Oleh: Muhammad Fahri Kholid, Study Sejarah dan Hubungan Internasional di Universite de Lyon. Prancis
beritax.id – Sulit dipungkiri bahwa dunia saat ini bergerak dalam lingkup yang seolah-olah itu-itu saja, yakni lingkup ekonomi. Peristiwa di Prancis dan sejumlah negara Eropa pada 17 Oktober 2026 merupakan sebuah peristiwa, atau rangkaian peristiwa, yang dapat kita ibaratkan sebagai bidak domino yang telah jatuh dan menyentuh bidak-bidak lainnya. Kini, kita mulai bertanya-tanya: apa bidak domino yang jatuh sebelum 17 Oktober, dan bidak apa yang akan menyusul setelahnya?

Mungkin banyak orang akan menjawab bahwa pemicunya adalah demonstrasi para pelajar SMA di Prancis yang memprotes buruknya fasilitas yang mereka terima, anggaran pendidikan yang terus berkurang, serta kurangnya tenaga administrasi. Namun, persoalannya tidak berhenti di situ. Biaya hidup yang terus meningkat dan upah yang tidak mampu mengimbangi inflasi mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Prancis, sebagaimana yang juga terjadi di berbagai belahan dunia.
Sehari setelah peristiwa tersebut, Presiden Macron mengungkapkan bahwa ketidakmampuan pemerintah dalam menangani situasi di kawasan Teluk turut menyebabkan kenaikan harga minyak secara drastis. Namun, apakah cukup dengan mengungkap beberapa bidak domino untuk menebak bidak mana yang akan jatuh berikutnya? Tentu tidak.
Sekarang, mari kita mundur perlahan dan menelusuri sejumlah peristiwa besar yang mendahuluinya. Salah satunya adalah perang antara Iran dan Israel, dengan keterlibatan Amerika Serikat, yang berujung pada terganggunya salah satu jalur penting perdagangan dunia. Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar energi global. Kita teringat bagaimana Ferdinand de Lesseps berjuang membangun Terusan Suez sebagai jalur penghubung penting antara Timur dan Barat, melalui berbagai upaya diplomatik untuk memperoleh dukungan politik. Namun, jalur-jalur strategis perdagangan dunia kembali menghadapi ancaman penutupan dan gangguan akibat konflik geopolitik, sementara keputusan-keputusan politik yang diambil tanpa pemahaman memadai terhadap medan perang dan pihak lawan justru berpotensi memperburuk keadaan.

Selanjutnya, ada perang Rusia dan Ukraina. Perang ini menjadi salah satu konflik berskala besar di Eropa sejak berakhirnya Perang Dunia II. Dimulai pada 2022, perang tersebut belum berakhir hingga saat ini. Konflik ini menguras sumber daya keuangan dan militer, baik dari negara-negara Uni Eropa maupun Amerika Serikat. Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi, sebagian masyarakat pun mempertanyakan penggunaan uang pajak untuk membiayai perang yang mereka anggap bukan bagian langsung dari kepentingan mereka. Akibatnya, Rusia dan negara-negara Eropa sama-sama menghadapi berbagai konsekuensi yang merugikan, terutama dalam bidang ekonomi, yang semakin memperbesar ketidakpastian di kawasan tersebut.
Pandemi COVID-19 juga merupakan bagian dari rangkaian bidak domino sebelumnya. Pengeluaran untuk bantuan bagi para pekerja yang dirumahkan, bantuan pangan yang diselenggarakan setiap minggu, serta penurunan harga makanan bagi mahasiswa dari €3,30 menjadi €1 merupakan gambaran dari berbagai bentuk intervensi yang dibutuhkan selama masa krisis. Namun, di balik berbagai upaya tersebut, terdapat beban keuangan yang harus ditanggung dalam jangka panjang. Bahkan hingga kini, sektor kesehatan Prancis masih menghadapi tantangan dalam memulihkan kondisi dan kapasitasnya. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Eropa, tetapi juga di seluruh dunia. Pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai tempat, banyak orang kehilangan sumber penghasilan, dan tidak sedikit keluarga yang menghadapi tekanan sosial maupun ekonomi. Sulitnya memperoleh pekerjaan membuat sebagian orang semakin rentan terhadap kemiskinan dan kelaparan. Sungguh, pandemi telah meninggalkan luka yang tidak mudah dipulihkan.
Pandemi COVID-19 juga mempercepat digitalisasi pekerjaan, pendidikan, dan pengelolaan dokumen. Perubahan ini dilakukan secara masif, antara lain untuk mengurangi penggunaan kertas dan menekan biaya operasional perusahaan. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul persoalan lain: manusia modern semakin sering direduksi menjadi sekumpulan data yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keuntungan korporasi. Kebiasaan, kesukaan, serta apa yang mereka baca dan lihat menjadi sumber informasi yang bernilai ekonomi. Lantas, bagaimana dengan kebebasan? Jangan terburu-buru membicarakannya, sebab kebebasan di zaman ini semakin terasa sebagai sesuatu yang semu. Tatanan lama belum mampu menjamin ruang kebebasan yang memadai bagi manusia. Karena itulah, tuntutan akan tatanan baru muncul, salah satunya sebagai harapan untuk memperoleh ruang kebebasan yang lebih luas.

Sekarang, mari kita mulai menganalisis apa yang sebenarnya sedang terjadi. Perang, kelaparan, wabah, dan kematian dikenal sebagai empat penunggang kuda dalam tradisi kristiani, sebuah gambaran simbolis tentang kehancuran dan penderitaan. Dalam konteks dunia modern, krisis-krisis semacam ini juga dapat menjadi bahan bakar bagi industri media untuk terus menarik perhatian dan memperoleh keuntungan. Banyak kapitalis memiliki kepentingan dalam industri media karena mereka memahami nilai ekonomi dari bisnis tersebut. Di sinilah muncul sebuah paradoks yang mengerikan.
Orang-orang berlomba-lomba mengunggah foto dan video untuk menuntut keadilan, melawan korporasi, pemerintah, dan aparat. Namun, pihak-pihak yang mereka lawan sering kali justru memiliki sumber daya, teknologi, dan kemampuan yang lebih besar untuk mengendalikan arus informasi serta membentuk opini publik. Akibatnya, keadilan yang diperoleh terkadang hanya bersifat semu: sebuah bentuk keadilan yang diberikan secara terbatas oleh mereka yang memiliki kekuasaan, tanpa benar-benar mengubah struktur yang melahirkan ketidakadilan itu sendiri.
Lalu, bagaimana cara melawannya? Tatanan baru! Itulah yang diharapkan. Namun, tatanan baru seperti apa yang sebenarnya kita inginkan? Gagasan tersebut mungkin terdengar terlalu utopis untuk diwujudkan. Akan tetapi, bukankah dunia modern yang kita tempati saat ini juga merupakan hasil dari berbagai gagasan yang dahulu dianggap utopis oleh manusia pada zaman purba, kuno, maupun era kerajaan? Sesuatu yang dahulu tampak mustahil tidak selalu berarti mustahil untuk diwujudkan. Kemungkinan akan selalu ada, meskipun peluangnya mungkin hanya satu persen.
Tatanan dunia baru adalah bidak domino berikutnya. Entah ia merupakan bidak keberapa dalam rangkaian panjang ini, yang jelas ia sudah tampak di hadapan kita, menunggu untuk jatuh pada tahun-tahun mendatang. Kekecewaan terhadap sistem demokrasi liberal, neoliberalisme, dan neokolonialisme tampaknya semakin menguat di berbagai kalangan. Berbagai sistem tersebut kini menghadapi tuntutan untuk dievaluasi, bahkan diubah secara mendasar.
Namun, tatanan dunia baru harus dipikirkan dan dirancang secara matang agar kekuasaan tidak sekadar berpindah tangan, sementara sistem lama tetap bertahan dengan wajah yang berbeda. Kapitalisme memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan memanfaatkan berbagai perubahan demi mempertahankan kepentingannya. Oleh karena itu, setiap gagasan tentang tatanan baru harus dikaji secara saksama agar perubahan yang diharapkan tidak justru menjadi kesempatan baru bagi kekuatan lama untuk mengukuhkan dominasinya.
Jika memang tatanan dunia baru diperlukan, ada empat pertanyaan mendasar yang harus diajukan kepada tatanan tersebut. Para penggagasnya, mereka yang menggantungkan harapan padanya, serta kalangan akademisi harus mampu memberikan jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya pun mempertanyakan hal yang sama. Pertama, siapa yang akan menggagasnya? Kedua, sistem ekonomi apa yang akan diterapkan untuk menopang dan mempertahankan tatanan baru ini? Ketiga, bagaimana kebebasan akan ditempatkan dan dijamin di dalamnya? Dan terakhir, langkah apa yang harus ditempuh untuk mewujudkannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini harus terus kita ajukan apabila saat itu tiba. Sebab, setiap perubahan membawa konsekuensi, dan kita harus bertanggung jawab atas setiap bidak domino yang kita jatuhkan. Ini bukan semata-mata persoalan Prancis, Eropa, atau Timur Tengah, melainkan persoalan universal yang harus kita hadapi bersama sebagai penghuni planet ini.
“Bahaya terbesar dari tatanan baru bukanlah bahwa ia akan mengulangi kesalahan masa lalu, melainkan bahwa ia akan menyebut kesalahan yang sama dengan nama yang berbeda.”



