DEN HAAG — Bagi banyak kalangan di Indonesia, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) lebih dikenal sebagai sosok budayawan panggung, penyair, dan penggerak massa akar rumput. Namun, di balik riuhnya pelataran Maiyah, tersimpan sebuah babak sejarah intelektual bertaraf internasional yang pernah diukir Cak Nun di Den Haag, Belanda. Misi mengungkap kembali kepingan sejarah inilah yang membawa delegasi Sekolah Negarawan mendatangi Institute of International Studies (ISS), Universitas Erasmus Rotterdam.
Dipimpin oleh Direktur Prayogi R. Saputra yang selama ini memang memberikan perhatian khusus pada penelitian historis dan biografis Cak Nun beserta komunitasnya kunjungan ini menjadi sebuah upaya sistematis untuk merekonstruksi pemikiran sang tokoh. Bersama Wakil Direktur Rinto Setiyawan, Prayogi memimpin tim memasuki perpustakaan ISS, mencari dokumen-dokumen otentik peninggalan masa fellowship Cak Nun pada rentang tahun 1984-1985.

Kehadiran Cak Nun di institusi ini pada era tersebut merupakan sebuah anomali yang membanggakan. Sebagai seorang seniman dan pemikir jalanan, ia justru didaulat untuk mentransfer wawasannya kepada para mahasiswa program Master di ISS. Fakta ini membuktikan bahwa paradigma pemikiran yang otentik dan membumi memiliki daya tembus yang kuat, bahkan di tengah ketatnya tradisi akademik Barat.
Dalam proses penelusuran literatur tersebut, Sekolah Negarawan turut didampingi oleh Imam Syafiih Kamil, Head of Representative Chapter Eropa, serta Una, seorang kandidat Doktor dari Universitas Leiden. Keterlibatan Una memberikan perspektif akademik yang tajam dalam membedah tata letak kearsipan Belanda, sehingga tim dapat menelusuri rak-rak perpustakaan peninggalan era 80-an dengan lebih terarah.
Fokus utama dari pencarian ini bermuara pada konteks di balik penulisan buku Dari Pojok Sejarah. Karya yang berisi korespondensi intim antara Cak Nun dengan adiknya, Cak Dil (Adil Amrullah), tersebut diyakini menyimpan peta pemikiran sosiologis Cak Nun tentang Eropa dan Indonesia. CEO Enygma Solusi Negeri, Erick Karya, yang turut serta dalam rombongan, melihat nilai strategis dari arsip-arsip tersebut. Dari kacamata teknologi, Erick menilai bahwa jejak literatur semacam ini membutuhkan sistem digitalisasi kearsipan yang mumpuni agar warisan intelektual bangsa tidak lapuk dimakan usia.
Langkah Sekolah Negarawan menelusuri jejak intelektual Cak Nun di ISS Den Haag memberikan pesan yang sangat kuat. Bahwa untuk mencetak pemimpin-pemimpin masa depan yang tangguh, kita tidak hanya membutuhkan kurikulum politik dan ekonomi modern, melainkan juga fondasi kultural dan sejarah tokoh bangsa yang telah lebih dulu membuktikan kapasitasnya di mata dunia.



