QOM, IRAN — Di tengah kota Qom, Iran, berdiri sebuah kompleks keagamaan yang bukan hanya menjadi tujuan ziarah, tetapi juga menyimpan jejak panjang perkembangan intelektual, pendidikan, dan gerakan sosial-keagamaan Iran. Kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah menjadi salah satu simbol penting yang memperlihatkan bagaimana ruang spiritual dapat berkembang menjadi ruang pembentukan kesadaran sosial dan politik.
Jejak tersebut terasa kuat ketika Tim Sekolah Negarawan mengunjungi kompleks makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah dalam rangkaian kunjungan ke Iran. Kedatangan rombongan disambut oleh Kantor Urusan Internasional kompleks tersebut. Pertemuan berlangsung dalam suasana ramah tamah dan diisi dengan pertukaran pandangan mengenai kebudayaan Islam serta pengalaman masyarakat Muslim dalam menjaga tradisi keagamaan dan intelektual.
Bagi rombongan Sekolah Negarawan, kunjungan tersebut tidak semata-mata merupakan perjalanan religi. Kompleks Sayyidah Ma’sumah merupakan pintu untuk memahami salah satu episode paling menentukan dalam sejarah Iran modern: bagaimana Qom menjadi salah satu pusat lahir dan berkembangnya gerakan yang kemudian berujung pada Revolusi Islam 1979.
Qom dan spiritualitas yang menjadi kekuatan sosial
Sayyidah Fatimah Ma’sumah dikenal dalam tradisi Syiah Imamiyah sebagai putri Imam Musa al-Kazhim dan saudara perempuan Imam Ali al-Ridha, Imam kedelapan dalam tradisi tersebut. Makamnya kemudian berkembang menjadi salah satu pusat ziarah terpenting di Iran.
Namun pengaruh kompleks ini tidak berhenti pada fungsi ritual. Di sekeliling makam berkembang jaringan pendidikan keagamaan dan kehidupan intelektual yang menjadikan Qom sebagai salah satu pusat utama pembelajaran Islam Syiah.
Di sinilah letak pentingnya memahami Revolusi Islam Iran. Revolusi tersebut tidak muncul secara tiba-tiba pada 1978–1979. Jauh sebelumnya telah terbentuk jaringan ulama, madrasah, pelajar agama, pedagang, dan masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan ruang-ruang keagamaan di Qom.
Dengan kata lain, masjid, makam, madrasah, dan pusat-pusat pengajaran tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Ia juga menjadi ruang bertemunya gagasan, membangun solidaritas, dan menyebarkan pandangan keagamaan kepada masyarakat.

Imam Khomeini dan madrasah di sekitar makam
Nama Imam Ruhollah Khomeini tidak dapat dipisahkan dari sejarah Qom. Sebelum menjadi tokoh revolusi, Khomeini merupakan seorang ulama dan guru yang lama beraktivitas di kota tersebut.
Salah satu ruang yang sangat penting adalah Madrasah Feyziyeh, yang berada di lingkungan kompleks pendidikan keagamaan di dekat makam Sayyidah Ma’sumah. Di tempat inilah Khomeini mengajar dan menyampaikan gagasan-gagasan keagamaannya jauh sebelum Revolusi 1979.
Feyziyeh kemudian menjadi salah satu panggung penting konfrontasi antara gerakan ulama dan pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Pada 3 Juni 1963, bertepatan dengan peringatan Asyura, Khomeini menyampaikan pidato terkenal di Feyziyeh. Dalam pidato tersebut ia mengecam Shah dan kebijakan pemerintahannya. Dua hari kemudian Khomeini ditangkap. Penangkapan itu memicu demonstrasi besar pada 5 Juni 1963 yang kemudian dikenal sebagai gerakan 15 Khordad.
Sejarawan mencatat peristiwa 1963 tersebut sebagai salah satu titik balik penting dalam perjalanan politik Iran. Penindasan terhadap demonstrasi justru memperkuat posisi Khomeini sebagai tokoh oposisi utama terhadap Shah. (Iranica Online)
Karena itu, ketika melihat kompleks Sayyidah Ma’sumah hari ini, yang terlihat bukan hanya bangunan monumental dan tempat ziarah. Di baliknya terdapat sejarah panjang mengenai hubungan antara agama, pendidikan, masyarakat, dan politik.

Mengapa Qom menjadi titik penting revolusi?
Salah satu pelajaran penting dari sejarah Revolusi Islam Iran adalah bahwa perubahan politik tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan.
Dalam kasus Iran, salah satu kekuatan utama gerakan revolusioner justru tumbuh dari ruang sosial yang telah dipercaya masyarakat selama berabad-abad.
Kompleks makam Sayyidah Ma’sumah memiliki posisi strategis karena berada di tengah kehidupan keagamaan masyarakat Qom. Ia menjadi titik pertemuan antara jamaah, peziarah, ulama, pelajar agama, keluarga, pedagang, dan berbagai lapisan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, ruang keagamaan memiliki kemampuan membangun apa yang dalam perspektif ilmu politik dapat disebut sebagai social network yaitu jaringan sosial yang memungkinkan gagasan bergerak dari lingkungan ulama menuju masyarakat luas. Inilah yang membuat Qom memiliki arti khusus dalam sejarah revolusi.
Spiritualitas tidak berdiri sendiri. Ia bertemu dengan pendidikan. Pendidikan bertemu dengan jaringan sosial. Jaringan sosial kemudian bertemu dengan persoalan politik dan ketidakpuasan terhadap rezim Shah.
Dari sinilah ruang-ruang keagamaan memperoleh fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat ritual.
Dari Feyziyeh menuju revolusi
Penting pula membedakan antara Qom sebagai pusat spiritual dan intelektual revolusi dengan lokasi pidato pertama Khomeini setelah kembali dari pengasingan.
Pidato pertama Khomeini setelah kembali ke Iran pada 1 Februari 1979 berlangsung di Pemakaman Behesht-e Zahra, Tehran, bukan di kompleks Sayyidah Ma’sumah. Dalam pidato tersebut, Khomeini menyampaikan sikap politiknya terhadap pemerintahan yang masih dipimpin Perdana Menteri Shahpour Bakhtiar. (RadioFreeEurope/RadioLiberty)
Namun, secara historis, akar mobilisasi yang mengantarkan Iran menuju revolusi telah lama berkembang di tempat-tempat seperti Qom.
Dengan demikian, kompleks Sayyidah Ma’sumah lebih tepat dipahami sebagai bagian dari ruang spiritual, intelektual, dan sosial yang menyediakan ekosistem bagi gerakan revolusioner, bukan sebagai lokasi pidato pertama Khomeini setelah rezim Shah tumbang.
Perbedaan ini penting agar sejarah tidak disederhanakan.
Pendidikan sebagai warisan revolusi
Hubungan antara kompleks keagamaan dan pendidikan juga menjadi bagian penting dari sejarah Qom.
Madrasah-madrasah di sekitar makam tidak hanya mencetak ahli agama. Dalam sejarah modern Iran, lingkungan pendidikan keagamaan juga menjadi tempat berlangsungnya perdebatan mengenai hubungan Islam, masyarakat, negara, keadilan, dan kekuasaan.
Karena itu, menarik untuk melihat bagaimana bangunan-bangunan pendidikan keagamaan yang telah lama menjadi bagian dari kompleks tersebut terus memperoleh fungsi sosial setelah Revolusi Islam.
Bagi Sekolah Negarawan, pengalaman ini memberikan satu pelajaran yang menarik yaitu sebuah ruang spiritual dapat menjadi institusi sosial apabila ia memiliki hubungan yang kuat dengan pendidikan dan kehidupan masyarakat.
Menziarahi sejarah, bukan hanya bangunan
Kunjungan Tim Sekolah Negarawan ke kompleks Sayyidah Fatimah Ma’sumah akhirnya menjadi perjalanan yang lebih dari sekadar mengunjungi situs keagamaan.
Rombongan tidak hanya melihat arsitektur, tradisi ziarah, dan kehidupan keagamaan masyarakat Qom. Pertemuan dengan Kantor Urusan Internasional juga membuka ruang dialog mengenai kebudayaan Islam dan bagaimana tradisi keislaman dipelihara dalam masyarakat.
Dari tempat ini, sejarah Revolusi Islam Iran dapat dibaca dari perspektif yang lebih luas.
Revolusi bukan hanya kisah tentang jatuhnya sebuah rezim pada 1979. Ia juga merupakan kisah panjang tentang bagaimana gagasan dibangun, diajarkan, diwariskan, dan kemudian memperoleh resonansi di tengah masyarakat.
Dan di Qom, salah satu ruang paling penting dalam perjalanan itu adalah kawasan yang selama berabad-abad tumbuh di sekitar makam Sayyidah Fatimah Ma’sumah.
Di tempat inilah spiritualitas bertemu dengan pendidikan; pendidikan bertemu dengan masyarakat dan masyarakat kemudian menjadi kekuatan sejarah.
Itulah yang membuat kompleks Sayyidah Ma’sumah penting untuk dipahami bukan hanya sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai salah satu ruang yang membantu menjelaskan mengapa Qom kemudian menjadi salah satu jantung spiritual Revolusi Islam Iran.



