TALLINN, ESTONIA – Untuk memahami seberapa berhasil suatu kebijakan publik, cara paling sahih adalah dengan mendengarkan langsung kesaksian warga yang menjalaninya. Menggunakan pendekatan sosiologis tersebut, para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan menggelar dialog informal dengan komunitas warga lokal Estonia di tengah kesejukan Hutan Kota Kadriorg, Tallinn, untuk membedah relasi antara lingkungan yang sehat dengan indeks kebahagiaan nasional.
Dialog lintas budaya di ruang terbuka ini diinisiasi oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Perbincangan yang mengalir hangat ini dijembatani oleh Wiwik H, diaspora Indonesia yang fasih menerjemahkan konteks kultural Estonia, membuat warga lokal merasa nyaman berbagi filosofi hidup mereka tentang alam dan negara.

Warga lokal menceritakan bahwa bagi orang Estonia, hutan adalah “kuil” kedua mereka. Meski negara ini memegang predikat sebagai masyarakat paling digital di dunia (e-Estonia), mereka tidak pernah kehilangan ikatan spiritual dengan tanah, pohon, dan udara bersih. Mereka dengan bangga menjelaskan bahwa pemerintah secara ketat melindungi lebih dari 50% wilayah daratan Estonia sebagai kawasan hutan dan rawa (bogs), memastikan bahwa ekspansi ekonomi tidak pernah menumbalkan keseimbangan ekosistem.
Merespons pandangan tersebut, Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menemukan benang merah yang sangat kuat dengan ajaran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Prayogi menyatakan bahwa bangsa Estonia mempraktikkan “puasa ekologis” kemampuan menahan diri dari keserakahan eksploitasi alam demi keuntungan ekonomi jangka pendek. Di sinilah letak kewarasan sebuah bangsa; ketika mereka sadar bahwa uang tidak bisa dihirup sebagai pengganti oksigen saat hutan-hutan telah ditebang habis.
Wakil Direktur Rinto Setiyawan menyoroti dimensi egalitarianisme dalam interaksi warga di taman Kadriorg. Tidak ada area Very Important Person (VIP) di hutan kota ini. Seorang menteri, pengusaha startup unicorn (yang banyak lahir di Estonia), hingga pekerja biasa berjalan di jalur setapak yang sama dan menghirup kualitas oksigen yang sama. Wiwik H menambahkan bahwa keadilan spasial (ruang) inilah yang menumbuhkan rasa saling percaya (social trust) yang sangat tinggi antara rakyat dan pemerintahnya.

Keseimbangan antara hiper-digitalisasi dan kelestarian alam di Estonia ini memukau CEO Enygma, Erick Karya. Erick memaparkan bahwa Artificial Intelligence (AI) dalam sistem tata kelola Enygma yang diusung Sekolah Negarawan harus mampu mengaudit carrying capacity (daya dukung) lingkungan suatu daerah. Jika di Estonia teknologi digunakan untuk melacak jejak karbon dan memetakan ruang terbuka hijau secara presisi, maka Indonesia juga harus menggunakan AI untuk menghentikan deforestasi dan memastikan ketersediaan paru-paru kota yang layak bagi rakyatnya.
Catatan dialog dari Hutan Kadriorg ini menyempurnakan portofolio riset kenegaraan Ekosistem Sekolah Negarawan yang ditenun dari lawatan ke 12 negara. Mengawinkan hikmah dari kawasan Baltik, Nordik, Eropa Barat, warisan Timur Tengah, peradaban Persia, hingga kekuatan maritim Asia Tenggara, Ekosistem Sekolah Negarawan terus menggerakkan roda diseminasi intelektual tanpa kenal lelah, menyebar dari ujung Medan hingga ufuk Ternate dan Tidore.



