TEHERAN – Bagaimana sebuah negara memadukan rekayasa struktur baja mutakhir dengan warisan filosofi arsitektur berusia ratusan tahun menjadi fokus pengamatan delegasi Sekolah Negarawan saat mengunjungi Jembatan Tabiat di Teheran, Iran. Di atas jembatan pejalan kaki terbesar di Iran ini, tim peneliti menyaksikan secara langsung bagaimana desain ruang publik mampu menyatukan manusia dengan alam di tengah kepadatan kota metropolitan.
Hadir dalam peninjauan lapangan tersebut Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan dan tim. Dari lantai teratas jembatan yang bermandikan tata cahaya artistik, delegasi mengamati bagaimana struktur ini menjembatani dua kawasan taman besar yang sebelumnya terpisah oleh jalan raya utama Shahid Modares, yakni Taman Taleghani dan Taman Abo-Atash.
Delegasi Sekolah Negarawan menyoroti kecanggihan rekayasa teknik yang diterapkan oleh perancang jembatan ini, Leila Araghian (bersama Alireza Behzadi / Diba Tensile Architecture). Dirancang ketika Leila baru berusia 26 tahun, struktur sepanjang 270 meter ini menggunakan sekitar 2.000 ton baja yang dirangkai menjadi kurva geometris tiga dimensi tanpa satu pun sudut yang kaku, sehingga menyerupai pahatan seni raksasa yang melayang di udara.

Keunikan paling menonjol dari Jembatan Tabiat terletak pada tiga pilar penyangganya yang didesain menyerupai batang pohon bercabang (tree-like columns), lengkap dengan struktur dek tiga tingkat (multi-level) yang mengalir dinamis. Desain karya arsitek perempuan muda Iran yang berhasil memenangkan Architizer A+ Awards dan Aga Khan Award ini memungkinkan pengunjung untuk berpindah antar-lantai melalui jalur landai (ramp) yang berkesinambungan tanpa merasa lelah.
Direktur Sekolah Negarawan, Prayogi R. Saputra, menggarisbawahi bahwa kehebatan Jembatan Tabiat tidak berhenti pada aspek teknisnya, melainkan pada kesadaran sejarah yang melandasinya. Leila Araghian secara cerdas menghidupkan kembali fungsi sosial jembatan-jembatan kuno Persia seperti Jembatan Khaju di Isfahan, dengan mengubah fungsi jembatan dari sekadar jalur pelintasan cepat menjadi ruang kontemplasi, tempat duduk bersantai, dan ruang perjumpaan warga.
Dalam perspektif Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Rinto Setiyawan, kemampuan bangsa Iran mempertahankan identitas kulturalnya di tengah modernisasi infrastruktur adalah pelajaran berharga bagi Indonesia. Hal ini sejalan dengan fondasi kurikulum Sekolah Negarawan sebagai lembaga riset dan pendidikan yang menjadikan pemikiran kenegaraan serta kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sebagai pilar utamanya—bahwa modernitas tidak boleh mencerabut suatu bangsa dari akar sejarah dan nilai-nilai spiritualitasnya.
Delegasi ini menambahkan bahwa suasana teduh dan akrab yang tercipta di sepanjang Jembatan Tabiat membuktikan bahwa arsitektur memiliki bahasa tersendiri dalam mendidik masyarakat. Ketika ruang publik dirancang dengan penuh cinta, estetika, dan penghormatan terhadap pohon-pohon di sekitarnya, masyarakat yang menggunakannya pun terdorong untuk bersikap santun, tertib, dan saling menghargai.
Catatan riset dari atas Jembatan Tabiat Teheran ini melengkapi dokumentasi perjalanan dua tahun Sekolah Negarawan yang telah menelusuri jejak pemikiran dan diplomasi budaya Cak Nun di 12 negara, mulai dari Eropa Barat (Persncis, Belgia, Belanda, Jerman), Nordik (Finlandia), bekas Uni Soviet (Estonia), Turkiye, Negara-negara Teluk, Persia (Iran), hingga Asia Tenggara. Hasil pembacaan lintas peradaban ini juga terus didiseminasikan di dalam negeri melalui berbagai forum dari Medan di wilayah barat hingga Ternate dan Tidore di kawasan timur Nusantara.



