By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Saturday, 27 June 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Pemerintah > Ketika Permainan Pengetahuan Mengungkap Realita Bangsa
Pemerintah

Ketika Permainan Pengetahuan Mengungkap Realita Bangsa

Diajeng Maharini
Last updated: May 13, 2026 3:50 pm
By Diajeng Maharini
Share
5 Min Read
SHARE

Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan

beritax.id – Terkadang, sebuah peristiwa yang tampak sederhana justru mampu menyingkap realita bangsa secara menyeluruh. Ini bukan sidang parlemen, pidato presiden, atau debat pejabat, melainkan hanya sebuah lomba cerdas cermat. Namun, dari panggung yang sederhana itu, publik melihat gambaran lebih dalam tentang relasi antara rakyat, kekuasaan, kritik, dan kebenaran.

Polemik Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR menarik perhatian bukan semata karena salah benar jawaban peserta, tetapi karena peristiwa itu berfungsi sebagai simbol. Di sana terdapat peserta yang mewakili suara kritis, juri yang dianggap sebagai otoritas penentu, pembawa acara yang mengarahkan suasana, regu lain yang memilih diam, penonton yang menyaksikan, dan aparat simbolik yang di mata publik sering dipahami sebagai penjaga ketertiban ala penguasa.

Analogi yang Menggugah Kesadaran

Meskipun setiap analogi bisa diperdebatkan, yang lebih penting adalah mengapa analogi ini terasa masuk akal bagi publik. Sebuah lomba sederhana memantulkan rasa kolektif yang selama ini mungkin tidak diungkapkan secara formal.

Banyak orang merasakan bahwa kritik dari bawah kerap dianggap gangguan, bukan masukan. Rakyat boleh bertanya, tetapi hanya sebatas aman mereka boleh berpartisipasi, tetapi tidak mengubah arah keputusan. Negara yang sehat seharusnya tidak takut pada kritik. Kritik adalah alarm, tanda kepedulian rakyat, dan bukti bahwa masyarakat belum menyerah. Saat kritik berhenti, itulah saat negara perlu khawatir karena apatisme telah menggantikan kepercayaan.

Kritik Struktural dan Kekuasaan

Cak Nun pernah menegaskan, “Jadi radikalis di Indonesia jangan percaya. Ndak ada. Yang radikal itu pemerintah.” Pernyataan ini terdengar keras, tetapi jika dibaca sebagai kritik struktural, kita diajak menimbang ulang siapa yang memiliki kekuatan besar untuk mengubah keadaan secara drastis.

You Might Also Like

Buruh Menggugat pada May Day 2025, Partai X Tegaskan Pemerintah Jangan Tutup Telinga Lagi
Jika Rakyat Diabaikan, Itu Tanda Zulhas Gagal Paham Politik
Harga Minyak Melandai, Distribusi BBM Subsidi Dinilai Masih Tidak Adil
Hasil Lelang Emas Kemensos Dialokasikan untuk Bantu Warga Rentan

Rakyat biasa hanya memiliki suara, tulisan, pertanyaan, atau protes. Sementara pemerintah memegang perangkat hukum, anggaran, aparat, regulasi, dan kewenangan untuk menentukan arah hidup jutaan orang. Ketika kritik rakyat dianggap mengganggu, tetapi tindakan kekuasaan dianggap wajar, ada ketimpangan penilaian yang nyata.

Cak Nun juga mengingatkan, “Begitu kamu bilang radikal, kamu sendiri radikal, maka kamu merasa dia radikal karena kamu sendiri radikal.” Tuduhan sering berangkat dari cermin diri. Kekuasaan yang tidak terbiasa diperiksa akan melihat kritik sebagai ancaman. Sistem yang jarang diawasi akan menganggap pertanyaan sebagai serangan. Otoritas yang merasa selalu benar sulit membedakan koreksi dari permusuhan.

Lomba sebagai Cermin Sosial

Dalam konteks itu, Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR lebih dari sekadar kompetisi. Publik melihat pola yang akrab: suara kritis muncul, otoritas menentukan batas, suasana diarahkan, sebagian pihak diam, dan penonton terbagi antara peduli, sinis, atau pasrah.

Ini mencerminkan masalah mendasar: meski Indonesia disebut negara demokrasi, praktiknya masih mengedepankan prosedur pemilu, bukan budaya mendengar. Partisipasi rakyat dihargai selama tidak menimbulkan pertanyaan kritis. Suara rakyat, meski dikatakan sebagai pemilik kedaulatan, sering diperlakukan seperti gangguan teknis.

Bangunan Negara yang Retak

Negara ibarat bangunan megah. Pilar-pilarnya disebutkan, Pancasila diucapkan, UUD dibacakan, demokrasi dipertahankan secara formal. Namun ketika kritik datang dari bawah, bangunan itu menunjukkan retaknya. Tampak kuat di luar, tapi tidak lentur. Tampak tertib, tetapi tidak adil terhadap perbedaan suara.

Masalahnya bukan satu momen lomba atau juri, tetapi polanya. Publik melihat peristiwa kecil itu sebagai cerminan kondisi negara. Mereka merasa pengalaman sehari-hari menunjukkan kritik sering dipinggirkan, kebenaran harus menyesuaikan kenyamanan otoritas, dan yang bersuara justru dianggap masalah.

Pendidikan Demokrasi yang Sesungguhnya

Ketika lomba cerdas cermat menjadi ramai, publik tidak sedang membesar-besarkan. Mereka menemukan bahasa sederhana untuk menyampaikan bahwa negara ini belum sepenuhnya nyaman dengan rakyat yang berpikir.

Demokrasi melemah bukan hanya ketika pemilu dihapus, tetapi juga saat kritik dianggap tidak sopan, pertanyaan dianggap gangguan, dan rakyat hanya dihargai saat bertepuk tangan. Lomba ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang Pancasila, UUD, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika tidak cukup jika tidak dijalankan dalam relasi kuasa yang nyata.

Pilar yang Hidup dalam Sikap

Empat pilar harus lebih dari hafalan harus hidup dalam sikap. Pancasila mengakui kemanusiaan dan permusyawaratan, maka kritik tidak boleh dianggap ancaman. UUD menempatkan kedaulatan di tangan rakyat, maka suara rakyat tidak sekadar menjadi penonton. Demokrasi adalah jalan bangsa, sehingga kekuasaan harus belajar mendengar bahkan ketika yang didengar tidak menyenangkan.

Sebuah lomba mungkin selesai dalam beberapa jam, tetapi cermin yang ditinggalkannya bisa bertahan lebih lama. Ia memaksa kita bertanya apakah negara mendidik rakyat untuk berpikir, atau hanya melatih mereka menjawab sesuai selera otoritas?

Jika jawabannya yang kedua, maka masalahnya bukan pada lomba, melainkan pada desain negara yang terlalu lama merasa benar, tetapi jarang dikoreksi.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Ketika MPR Tidak Lagi Mewakili Suara Rakyat Ketika MPR Tidak Lagi Mewakili Suara Rakyat
Next Article Rakyat Majikan Negara, Presiden Adalah Pekerja Rakyat

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025
Ekonomi

Heboh Seruan Tarik Dana dari Bank Karena Danantara, Partai X Soroti Transparansi

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Ketika Publik Hanya Dijadikan Target, Rakyat sebagai Objek Kebijakan Jadi Kenyataan

May 15, 2026
Pendidikan

Kejagung dan KPK Kolaborasi Kasus Kemendikbud, Partai X: Pendidikan Harus Bersih Korupsi!

August 13, 2025
Ekonomi

Harga Minyak, Gula, dan Beras Naik, Ingatkan Jangan Bebani Rakyat!

April 28, 2026
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris meminta Badan Gizi Nasional (BGN) segera mencabut izin Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
Pemerintah

SPPG Lalai, Komisi IX Minta Cabut Izin, Partai X: Desak Jangan Lunak pada Perusahaan Abai Nyawa!

July 29, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.