SURABAYA – Diskusi kebangsaan yang utuh tidak boleh hanya didominasi oleh perspektif ibu kota. Kesadaran inilah yang diwujudkan dalam acara Sinau Kebangsaan garapan Ekosistem Sekolah Negarawan dan Komunitas Bangbangwetan pada 10 November 2025. Menariknya, panggung maiyahan ini tidak hanya menghadirkan tokoh dari ujung timur Nusantara hingga benua Eropa, tetapi juga dibuka dengan sebuah video sambutan hangat dari Jenderal TNI (Purn) Fachrurrozi.

Dipandu dengan ritme yang membumi oleh Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, forum ini mempertanyakan apakah bangsa Indonesia sudah on the track menuju kemakmuran. Untuk membedahnya, Prayogi memberikan ruang seluas-luasnya kepada Sekretaris Kesultanan Ternate, Tokoh Kesultanan Tidore, serta perwakilan Diaspora Indonesia di Belanda untuk memaparkan pandangan mereka.
Tokoh dari Kesultanan Tidore dan Ternate memberikan refleksi tajam mengenai realitas di kawasan timur Indonesia. Di atas tanah yang dulunya menjadi episentrum rempah dunia dan kini menjadi lumbung tambang raksasa, kemakmuran rakyat lokal justru kerap terpinggirkan. Mereka mengidentifikasi bahwa hambatan utama bangsa adalah tata kelola sumber daya alam yang terlalu sentralistik dan eksploitatif, sehingga sering kali mencabut akar kebudayaan serta hak-hak masyarakat adat setempat.
Sementara itu, perwakilan Diaspora dari Belanda memberikan perspektif komparatif mengenai tata kelola negara maju. Ia menyoroti bahwa hambatan lain bagi Indonesia adalah lemahnya social trust (kepercayaan sosial) akibat korupsi di berbagai sektor publik. Menurut sang diaspora, kemakmuran tidak akan tercapai jika negara gagal memberikan jaminan kepastian hukum dan sosial yang merata bagi seluruh warga negaranya.

Setelah membedah berbagai hambatan tersebut, Prayogi R. Saputra merajut simpul solusi. Pembenahan harus dilakukan dengan mendesentralisasikan keadilan, bukan hanya anggaran. Menghormati hak masyarakat adat di timur dan menyerap kearifan tata kelola dari diaspora di luar negeri adalah langkah konkret yang harus diambil.
Acara yang turut dibersamai oleh KiaiKanjeng ini berlangsung penuh khidmat. Kehadiran video sambutan Jenderal TNI (Purn) Fachrurrozi di awal acara, ditambah harmoni musik KiaiKanjeng, menetralisir suhu diskusi yang berat menjadi sebuah perenungan batin yang menyejukkan bagi ribuan jamaah Bangbangwetan.



