TEHERAN – Banyak narasi global yang kerap memandang Republik Islam Iran secara sempit melalui kacamata konflik geopolitik semata. Namun, melalui kunjungan riset lapangan Sekolah Negarawan ke Jembatan Tabiat (Pol-e Tabiat) di Teheran, tersingkap sebuah wajah peradaban Persia kontemporer yang sangat maju dalam rekayasa arsitektur, ramah terhadap pejalan kaki, serta progresif dalam memberikan panggung bagi karya perempuan muda.
Tim ekspedisi Sekolah Negarawan yang terdiri dari Direktur Prayogi R. Saputra, Wakil Direktur Rinto Setiyawan, melakukan pengamatan langsung terhadap struktur jembatan tiga dimensi yang membentang anggun di atas Jalan Raya Shahid Modares tersebut. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya mendokumentasikan praktik-praktik terbaik ketatanegaraan dan tata kota di berbagai belahan dunia.
Sorotan utama tim riset Sekolah Negarawan tertuju pada sosok perancang di balik kemegahan Jembatan Tabiat, yakni Leila Araghian. Arsitek perempuan kelahiran Teheran ini memenangkan kompetisi desain jembatan tersebut pada tahun 2009 ketika usianya baru 26 tahun. Bersama Alireza Behzadi dalam naungan Diba Tensile Architecture, Leila berhasil mewujudkan visi arsitekturnya menjadi sebuah monumen hidup yang dibuka untuk publik pada tahun 2014.

Prayogi R. Saputra menegaskan bahwa kisah di balik pembangunan Jembatan Tabiat adalah bukti empiris betapa pentingnya melihat sebuah bangsa secara langsung tanpa perantara bias informasi pihak ketiga. Kepercayaan pemerintah kota Teheran dalam menyerahkan proyek infrastruktur raksasa kepada arsitek perempuan berusia 26 tahun hingga karyanya menyabet penghargaan dunia Aga Khan Award for Architecture (2016) menunjukkan vitalitas intelektual masyarakat Iran yang sesungguhnya.
Secara arsitektural, Jembatan Tabiat memiliki keunikan struktur yang sangat kompleks namun tampak organik. Jembatan sepanjang 270 meter ini ditopang oleh tiga tiang raksasa berbentuk menyerupai pohon yang menopang rangka ruang (space frame) dari baja tubular. Rangka baja tersebut membentuk lorong-lorong melengkung dalam tiga lantai yang menghubungkan Taman Taleghani dan Taman Abo-Atash tanpa merusak ekosistem pohon-pohon alami di kedua bukit tersebut.
Rinto Setiyawan menjelaskan bahwa Leila Araghian mengambil inspirasi filosofis dari jembatan-jembatan bersejarah era Dinasti Safawiyah di Isfahan, seperti Jembatan Khaju dan Si-o-se-pol. Dalam tradisi Persia klasik, jembatan bukan sekadar sarana penyeberangan di atas sungai atau lembah, melainkan ruang sosial tempat masyarakat berkumpul, berdiskusi, dan merayakan kehidupan bersama.
Pendekatan arsitektur yang berpusat pada martabat manusia inilah yang dinilai oleh Cak Dil dan Erick Karya sangat selaras dengan fokus kajian Sekolah Negarawan. Sebagai lembaga riset dan pendidikan yang menempatkan pemikiran kenegaraan dan kebangsaan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) sebagai pilar utama kurikulumnya, Sekolah Negarawan memandang bahwa kemajuan teknologi dan rekayasa sipil harus selalu mengabdi pada kedaulatan batin serta kesejahteraan sosial rakyat.
Kunjungan ke Teheran ini menjadi salah satu simpul penting dari total 12 negara yang telah dikunjungi Sekolah Negarawan selama dua tahun terakhir dalam misi napak tilas jejak Cak Nun: meliputi Eropa Barat (Perancis, Belgia, Belanda, dan Jerman), kawasan Nordik (Finlandia), eks-Uni Soviet (Estonia), Turkiye, negara-negara Teluk, Persia (Iran), dan Asia Tenggara. Berbagai pelajaran berharga dari ekspedisi lintas benua ini terus disebarluaskan oleh Sekolah Negarawan di dalam negeri, menjangkau masyarakat luas dari Medan di Sumatera Utara hingga Ternate dan Tidore di Maluku Utara



