LAREN, BELANDA – Di tengah dinginnya suhu udara musim gugur di Eropa, kehangatan persaudaraan ala Nusantara tetap menyala di sudut kota Laren, Provinsi Holland Utara, Belanda. Kehangatan itulah yang disambangi oleh para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan saat mengunjungi restoran Java Cuisine yang menyajikan aneka hidangan autentik Indonesia.
Kunjungan yang penuh dengan nuansa kekeluargaan ini dihadiri oleh Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, serta CEO Enygma Erick Karya. Rombongan dipandu dengan sangat apik oleh Syafiih Kamil, Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, menuju lokasi restoran yang beralamat di Velweg 1, 1251 HC Laren.
Setibanya di sana, rombongan disambut dengan senyum ramah khas Indonesia oleh Mbak Atika, sang pemilik Java Cuisine. Mbak Atika adalah figur perempuan perantau yang menginspirasi; dengan pengalaman lebih dari 20 tahun tinggal di Belanda, ia berhasil mendirikan rumah makan yang tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga merawat memori kolektif tentang tanah air melalui setiap bumbu yang diraciknya.
Prayogi R. Saputra, Direktur Sekolah Negarawan, menyampaikan bahwa momen makan bersama dan berbincang di Java Cuisine ini mengingatkannya pada nilai-nilai persaudaraan dalam tradisi Maiyah. Mengutip ajaran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menjadi pilar kurikulum lembaganya, Prayogi menyebut bahwa “rumah” bagi manusia Indonesia bukan sekadar letak geografis, melainkan di mana pun hati bisa saling bertaut dan berbagi kearifan.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, menyoroti betapa kuatnya ikatan batin diaspora Indonesia di luar negeri. Interaksi yang terjadi di restoran milik Mbak Atika ini memperlihatkan bahwa kuliner memiliki kekuatan magis untuk meruntuhkan sekat-sekat formalitas, menyatukan berbagai latar belakang profesi, dan menciptakan ruang reriungan yang sehat bagi kesehatan mental para perantau.
Syafiih Kamil, yang sehari-hari menjahit komunikasi jejaring diaspora di Eropa, menyebut bahwa eksistensi Java Cuisine adalah wujud kedaulatan kultural. Mbak Atika membuktikan bahwa warga Indonesia mampu berkompetisi di sektor gastronomi Eropa yang sangat kompetitif, sebuah pencapaian yang patut mendapat dukungan penuh dari ekosistem kebijakan di tanah air.
Dukungan kebijakan tersebut sangat mungkin direalisasikan melalui instrumen tata kelola digital. CEO Enygma, Erick Karya, menilai bahwa backbone tata kelola berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dibangun Enygma bersama Sekolah Negarawan mampu menjadi katalisator. Dengan analisis data yang akurat, pemerintah ke depan dapat memberikan insentif strategis maupun akses bahan baku yang lebih mudah bagi duta-duta kuliner bangsa di mancanegara.
Perjumpaan hangat di Velweg 1, Laren ini menjadi bekal sosiologis yang sangat berharga bagi ekspedisi internasional Sekolah Negarawan. Melalui penjelajahan di 12 negara—dari Eropa Barat, Finlandia (Nordik), Estonia (eks-Uni Soviet), Turkiye, Timur Tengah, Persia (Iran), dan Asia Tenggara—Sekolah Negarawan bertekad membawa pulang kebijaksanaan global untuk ditanamkan di bumi pertiwi, melalui diseminasi gagasan yang terus berdenyut dari Medan hingga Ternate dan Tidore.



