CAPELLE AAN DEN IJSSEL, BELANDA – Transformasi menuju negara maju menuntut perpaduan antara ketangguhan filosofi kepemimpinan, kekuatan jaringan ekonomi diaspora, dan penguasaan teknologi tata kelola masa depan. Ketiga elemen penting tersebut bertemu dalam satu forum diskusi yang hangat saat delegasi Sekolah Negarawan bersilaturahmi dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia di Belanda (ASPINA) di Koerillen, Capelle aan den IJssel, Belanda.
Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Ketua ASPINA, Wakil Ketua ASPINA, dan para anggota asosiasi tersebut, delegasi Sekolah Negarawan yang digawangi oleh Prayogi R. Saputra (Direktur), Rinto Setiyawan (Wakil Direktur), serta Erick Karya (CEO Enygma) memaparkan hasil pembacaan strategis mereka terhadap lanskap kepemimpinan dan teknologi pemerintahan di Eropa. Turut hadir pula dalam diskusi tersebut Rektor International Institute of Social Studies (ISS Den Haag), Universitas Rotterdam, Prof. Ruard Ganzevoort.
Mengambil tempat di halaman belakang dengan format acara barbeque yang santai, diskusi justru mengalir sangat produktif. Suasana informal tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran gagasan dua arah yang jujur mengenai bagaimana standar tata kelola di negara-negara maju Eropa dapat diadaptasi secara kontekstual bagi kebutuhan pembangunan nasional Indonesia.
Salah satu agenda utama yang dipresentasikan dalam pertemuan tersebut adalah pengenalan Enygma sebagai backbone tata kelola pemerintahan berbasis Artificial Intelligence (AI) yang diintrodusir oleh Sekolah Negarawan. CEO Enygma, Erick Karya, menerangkan bahwa sistem ini dirancang untuk menjadi infrastruktur kecerdasan buatan yang mendukung efektivitas kebijakan publik, pengelolaan sumber daya negara, hingga transparansi layanan masyarakat.

Prayogi R. Saputra menegaskan bahwa kehadiran Enygma sebagai tulang punggung teknologi merupakan instrumen penting untuk menerjemahkan gagasan kenegarawanan ke dalam praktik birokrasi modern. Dalam pandangannya, seorang negarawan di era disrupsi digital harus ditopang oleh sistem pengambil keputusan berbasis data dan AI yang berdaulat, sehingga kebijakan yang lahir benar-benar berdampak pada kesejahteraan rakyat.
Perspektif tersebut mendapat respons positif dari Prof. Ruard Ganzevoort maupun jajaran pimpinan ASPINA. Sebagai akademisi yang memimpin ISS Den Haag di bawah naungan Universitas Rotterdam, Prof. Ganzevoort menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan keadilan sosial, sementara para pengusaha ASPINA melihat potensi besar penerapan teknologi ini dalam mempermudah integrasi potensi ekonomi daerah di Indonesia dengan pasar Eropa.
Lebih jauh, Rinto Setiyawan menjelaskan bahwa konsep tata kelola berbasis AI yang dibawa Sekolah Negarawan juga terus diuji dan disandingkan dengan praktik terbaik (best practices) dari negara-negara yang dikunjungi dalam ekspedisi Eropa kali ini. Selain berdialog di Perancis, Belgia, Belanda, dan Jerman, delegasi Sekolah Negarawan secara khusus mempelajari rahasia Finlandia di kawasan Nordik sebagai negara paling bahagia di dunia dengan sistem pendidikan terbaik, serta meneliti langsung arsitektur pemerintahan digital di Estonia negara eks-Uni Soviet paling kaya yang menjadi rujukan dunia dalam tata kelola pemerintahan berbasis IT.
Pertemuan di Capelle aan den IJssel ini menegaskan posisi Sekolah Negarawan sebagai jembatan yang menghubungkan pusat-pusat keunggulan global dengan pemangku kepentingan Indonesia. Kolaborasi gagasan bersama ASPINA dan akademisi Belanda tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi terwujudnya ekosistem tata kelola Indonesia yang cerdas, berdikari, dan berkelas dunia.



