Oleh: Adv. Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP
Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan
beritax.id – Pernyataan bahwa seseorang perlu merasa putus asa melihat kondisi Indonesia mungkin terdengar bertentangan dengan nilai optimisme yang selama ini sering digaungkan. Dalam banyak pandangan, putus asa dianggap sebagai bentuk kelemahan, kehilangan harapan, atau sikap menyerah terhadap keadaan. Namun, dalam perspektif yang berbeda, rasa kecewa dan cemas terhadap kondisi bangsa justru dapat menjadi tanda bahwa seseorang masih memiliki kepedulian.
Cak Nun pernah menyampaikan pandangan yang menggugah pemikiran publik. Ia mengatakan, “Kalau orang tidak cemas pada keadaan sekarang, dia nggak normal. Bahkan kalau Anda tidak putus asa terhadap keadaan Indonesia yang sekarang itu, Anda nggak punya akal sehat.”
Pernyataan tersebut bukan ajakan untuk menyerah terhadap keadaan. Bukan pula seruan agar masyarakat berhenti memperjuangkan perubahan. Sebaliknya, pernyataan itu dapat dipahami sebagai kritik terhadap sikap yang terlalu mudah menerima keadaan buruk sebagai sesuatu yang normal.
Ketika korupsi terus terjadi, ketidakadilan masih dirasakan masyarakat, hukum belum sepenuhnya menghadirkan rasa keadilan, dan berbagai persoalan bangsa terus berulang, maka rasa cemas seharusnya menjadi respons alami manusia yang masih memiliki kepedulian.
Sebab bangsa yang dicintai tentu akan membuat seseorang merasa gelisah ketika melihatnya mengalami kerusakan.
Putus Asa yang Lahir dari Cinta kepada Indonesia
Cak Nun juga menjelaskan bahwa kegelisahan terhadap kondisi Indonesia muncul karena adanya rasa cinta yang mendalam terhadap bangsa. “Karena apa? Karena dia punya cinta yang sungguh-sungguh. Ini bagaimana saya cintai kok begini kelakuannya? Maka dia putus asa.”
Kalimat tersebut menunjukkan bahwa keputusasaan tidak selalu berarti kehilangan harapan. Dalam konteks tertentu, keputusasaan dapat menjadi bentuk kekecewaan dari seseorang yang masih merasa memiliki hubungan emosional dengan sesuatu yang dicintainya.
Seseorang tidak akan kecewa terhadap sesuatu yang tidak berarti baginya. Seorang orang tua merasa sedih ketika melihat anaknya mengambil jalan yang salah karena ada rasa cinta. Seseorang merasa sakit ketika melihat rumahnya rusak karena rumah tersebut memiliki arti baginya. Begitu pula terhadap Indonesia. Orang yang benar-benar mencintai bangsa ini tidak akan mudah mengatakan bahwa semua keadaan baik-baik saja ketika melihat berbagai persoalan terus terjadi.
Kegelisahan muncul ketika melihat kekayaan alam yang besar belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat. Kecemasan muncul ketika hukum masih sering dipersepsikan belum memberikan keadilan yang sama bagi semua orang. Kekhawatiran muncul ketika politik lebih sering berbicara mengenai perebutan kekuasaan dibandingkan penyelesaian persoalan rakyat.
Optimisme Tanpa Kesadaran Dapat Menutupi Masalah Bangsa
Selama ini masyarakat sering diajarkan bahwa optimisme merupakan sikap terbaik dalam menghadapi persoalan. Namun optimisme yang tidak disertai keberanian melihat kenyataan dapat berubah menjadi bentuk penyangkalan terhadap masalah. Indonesia memiliki banyak potensi besar. Kekayaan alam melimpah, jumlah penduduk besar, sumber daya manusia yang terus berkembang, serta posisi strategis dalam dunia internasional merupakan modal besar bagi bangsa ini.
Namun berbagai persoalan masih menjadi tantangan besar. Ketimpangan ekonomi, persoalan lapangan pekerjaan, korupsi, lemahnya kepercayaan terhadap institusi, serta berbagai persoalan sosial menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu diperbaiki.
Dalam kondisi seperti itu, mengatakan bahwa semuanya berjalan baik tanpa melihat persoalan yang ada justru dapat membuat bangsa kehilangan kemampuan untuk melakukan evaluasi.
Kecemasan bukan musuh pembangunan. Kecemasan adalah alarm yang memberi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Seperti seseorang yang melihat rumahnya terbakar, rasa panik bukanlah kelemahan. Justru kepanikan tersebut menunjukkan adanya kesadaran bahwa ada bahaya yang harus segera ditangani.
Putus Asa terhadap Cara Lama, Bukan Menyerah terhadap Masa Depan
Bagian terpenting dari gagasan Cak Nun adalah bahwa keputusasaan tidak boleh berhenti pada rasa kecewa. Keputusasaan harus menjadi energi untuk mencari jalan baru.
Ia menegaskan bahwa seseorang yang merasa putus asa terhadap keadaan bangsa tidak berarti akan berhenti bergerak. Justru karena masih mencintai Indonesia, seseorang akan terus mencari cara agar keadaan berubah.
Perbedaan antara putus asa yang menghancurkan dan putus asa yang membangun terletak pada tindakan setelahnya. Putus asa yang menghancurkan membuat manusia menyerah. Namun putus asa yang lahir dari kesadaran membuat manusia mengevaluasi, berpikir ulang, dan mencari solusi yang lebih baik.
Bangsa ini perlu putus asa terhadap pola lama yang terus menghasilkan persoalan yang sama. Putus asa terhadap yang hanya berorientasi pada pergantian kekuasaan tanpa memperbaiki sistem. Putus asa terhadap kebijakan yang hanya menyelesaikan masalah sementara tanpa menyentuh akar persoalan. Sebab perubahan besar tidak lahir dari rasa puas terhadap keadaan yang salah.
Indonesia Tidak Boleh Dirancang Hanya untuk Lima Tahun
Salah satu kritik penting yang disampaikan Cak Nun adalah mengenai cara berpikir bangsa yang terlalu sering berorientasi pada siklus lima tahunan. Pergantian pemimpin melalui pemilu merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun masa depan negara tidak boleh hanya dipikirkan berdasarkan pergantian jabatan.
Indonesia membutuhkan perencanaan yang jauh lebih panjang. Bangsa ini harus memikirkan bagaimana kondisi negara puluhan tahun ke depan. Bagaimana memastikan sumber daya alam tetap menjadi kekuatan rakyat. Bagaimana membangun pendidikan yang melahirkan manusia merdeka. Bagaimana menciptakan sistem pemerintahan yang menghasilkan pemimpin berkualitas.
Negara tidak boleh hanya dirancang untuk kepentingan satu periode pemerintahan. Negara harus dibangun untuk generasi yang belum lahir. Karena itu, pertanyaan terbesar bukan hanya siapa pemimpin berikutnya, tetapi Indonesia seperti apa yang ingin diwariskan kepada masa depan.
Putus Asa yang Sehat Melahirkan Perjuangan Baru
Pada akhirnya, pernyataan bahwa “kalau tidak putus asa melihat Indonesia, Anda tidak punya akal sehat” bukanlah ajakan untuk kehilangan harapan. Sebaliknya, pernyataan tersebut adalah kritik terhadap masyarakat yang sudah terlalu terbiasa melihat persoalan sebagai sesuatu yang wajar.
Bangsa yang sehat bukan bangsa yang tidak memiliki masalah. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang berani mengakui masalah dan berusaha memperbaikinya. Orang yang mencintai Indonesia tidak akan diam ketika melihat ketidakadilan. Tidak akan tenang ketika melihat korupsi dianggap biasa. Tidak akan berhenti berpikir ketika melihat sistem yang terus menghasilkan persoalan yang sama. Karena itu, rasa kecewa terhadap keadaan bangsa dapat menjadi awal dari perubahan jika diikuti dengan keberanian untuk mencari solusi.
Indonesia tidak membutuhkan optimisme palsu yang hanya menutupi kenyataan. Indonesia membutuhkan kesadaran, keberanian, dan gagasan baru untuk membangun masa depan. Sebab terkadang, dari kegelisahan terhadap keadaan hari ini, lahir keberanian untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik bagi hari esok.



