beritax.id — Fenomena upah ekonomi rapuh semakin nyata dirasakan jutaan buruh di Indonesia. Di tengah klaim stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, sebagian besar pekerja justru hidup dari upah ke upah, tanpa ruang untuk menabung atau meningkatkan kualitas hidup. Kondisi ini mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi nasional, di mana kerja keras tidak lagi menjamin keamanan hidup.
Dalam beberapa bulan terakhir, publik disuguhi berita pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki. Bagi buruh yang masih bekerja, ancaman tidak kalah berat: upah stagnan, sistem kerja kontrak berkepanjangan, serta kenaikan biaya hidup yang terus menggerus pendapatan bulanan. Hidup dari gaji ke gaji bukan pilihan, melainkan keterpaksaan.
Upah Tertinggal dari Biaya Hidup
Kenaikan upah minimum di berbagai daerah dinilai belum mampu mengejar laju kenaikan harga kebutuhan dasar. Biaya pangan, perumahan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan terus meningkat, sementara upah riil buruh cenderung stagnan. Akibatnya, buruh tidak memiliki daya tahan ekonomi; satu sakit, satu krisis, atau satu PHK sudah cukup untuk menjatuhkan keluarga ke jurang kemiskinan.
Situasi ini diperparah oleh melemahnya posisi tawar buruh akibat meluasnya sistem kerja fleksibel dan outsourcing.
Kerja Ada, Kepastian Hilang
Ekonomi rapuh ditandai bukan hanya oleh angka pertumbuhan yang timpang, tetapi oleh hilangnya kepastian hidup bagi pekerja. Banyak buruh bekerja penuh waktu, namun tanpa kontrak jelas, jaminan sosial memadai, atau kepastian karier. Kerja ada, tetapi masa depan buram.
Dalam kondisi seperti ini, buruh bukan hanya korban pasar, tetapi juga korban kebijakan yang lebih berpihak pada fleksibilitas modal ketimbang perlindungan tenaga kerja.
Ancaman Jangka Panjang bagi Ekonomi
Buruh yang hidup dari upah ke upah adalah cermin ekonomi yang tidak sehat. Ketika mayoritas pekerja tidak mampu menabung dan meningkatkan keterampilan, konsumsi rumah tangga melemah dan produktivitas jangka panjang terhambat. Ekonomi nasional kehilangan fondasi terpentingnya: tenaga kerja yang sejahtera dan berdaya.
Jika kondisi ini dibiarkan, Indonesia berisiko terjebak dalam lingkaran upah rendah, kerja rentan, dan pertumbuhan yang rapuh.
Solusi: Menguatkan Upah dan Kepastian Kerja
Untuk keluar dari jebakan ekonomi rapuh, diperlukan langkah kebijakan yang berpihak pada buruh, antara lain:
- Menetapkan kebijakan upah yang benar-benar berbasis biaya hidup layak, bukan sekadar inflasi atau pertumbuhan ekonomi.
- Memperkuat perlindungan kerja dan membatasi praktik kontrak berkepanjangan serta outsourcing, agar buruh memiliki kepastian.
- Mengendalikan biaya hidup esensial, terutama pangan, perumahan, pendidikan, dan kesehatan.
- Mendorong industrialisasi padat karya dan bernilai tambah, agar produktivitas dan upah dapat naik bersamaan.
- Memperluas jaminan sosial bagi buruh, termasuk perlindungan saat PHK dan masa transisi kerja.
Buruh yang hidup dari upah ke upah bukanlah tanda ekonomi yang sehat. Selama kerja keras tidak mampu menjamin kehidupan yang layak, maka ekonomi Indonesia masih rapuh dan kesejahteraan hanyalah janji di atas kertas.



