TEHERAN — Salah satu pelajaran penting yang disimak delegasi Sekolah Negarawan dalam acara Riwayat-e Rahmat adalah bagaimana Nabi Muhammad ﷺ tetap menempatkan nilai kemanusiaan sebagai batas dalam situasi peperangan. Pesan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Seyed Abbas Araghchi ketika berbicara dalam acara yang digelar di Talar-e Vahdat, Teheran, Sabtu, 29 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana kepemimpinan dapat tetap menjaga nilai moral ketika menghadapi keadaan yang penuh tekanan.
Riwayat-e Rahmat merupakan acara yang diselenggarakan untuk memperingati 1.500 tahun kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Delegasi Sekolah Negarawan turut hadir dalam acara tersebut sebagai bagian dari rangkaian kunjungan ke Iran. Delegasi terdiri atas Direktur Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur Cooperation and International Relations Abdullah Assegaf.
Dalam pidatonya, Araghchi menyampaikan bahwa kehidupan Nabi Muhammad ﷺ mengandung pelajaran besar bagi umat manusia. Salah satu contoh yang diangkat adalah aturan Rasulullah ﷺ dalam peperangan yang menunjukkan pentingnya menjaga batas moral. Menurut Araghchi, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar anak-anak dan orang lanjut usia tidak dicelakai, hewan tidak disakiti, pepohonan tidak dirusak, serta sumber air tidak dicemari.
Pesan tersebut memiliki arti penting jika dilihat dari perspektif kepemimpinan. Konflik merupakan salah satu situasi paling sulit yang harus dihadapi seorang pemimpin karena setiap keputusan dapat berdampak terhadap kehidupan banyak manusia. Dalam kondisi penuh tekanan, seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga kemampuan mengendalikan kekuatan yang dimiliki.
Dalam konteks tersebut, teladan Nabi Muhammad ﷺ memberikan pemahaman bahwa kekuatan tidak berarti kebebasan tanpa batas. Kekuatan harus selalu berjalan bersama prinsip yang membatasi tindakan manusia agar tidak berubah menjadi tindakan yang merusak. Prinsip inilah yang membuat sebuah kemenangan tetap memiliki nilai kemanusiaan dan tidak berubah menjadi tindakan sewenang-wenang.

Araghchi kemudian menghubungkan prinsip tersebut dengan berbagai aturan kemanusiaan yang berkembang pada masa modern. Bagi pendidikan kenegarawanan, pembahasan tersebut memberikan ruang refleksi bahwa aturan dan nilai kemanusiaan memiliki tujuan yang sama, yaitu membatasi kekerasan serta menjaga martabat manusia. Peradaban tidak hanya diukur dari kemampuan manusia menciptakan kekuatan, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan kekuatan tersebut.
Dalam forum tersebut, pembahasan mengenai nilai kemanusiaan juga dikaitkan dengan berbagai persoalan dunia saat ini. Araghchi menyinggung penderitaan masyarakat di Gaza serta berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di sejumlah wilayah. Situasi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan kemampuan manusia menciptakan berbagai alat kekuatan tidak selalu berjalan seiring dengan meningkatnya kesadaran moral.
Kemajuan peradaban justru terlihat dari kemampuan manusia menjaga kehidupan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memahami bagaimana menghadapi tantangan, tetapi juga harus mengetahui batas tindakan yang tidak boleh dilakukan. Kepemimpinan yang baik tidak hanya menentukan langkah untuk menghadapi lawan, tetapi juga memastikan bahwa nilai kemanusiaan tetap dijaga dalam setiap keadaan.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa kemanusiaan tidak boleh bergantung pada siapa yang menang atau kalah. Setiap manusia tetap memiliki martabat yang harus dihormati. Nilai kemanusiaan harus menjadi dasar yang berlaku bagi semua pihak, termasuk ketika seseorang berada dalam situasi konflik.
Pesan tersebut memperkaya pengalaman delegasi Sekolah Negarawan selama mengikuti Riwayat-e Rahmat. Acara tersebut tidak hanya menjadi forum untuk mengenang sejarah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga menjadi ruang untuk memahami bagaimana keteladanan beliau dapat diterapkan dalam menghadapi persoalan dunia modern. Nilai yang disampaikan menjadi bahan pembelajaran mengenai hubungan antara kepemimpinan, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Dari perspektif kenegarawanan, pesan tersebut memberikan pemahaman bahwa kekuasaan tanpa etika dapat berubah menjadi tindakan yang merugikan manusia. Sebaliknya, kekuasaan yang dikendalikan oleh prinsip kemanusiaan dapat menjadi sarana untuk menjaga kehidupan dan menciptakan kebaikan bersama. Lebih dari 14 abad lalu, Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan teladan mengenai pentingnya batas moral dalam penggunaan kekuatan.



