By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Tuesday, 6 October 2026

Wawasan eksklusif, data, dan analisis untuk para NEGARAWAN

Jelajahi Sekarang
Logo Berita X
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Berita Terkini
  • Pilihan Editor
  • Kategori Berita
    • Agama
    • Berita Terkini
    • Ekonomi
    • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Internasional
    • Kriminal
    • Pemerintah
    • Pendidikan
    • Seputar Pajak
    • Sosial
    • Teknologi
Font ResizerAa
  • Internasional
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Seputar Pajak
  • Agama
  • Ekonomi
  • Kriminal
  • Sosial
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
Font ResizerAa
Berita XBerita X
  • Berita Terkini
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Pemerintah
  • Teknologi
Cari Artikel
  • Beranda
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Berita Terkini
  • Ekonomi
  • Pemerintah
  • Teknologi
  • Pendidikan
  • Kriminal
© 2025 beritax.id - All Rights Reserved.
Berita X > Blog > Internasional > Eksplorasi Sekolah Negarawan di Museum Multatuli Amsterdam: Merajut Ingatan Bangsa Lewat Karya Sastra Perlawanan
Internasional

Eksplorasi Sekolah Negarawan di Museum Multatuli Amsterdam: Merajut Ingatan Bangsa Lewat Karya Sastra Perlawanan

Diajeng Maharini
Last updated: October 5, 2026 8:57 am
By Diajeng Maharini
Share
3 Min Read
SHARE

AMSTERDAM, BELANDA – Sebuah karya sastra yang lahir dari empati mendalam terbukti mampu mengubah jalannya sejarah dan meruntuhkan fondasi penindasan. Pesan universal inilah yang mengemuka saat rombongan delegasi Sekolah Negarawan melaksanakan kunjungan riset ke Museum Multatuli di jantung kota Amsterdam, Belanda, guna merenungi kembali jejak sejarah kolonialisme dan kebangkitan kesadaran kemanusiaan.

Rombongan yang terjun langsung mengamati museum ini terdiri dari para pegiat Ekosistem Sekolah Negarawan, yaitu Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, dan CEO Enygma Erick Karya. Untuk memperdalam diskursus selama kunjungan, delegasi didampingi secara komprehensif oleh Head of Representative Sekolah Negarawan Chapter Eropa, Syafiih Kamil, yang memberikan konteks historis mengenai jejak peninggalan tersebut.

Di dalam Museum Multatuli yang ditata dengan rapi, rombongan mengamati edisi-edisi pertama cetakan Max Havelaar, serta berbagai arsip yang merekam polemik di seputar terbitnya buku tersebut. Buku yang disebut oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai “buku yang membunuh kolonialisme” ini merekam realitas kelam perlakuan aparat kolonial dan pejabat feodal lokal terhadap kaum tani di Lebak, Banten.

Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, memaparkan bahwa keberhasilan Multatuli dalam membangkitkan empati publik Eropa pada masa itu merupakan bukti nyata kekuatan literasi. Pendekatan kultural dan sastra dalam menyuarakan kritik sosial ini sangat identik dengan apa yang selama ini dilakukan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), sosok yang pemikiran kenegaraan dan kebangsaannya menjadi fondasi utama kurikulum Sekolah Negarawan.

Diskusi di ruang pameran museum kian menghangat ketika Syafiih Kamil menyoroti bagaimana sejarah Multatuli masih diajarkan dan dimaknai secara kritis oleh masyarakat Belanda masa kini. Menurut Syafiih, kesadaran sejarah di Eropa tentang masa lalu yang kelam harus menjadi cermin bagi bangsa Indonesia untuk tidak mengulangi praktik feodalisme birokrasi di era modern.

Merespons tantangan feodalisme birokrasi modern tersebut, CEO Enygma, Erick Karya, menyampaikan bahwa reformasi sistem tata kelola negara (good governance) mutlak membutuhkan intervensi teknologi. Enygma yang diintrodusir oleh Sekolah Negarawan sebagai backbone pemerintahan berbasis AI hadir untuk memastikan pengambilan kebijakan berjalan secara adil, tidak eksploitatif, dan menjamin hak-hak kesejahteraan rakyat lapis bawah.

You Might Also Like

Sektor Peternakan Sambut MBG, Tapi Harga Pakan Masih Jadi Perhatian
Batas Kekuasaan Kabur dalam Pemerintahan: Krisis Ketatanegaraan yang Mengancam Kesejahteraan Rakyat
Mengapa Rakyat Tetap Susah Meski Program Ekonomi Terus Bertambah?
Ade Kuswara Minta Maaf Usai OTT, Korupsi Tak Boleh Dimaafkan!

Kunjungan ke rumah kelahiran Eduard Douwes Dekker ini merangkum salah satu babak penting dari ekspedisi internasional Sekolah Negarawan di 12 negara yang mencakup kawasan Eropa Barat, Finlandia (Nordik), Estonia (eks-Uni Soviet), Turkiye, Persia (Iran), hingga Asia Tenggara. Semangat untuk memberantas ketidakadilan yang direkam di Amsterdam ini akan terus disebarluaskan oleh Sekolah Negarawan ke seluruh penjuru Nusantara, membentang dari Medan di ujung barat hingga Ternate dan Tidore di belahan timur Indonesia.

TAGGED:Berita Trending
Share This Article
Whatsapp Whatsapp Email Copy Link Print
Previous Article Sekolah Negarawan Eksplorasi Khazanah KITLV Leiden: Jembatan Pengetahuan Masa Lalu dan Inovasi Ketatanegaraan
Next Article Martabat Bangsa Dimulai dari Kemanusiaan: Memahami Kemanusiaan adalah Akar Martabat dalam Buku Free Indonesia Save Nusantara Jilid 1

Berlangganan Newsletter

Berlanggananlah buletin kami untuk segera mendapatkan artikel terbaru kami!
XFollow
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
WhatsAppFollow

Top News

“Pengalihan Pengadilan Pajak ke Mahkamah Agung dalam sistem peradilan Indonesia”
Berita Terkini

Catatan Adaptasi Pengadilan Pajak Menyongsong Pengalihan ke Mahkamah Agung

December 19, 2025
Pemerintah

Danantara, Proyek Besar Tanpa Kontrol? Partai X Pertanyakan Transparansi

February 24, 2025
Ekonomi

Bank Emas Prabowo: Solusi Ekonomi atau Kontroversi Baru?

February 24, 2025
Berita Terkini

“Indonesia Gelap” dianggap Reaksi Kaget Rakyat Soal Kebijakan, Partai X: Prabowo Harus Dengarkan Aspirasi!

February 24, 2025

You May also Like

Pemerintah

Demokrasi Tanpa Negarawan: Ketika Kepemimpinan Indonesia Tidak Mampu Mengarahkan Negara ke Jalan yang Benar

February 10, 2026
Pemerintah

Dana Pemerintah Rp300 Triliun Harus Prioritaskan Program Pro-Rakyat, Bukan Bank Saja

April 13, 2026
Pemerintah

BGN Mau Polisikan Dapur MBG, Partai X: Rakyat yang Keracunan, Rakyat yang Disalahkan!

September 26, 2025
Kejaksaan Agung meminta Pemerintah Kota Surabaya menyerahkan data sekolah penerima bantuan Chromebook era Mendikbudristek
Pemerintah

Eri Cahyadi Tolak Chromebook Nadiem, Partai X: Rakyat Butuh Pendidikan, Bukan Proyek!

September 18, 2025
Show More
  • Berita Lain:
  • Berita Trending
  • Pilihan Editor
  • Renewable Energy
  • Hot
  • Politics
  • Yudizaman
  • Hotel Ayani
  • CV Hotel Wisata
Logo Berita X

Membaca Masalah, Menyajikan Solusi untuk Negeri: Sajian berita terbaru hari ini seputar politik,
hukum, kriminal, olahraga, otomotif, hingga teknologi, di Indonesia dan dunia.

Youtube Instagram X-twitter

Tentang Legalitas

Nama : PT PENERBITX INDONESIA JAYA
Nomor AHU : AHU-010653.AH.01.30.Tahun 2025
Alamat :  Muara Sarana Indah C- Jetis, Malang , Jawa Timur 
Contact Person  : 0816-633-250

  • Beriklan dengan kami
  • Privacy Policy
  • Cookie Policy
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.