan pekerjaan rumah besar bagi para hadirin: Di tengah negara yang sedang sakit, apakah kita akan menjadi belatung yang memperparah luka, atau sel imun yang siap menyembuhkan?



