TEHERAN — Persatuan dunia Islam tidak berarti seluruh negara Muslim harus memiliki pandangan, bentuk, maupun jalan yang sama. Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Seyed Abbas Araghchi, ketika berbicara dalam acara Riwayat-e Rahmat di Talar-e Vahdat, Teheran, Sabtu, 29 Agustus 2026. Pernyataan tersebut menyoroti pentingnya memahami persatuan sebagai upaya membangun hubungan bersama tanpa menghilangkan keberagaman yang ada.
Acara Riwayat-e Rahmat dihadiri berbagai tokoh pemerintahan, ulama, akademisi, seniman, budayawan, serta perwakilan negara-negara sahabat. Delegasi Sekolah Negarawan turut hadir dalam agenda tersebut sebagai bagian dari rangkaian kunjungan ke Iran. Delegasi tersebut terdiri atas Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, PhD, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta Direktur Cooperation and International Relations Abdullah Assegaf.
Dalam pidatonya, Araghchi mengangkat gagasan persatuan dunia Islam dengan menempatkannya dalam perspektif hubungan antarnegara. Ia menyebut Saudi Arabia, Mesir, Turki, Pakistan, dan berbagai negara Islam lainnya sebagai bagian dari satu keluarga besar dunia Islam. Namun, ia memberikan catatan bahwa persatuan tidak dapat dimaknai sebagai tuntutan agar seluruh negara Muslim memiliki bentuk dan pandangan yang sepenuhnya sama.
“Ketika kita berbicara mengenai persatuan, bukan berarti bahwa kita semua harus memiliki bentuk, warna, pandangan, atau jalan yang sepenuhnya sama,” demikian inti pesan yang disampaikan Araghchi.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa persatuan dapat dibangun di tengah keberagaman. Dunia Islam memiliki latar belakang yang luas dengan perbedaan sejarah, budaya, pemikiran, dan pengalaman masyarakat. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menemukan ruang kerja sama dan tujuan bersama yang lebih besar.

Araghchi juga mengakui bahwa terdapat perbedaan pandangan di antara berbagai negara Islam. Namun, menurutnya, perbedaan tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas dengan mengutamakan nilai persaudaraan dan kepentingan bersama. Persatuan bukan berarti menghilangkan identitas masing-masing, melainkan membangun hubungan yang saling menghargai.
Dalam pandangan yang disampaikan pada forum tersebut, persatuan tidak selalu berarti keseragaman. Setiap negara dapat mempertahankan karakter, budaya, dan identitasnya masing-masing, sementara tetap membuka ruang untuk saling mendukung dalam berbagai bidang. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan kebijaksanaan.
Araghchi kemudian menghubungkan gagasan persatuan tersebut dengan keteladanan Nabi Muhammad ﷺ sebagai pembawa pesan persaudaraan dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Bagi Iran, persatuan dunia Islam menjadi salah satu prinsip penting dalam membangun hubungan antarnegara Muslim. Pesan tersebut disampaikan dalam acara yang mengambil tema mengenai rahmat Nabi Muhammad ﷺ sehingga nilai persatuan ditempatkan dalam konteks keteladanan Rasulullah ﷺ.
Bagi delegasi Sekolah Negarawan, forum tersebut menjadi pengalaman penting untuk melihat bagaimana hubungan antarnegara dapat dipertemukan dengan pendekatan kebudayaan dan keagamaan. Kehadiran delegasi Indonesia dalam acara tersebut juga menunjukkan hubungan yang dibangun melalui pertukaran gagasan, pendidikan, kebudayaan, dan pengalaman dalam kehidupan bermasyarakat. Pertemuan tersebut menjadi ruang pembelajaran mengenai pentingnya membangun hubungan yang menghargai perbedaan.
Riwayat-e Rahmat pada akhirnya bukan hanya menjadi peringatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai perspektif mengenai bagaimana nilai Nabi Muhammad ﷺ dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat modern. Forum tersebut memperlihatkan bahwa pesan persatuan tetap memiliki relevansi dalam menghadapi dunia yang penuh keberagaman. Persatuan dapat tumbuh ketika masyarakat dan bangsa mampu menemukan nilai bersama tanpa harus menghapus perbedaan yang ada.
Dari Vahdat Hall, pesan yang dibawa adalah bahwa persatuan dunia Islam bukan tentang menjadikan semua pihak seragam, melainkan tentang membangun kesadaran bersama di tengah keberagaman. Gagasan tersebut menjadi salah satu refleksi penting yang dibawa pulang delegasi Sekolah Negarawan dari forum kebudayaan dan keagamaan tersebut. Perbedaan dapat tetap berdampingan ketika terdapat kemauan untuk membangun hubungan berdasarkan penghormatan, dialog, dan tujuan bersama.



