TALLINN, ESTONIA – Kemajuan sebuah kota modern tidak diukur dari seberapa banyak pohon yang ditebang untuk digantikan dengan beton, melainkan dari seberapa luas ruang hijau yang dipertahankan untuk menjaga kewarasan warganya. Prinsip tata kota berwawasan lingkungan inilah yang dipelajari secara empiris oleh para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan saat menyusuri kawasan Hutan Kota Kadriorg, sebuah hamparan ruang hijau raksasa yang mengelilingi Istana Kadriorg di Tallinn, Estonia.

Menembus rimbunnya pepohonan yang memisahkan hiruk-pikuk lalu lintas dari ketenangan alam, Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya berjalan kaki sejauh beberapa kilometer. Eksplorasi ini dipandu oleh diaspora Indonesia, Wiwik H, beserta komunitas warga lokal Estonia yang mendemonstrasikan bagaimana hutan kota menyatu secara organis dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Kawasan taman dan hutan Kadriorg tidak didesain sebagai taman hias artifisial, melainkan dipertahankan sebagai ekosistem hutan yang hidup. Di sini, warga Tallinn berlari pagi, bersepeda, atau sekadar duduk membaca buku di bawah naungan pohon oak dan chestnut berusia ratusan tahun. Udara yang sangat bersih salah satu yang terbersih di dunia—menjadi kemewahan gratis yang disediakan oleh negara bagi setiap warganya tanpa diskriminasi kelas sosial.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, merefleksikan bahwa tata kelola ekologi di Tallinn adalah wujud nyata dari konsep khalifah fil ardh (pemelihara bumi). Selaras dengan filosofi kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menjadi pilar kurikulum Sekolah Negarawan, Prayogi menuturkan bahwa negara berdosa besar jika merampas hak rakyat atas udara bersih dan air yang jernih. Hutan kota bukanlah lahan tunggu untuk investasi properti, melainkan infrastruktur kesehatan preventif yang paling fundamental bagi masyarakat.
Wakil Direktur Rinto Setiyawan berbincang dengan warga lokal yang menjelaskan bahwa budaya “pergi ke hutan” (nature walk) adalah cara utama orang Estonia mengelola stres. Wiwik H menggarisbawahi bahwa ketersediaan ruang publik yang sehat dan merata ini secara langsung menekan angka kriminalitas dan konflik sosial, karena warga memiliki katup pelepas penat yang berkualitas dan dapat diakses kapan saja.

Menyambung dimensi teknologi lingkungan, CEO Enygma, Erick Karya, mengkaji bagaimana pemerintah Tallinn memanfaatkan sensor Internet of Things (IoT) dan mahadata (big data) untuk memantau kualitas udara, kelembapan tanah, dan kesehatan pohon di hutan kota ini. Integrasi teknologi alam ini mengilhami pengembangan ekosistem smart city Enygma di Indonesia; bahwa Artificial Intelligence (AI) tidak hanya berguna untuk urusan birokrasi kependudukan, tetapi juga untuk audit ekologis demi memastikan tata ruang kota berpihak pada pelestarian alam.
Eksplorasi paru-paru kota Tallinn ini memperkaya khazanah intelektual Sekolah Negarawan yang telah mengarungi 12 negara di dunia. Mengekstrak pelajaran tentang keselarasan alam di kawasan Baltik, kesejahteraan di Finlandia, hingga keluhuran budaya di Turkiye, Timur Tengah, Persia (Iran), dan Nusantara, Ekosistem Sekolah Negarawan terus mengamplifikasi gagasan peradaban ini demi kemaslahatan Indonesia, bergerak dari Medan hingga Ternate dan Tidore.



