TALLINN, ESTONIA – Tingkat stres warga di sebuah kota besar sering kali bermula dari kacaunya sistem transportasi umum pada jam-jam sibuk. Untuk menemukan penawar dari kekacauan urban tersebut, pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan menelusuri ekosistem angkutan kota di Tallinn, Estonia, sebuah negara yang sukses membuktikan bahwa modernisasi digital mampu menghadirkan ketenteraman hidup bagi warganya.
Turun langsung membedah urat nadi mobilitas ibu kota Estonia ini adalah pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan: Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Rombongan secara intensif menggunakan fasilitas trem yang membelah kawasan kota tua (Old Town) hingga ke distrik bisnis modern Tallinn, mengamati bagaimana warga lokal berinteraksi dengan infrastruktur yang disediakan oleh negara.

Satu hal yang paling mencolok di halte dan di dalam gerbong trem Tallinn adalah ketiadaan budaya grusa-grusu. Tidak ada penumpang yang sikut-sikutan untuk masuk lebih dulu, tidak ada suara klakson yang bersahutan dari pengemudi trem, dan tidak ada kecemasan akan tertinggal jadwal. Warga Estonia melangkah dengan tenang, rapi, dan teratur karena mereka tahu pemerintah telah mendesain sistem yang dapat diandalkan setiap menitnya.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, memaknai ketenangan ini sebagai wujud dari terpenuhinya keadilan substansial. Berpijak pada pilar kenegaraan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang dihidupkan di Sekolah Negarawan, Prayogi menuturkan bahwa ketika negara bertanggung jawab penuh dalam melayani warganya, karakter masyarakat dengan sendirinya akan menjadi beradab. Kebahagiaan sosial tumbuh subur ketika negara melepaskan warga dari hukum rimba jalanan.
Kenyamanan tersebut disempurnakan oleh kepraktisan kartu Ühiskaart. Wakil Direktur Rinto Setiyawan menyoroti kemudahan sistem tiket ini. Dengan satu kartu, penumpang dapat mengakses seluruh moda angkutan. Lebih jauh lagi, fitur refund (pengembalian dana) pada kartu ini membuktikan transparansi mutlak pemerintah Estonia. Uang jaminan kartu dan saldo yang tidak terpakai dapat diambil kembali kapan saja, menunjukkan bahwa negara tidak mengambil hak milik warga sepeser pun secara sepihak.
CEO Enygma, Erick Karya, mengurai rahasia di balik keteraturan tersebut: e-governance terbaik di dunia. Di Estonia, hampir 99% layanan publik telah didigitalkan. Melalui platform AI yang digagas Enygma bersama Sekolah Negarawan, Erick meyakini bahwa Indonesia bisa mereplikasi arsitektur digital ini. Trem yang bebas grusa-grusu adalah hasil dari algoritma penjadwalan pintar dan analisis mahadata (big data) yang memprediksi lonjakan penumpang secara akurat.
Catatan dari trem Tallinn ini menggenapi lembaran riset Ekosistem Sekolah Negarawan yang telah menyeberangi 12 negara selama dua tahun terakhir. Membawa pulang kearifan tata kelola dari Estonia, kenyamanan Nordik (Finlandia), literasi Eropa Barat, hingga kedalaman peradaban Turkiye, Timur Tengah, Persia (Iran), dan Asia Tenggara, gagasan pembaruan ini terus dikobarkan di Nusantara, menjangkau ruang-ruang kesadaran publik dari Medan hingga Ternate dan Tidore.



