DEN HAAG — Seorang pemimpin yang baik adalah ia yang tidak gagap menghadapi hal-hal yang tidak biasa. Filosofi inilah yang rasanya paling tepat menggambarkan esensi kunjungan delegasi Sekolah Negarawan ke Mescidi-Aksa Moskee di Den Haag. Di luar dugaan, pembelajaran kepemimpinan justru datang dari sebuah fasilitas sederhana: tempat wudu.
Ketika Direktur Sekolah Negarawan Prayogi R. Saputra, beserta Rinto Setiyawan, Ahmad Syafii Kamil, dan Erick Karya memasuki area bersuci masjid tersebut, mereka dihadapkan pada tradisi yang berbeda dengan kebiasaan di Indonesia. Tradisi bermazhab Hanafi yang dianut komunitas Turki mendesain tempat wudu dengan fasilitas duduk khusus, menuntut delegasi untuk beradaptasi dengan tata cara yang baru.

Pengalaman ini mungkin terdengar sepele, tetapi secara strategis, ia menyimpan makna yang sangat dalam bagi sebuah lembaga pencetak pemimpin. Fleksibilitas dalam menerima tradisi yang berbeda—selama tidak melanggar prinsip dasar—adalah kompetensi inti (core competence) yang mutlak harus dimiliki oleh para negarawan di era globalisasi.
Banyak pemimpin gagal bukan karena mereka tidak pintar, melainkan karena mereka terlalu kaku memaksakan standar lokalnya (dalam hal ini kebiasaan mazhab Syafii) ke dalam konteks yang lebih luas. Melalui pengalaman langsung di Mescidi-Aksa, Sekolah Negarawan mengajarkan bahwa kebijaksanaan lahir dari kemauan untuk melihat dunia dari kacamata orang lain.
Selain itu, pengelolaan masjid yang diinisiasi oleh komunitas diaspora Turki ini menunjukkan kekuatan modal sosial (social capital). Mereka mampu membangun pusat kebudayaan dan spiritual yang dihormati di tengah masyarakat Eropa. Ini adalah bukti bahwa solidaritas komunitas bisa melampaui batasan geografis.
Oleh karena itu, kunjungan Sekolah Negarawan ke masjid ini memberikan dua pelajaran strategis sekaligus. Pertama, adaptabilitas terhadap keberagaman tradisi; dan kedua, pentingnya kemandirian komunitas dalam membangun institusi yang bermartabat di dunia internasional.



