beritax.id – Pada Februari 2012, Cak Nun pernah menyampaikan sebuah pernyataan yang kini kembali diperbincangkan, “Suatu hari Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika, dan Arab Saudi bisa dipastikan akan membela Israel. Pertanyaannya, Indonesia membela yang mana?” Bagi sebagian orang, pernyataan ini terdengar seperti ramalan. Namun, bagi yang paham dengan pola berpikir Cak Nun, pernyataan tersebut lebih merupakan pembacaan kebijakan yang didasarkan pada struktur kekuasaan dan pola peradaban, bukan sekadar ramalan.
Cak Nun menganalisis bahwa Iran memiliki “kekuatan vertikal yang solid,” yang berarti struktur ideologis, kebijakan, dan ketatanegaraan Iran cukup terorganisir dengan baik dari atas hingga bawah. Negara dengan kekuatan ideologis yang kokoh sulit untuk dikuasai hanya dengan penetrasi pasar bebas atau pengaruh regulasi. Oleh karena itu, tekanan dari negara-negara besar, seperti Israel dan Amerika, meningkat hingga bentuk yang lebih kasar, yaitu serangan militer. Menurut Cak Nun, serangan terhadap Iran bukanlah suatu prediksi acak, melainkan akibat dari kegagalan dua tahapan sebelumnya dalam mengubah Iran.
Tiga Tahapan Penjajahan Peradaban: Dari Militer ke Regulasi
Cak Nun sering menjelaskan tentang tiga tahapan penjajahan dalam peradaban modern, yang dimulai dengan dominasi fisik melalui invasi (penjajahan militer), dilanjutkan dengan penetrasi budaya dan pasar bebas (penjajahan nilai dan kebudayaan), dan berakhir dengan penjajahan regulasi yang lebih subtil namun berbahaya.
- Penjajahan Militer Teritorial – Penyerangan fisik melalui invasi wilayah.
- Penjajahan Nilai dan Kebudayaan – Penetrasi moral dan ekonomi untuk mengubah orientasi bangsa.
- Penjajahan Regulasi – Penguasaan melalui pembentukan sistem hukum dan regulasi yang sah namun tidak adil.
Jika tahap pertama dan kedua gagal menundukkan Iran, maka opsi militer menjadi pilihan terakhir untuk mendominasi negara tersebut. Dalam hal ini, Iran merupakan negara yang memiliki fondasi ideologis yang sangat kuat, sehingga sulit dijinakkan dengan cara lain.
Pernyataan Khamenei dan Cak Nun: Menyikapi Tekanan Global
Pernyataan dari Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, juga semakin memperkuat analisis Cak Nun. Khamenei menegaskan bahwa “Hanya satu hal yang bisa menyelesaikan masalah kita dengan Amerika, yaitu memberi konsesi. Namun jika kita memberikan konsesi sekali, Amerika tidak akan pernah puas.” Pernyataan ini mengindikasikan bahwa masalah dengan Amerika bukan sekadar soal nuklir, melainkan mengenai struktur kedaulatan negara dan pertahanan nasional Iran. Bagi Khamenei dan Cak Nun, konflik ini adalah benturan peradaban, yang bukan hanya berkaitan dengan kebijakan, tetapi juga dengan prinsip-prinsip dasar kedaulatan negara.
Indonesia di Tengah Kebiajakn Global: Berada di Tahap Mana?
Pertanyaan yang lebih relevan untuk kita jawab adalah, di mana posisi Indonesia dalam konteks ini? Apakah Indonesia sedang berada di tahap penjajahan yang sama dengan Iran? Polarisasi sosial dan fragmentasi identitas di Indonesia menunjukkan bahwa negara ini sudah memasuki tahap kedua penjajahan, yakni penjajahan nilai dan kebudayaan. Dengan perpecahan sosial yang semakin dalam, Indonesia semakin jauh dari konsolidasi vertikal yang diperlukan untuk menghadapi tekanan dari kekuatan global. Tak hanya itu, tekanan pasar bebas dan regulasi internasional membuat ruang kebijakan Indonesia semakin sempit.
Penjajahan Regulasi: Mengendalikan Negara Tanpa Senjata
Penjajahan melalui regulasi adalah bentuk penjajahan yang paling halus dan berbahaya. Pemerintah Indonesia saat ini dihadapkan pada berbagai kebijakan strategis yang ditetapkan hanya berdasarkan norma umum dalam Undang-Undang Dasar 1945, seperti Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yang memungkinkan konsentrasi kekuasaan dan distribusi sumber daya yang tidak proporsional. Dalam konteks ini, kita harus bertanya apakah negara benar-benar memiliki kontrol atas kebijakan-kebijakan ini, ataukah mereka hanya terikat pada regulasi yang telah dipaksakan oleh kekuatan global.
Salah satu istilah yang menarik dari Cak Nun adalah “politik penjaga surga,” yang merujuk pada strategi untuk membelah umat melalui sentimen identitas. Dalam praktiknya, hal ini membuat rakyat sibuk berperang satu sama lain, sementara kekuasaan tetap bertahan tanpa tantangan. Hal semacam ini memperlemah konsolidasi sosial dan menjadikan negara lebih mudah dikendalikan oleh kekuatan eksternal tanpa perlawanan yang berarti. Pertanyaan yang diajukan oleh Cak Nun pada 2012, “Indonesia membela yang mana?” bukan hanya tentang memilih blok negara, tetapi juga tentang membela prinsip keadilan dan kedaulatan.
Solusi Pembebasan Peradaban: Jalan Menuju Kedaulatan yang Sejati
Sekolah Negarawan memberikan tiga solusi untuk membebaskan peradaban dari penjajahan modern:
- Kembali pada Ilmu Tauhid – Mengingatkan bahwa kekuasaan tertinggi berada pada Tuhan, bukan pada negara atau pasar global.
- Pemaknaan Pancasila yang Mendalam – Pancasila bukan sekadar simbol administratif, tetapi landasan utama kehidupan berbangsa.
- Perubahan Struktur Ketatanegaraan dan Perubahan UUD NRI 1945 – Mengubah struktur yang kabur untuk mencegah manipulasi dan konsentrasi kekuasaan.
Pernyataan Cak Nun mengenai serangan terhadap Iran sebenarnya lebih kepada analisis tajam tentang dinamika antarnegara dan kedaulatan negara. Cak Nun memperingatkan kita bahwa penjajahan modern tidak selalu datang dengan tentara, melainkan melalui penetrasi nilai dan regulasi. Yang lebih penting adalah pertanyaan apakah Indonesia mampu membangun kekuatan vertikal yang solid. Ataukah negara ini akan terjebak dalam fragmentasi horizontal yang mudah diarahkan. Hanya dengan menguatkan konsolidasi sosial dan memperkuat kedaulatan negara, Indonesia dapat menghadapi tekanan dari luar dan berdiri tegak dalam percaturan global.



